Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Hari Raya Kurban, Raja Ampat Dikorbankan: Ketika Oligarki Diutamakan dari Alam dan Rakyat

Hamdani Wathoni • Jumat, 6 Juni 2025 | 20:33 WIB
SURGA TERAKHIR: Wisata Raja Ampat Papua Barat kini menjadi perbincangan hangat akibat adanya aktivitas pertambangan nikel di sekitar kawasan ini.
SURGA TERAKHIR: Wisata Raja Ampat Papua Barat kini menjadi perbincangan hangat akibat adanya aktivitas pertambangan nikel di sekitar kawasan ini.

LombokPost – Saat umat Islam di seluruh dunia memperingati Hari Raya Kurban atau Idul Adha 2025, mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim yang rela menyerahkan putranya demi ketaatan kepada Tuhan, justru ada ironi yang menyayat hati di ujung timur Indonesia. Di tengah gema takbir dan semangat berkurban, Raja Ampat—permata alam Indonesia—terkesan tengah dikorbankan oleh elit negeri demi kepentingan oligarki.

Raja Ampat, yang dikenal dunia karena kekayaan hayati bawah lautnya, karang terbaik di dunia, dan gugusan pulau eksotisnya, kini terancam oleh berbagai proyek investasi yang minim kajian lingkungan. Pembangunan besar-besaran mulai masuk ke kawasan ini, membuka jalan untuk industri yang berisiko tinggi merusak ekosistem laut dan darat di kawasan tersebut.

Sementara rakyat mempersembahkan hewan kurban sebagai wujud pengabdian, sejumlah pejabat dan elit negeri justru ‘mengurbankan’ Raja Ampat—atas nama pertumbuhan ekonomi yang justru dinikmati segelintir pihak.

Raja Ampat Dikorbankan, Oligarki Diberi Ruang

Kebijakan yang memberi karpet merah bagi para investor dengan kepentingan industri pariwisata eksklusif, tambang, dan properti, diduga kuat tak mempertimbangkan prinsip keberlanjutan. Sejumlah izin pembangunan resort di kawasan konservasi hingga pembukaan jalan di habitat sensitif menjadi sinyal bahwa Raja Ampat kian tersingkir oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.

Warga lokal pun khawatir bahwa sumber kehidupan mereka—laut dan hutan—akan terganggu. Mereka tidak menolak kemajuan, namun mendambakan kebijakan yang adil, berbasis budaya dan ekologis.

“Kalau pembangunan tidak berpihak pada alam dan masyarakat adat, itu bukan kemajuan. Itu perampasan,” ungkap salah satu tokoh masyarakat adat Misool.

Idul Adha dan Makna Pengorbanan yang Terbalik

Semangat Idul Adha sejatinya mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan demi kebenaran, dan penghormatan terhadap amanah. Tapi saat ini, makna itu justru dibalik oleh kekuasaan. Raja Ampat dikorbankan bukan demi Tuhan atau rakyat, melainkan demi bisnis dan kekayaan segelintir elit.

Para pengambil kebijakan yang seharusnya melindungi kekayaan alam justru terlihat permisif terhadap eksploitasi. Di saat masyarakat membagikan daging kurban sebagai bentuk solidaritas sosial, pejabat negeri malah membagikan wilayah konservasi kepada korporasi.

Tuntutan: Lindungi Raja Ampat dari Rakusnya Oligarki

Pakar lingkungan dan aktivis mendesak pemerintah untuk menghentikan segala bentuk aktivitas pembangunan di Raja Ampat yang tidak berbasis analisis dampak lingkungan (AMDAL) komprehensif dan partisipatif. Mereka juga meminta penguatan peran masyarakat adat dalam menjaga tanah dan laut leluhur mereka.

Momentum Idul Adha tahun ini semestinya menjadi refleksi nasional: Siapa yang sebenarnya dikorbankan? Dan untuk siapa?

Dengan potensi Raja Ampat sebagai surga ekowisata dunia, Indonesia seharusnya melindunginya dengan sepenuh hati, bukan mengurbankannya di altar oligarki. Jangan sampai sejarah mencatat bahwa di Hari Raya Kurban, justru pemerintah yang gagal menjaga amanahnya terhadap bumi pertiwi.

Editor : Prihadi Zoldic
#prabowo #wonderful indonesia #Papua #SaveRajaAmpat #Nikel #Pariwisata