Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Beberapa Negara Bukan Krisis Lapangan Kerja, Tapi Krisis Tenaga Kerja

Sanchia Vaneka • Minggu, 8 Juni 2025 | 07:50 WIB

 

PEKERJA
PEKERJA
LombokPost – Dunia usaha di seluruh belahan dunia kini menghadapi tantangan serius: krisis talenta yang semakin meluas. Hasil survei 2025 Global Talent Shortage yang dirilis oleh ManpowerGroup pada Januari 2025 menunjukkan angka yang mengkhawatirkan.

Dari 40.413 pengusaha di 42 negara yang diwawancarai pada Oktober 2024, 74% di antaranya kesulitan menemukan tenaga terampil yang mereka butuhkan.

Tren ini bukanlah hal baru. Data ManpowerGroup mengungkapkan bahwa kesulitan mencari pekerja terampil telah menunjukkan peningkatan signifikan selama sepuluh tahun terakhir, menandakan adanya kesenjangan keterampilan yang terus melebar antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga kerja.

Survei ini juga merinci daftar negara-negara yang paling parah dilanda kekurangan pekerja. Jerman menempati posisi teratas dengan 86% pengusaha kesulitan merekrut.

Diikuti oleh Israel (85%), Portugal (84%), Irlandia (83%), dan Rumania (83%). Singapura, sebagai salah satu pusat ekonomi di Asia Tenggara, juga menghadapi tantangan serupa dengan 83% pengusaha melaporkan kesulitan.

Selain itu, negara-negara maju lainnya seperti Australia (76%), Kanada (77%), Jepang (77%), Italia (78%), Prancis (76%), Belanda (76%), Swedia (76%), dan Swiss (76%) juga mengalami kesulitan signifikan dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil. Data ini menunjukkan bahwa krisis talenta merupakan masalah global yang tidak hanya terbatas pada negara berkembang.

Baca Juga: Hari Buruh Internasional Mengenang Perjuangan dan Menguatkan Komitmen Kesejahteraan Pekerja

Dalam daftar negara yang kekurangan pekerja, tren global ini tentu memiliki implikasi bagi pasar tenaga kerja di tanah air. Kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki pencari kerja dan yang dibutuhkan industri menjadi krusial.

Pemerintah, lembaga pendidikan, dan industri perlu bersinergi untuk mengatasi tantangan ini. Program pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling) menjadi sangat penting untuk menyiapkan tenaga kerja yang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini dan di masa depan.

Krisis talenta ini tidak hanya menghambat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dapat memicu kompetisi global yang ketat dalam memperebutkan sumber daya manusia berkualitas.

Editor : Siti Aeny Maryam
#pengangguran #lapangan pekerjaan #survei #Pekerja