Gambar-gambar yang beredar luas di media sosial, menunjukkan kontras mencolok antara laut biru jernih dan pulau-pulau hijau Raja Ampat dengan area lahan merah kecoklatan yang telah digunduli, mengindikasikan aktivitas penambangan. Visual ini memperkuat kekhawatiran lingkungan yang diungkapkan oleh Susi Pudjiastuti dan berbagai organisasi lingkungan.
Raja Ampat dikenal di seluruh dunia sebagai surga bawah laut dengan ekosistem laut yang luar biasa, rumah bagi berbagai jenis terumbu karang, hutan bakau, dan biota laut yang melimpah. Warisan alam ini tidak hanya penting secara ekologis tetapi juga menopang mata pencaharian ribuan nelayan lokal dan masyarakat yang bergantung pada pariwisata berkelanjutan.
Susi Pudjiastuti, yang dikenal sebagai pembela lingkungan yang gigih, menyatakan keprihatinan mendalam atas potensi kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas ini.
Ia menekankan dampak buruk terhadap habitat penting seperti hutan bakau dan terumbu karang, yang vital bagi kehidupan laut dan perlindungan pesisir. Lebih lanjut, ekspansi ini juga mengancam stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan nelayan setempat.
Melalui cuitan di Twitter, Susi Pudjiastuti secara langsung memohon kepada Presiden Prabowo untuk segera menghentikan kegiatan-kegiatan yang merusak ini. Seruannya menyoroti urgensi situasi dan perlunya kebijakan lingkungan yang kuat untuk menjaga kekayaan alam Indonesia.
Ekspansi penambangan nikel didorong oleh peningkatan permintaan global akan logam tersebut, terutama untuk baterai kendaraan listrik. Meskipun pembangunan ekonomi penting, para pegiat lingkungan dan masyarakat yang peduli berpendapat bahwa hal itu tidak boleh mengorbankan aset alam yang tak tergantikan.
Situasi di Raja Ampat menjadi pengingat kritis akan keseimbangan rapuh antara pertumbuhan industri dan pelestarian lingkungan.
Seiring dengan semakin kuatnya seruan dari mantan Menteri Susi Pudjiastuti, perhatian kini tertuju pada pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah tegas demi melindungi salah satu kawasan laut paling beranekaragam hayati di dunia.
Editor : Siti Aeny Maryam