Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cadangan Devisa RI Stagnan, Bank Indonesia Siaga Hadapi Gejolak Global

Rury Anjas Andita • Rabu, 11 Juni 2025 | 09:45 WIB
Pelanggan menukarkan mata uang asing di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, beberapa waktu lalu. Cadev bertahan di tengah aksi pembayaran utang dan langkah-langkah stabilisasi rupiah.
Pelanggan menukarkan mata uang asing di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, beberapa waktu lalu. Cadev bertahan di tengah aksi pembayaran utang dan langkah-langkah stabilisasi rupiah.

LombokPost – Cadangan devisa Indonesia masih stagnan di angka USD 152,5 miliar per akhir Mei 2025.

Bank Indonesia (BI) mencatat, jumlah itu sama persis dengan posisi pada akhir April 2025, di tengah dinamika global dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Stagnannya cadangan devisa disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk penerimaan pajak, jasa, dan devisa dari sektor migas, serta pengaruh kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh bank sentral.

“Cadangan devisa Indonesia tetap kuat dan memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, Selasa (10/6).

Bank Indonesia menilai posisi cadangan devisa masih sehat, sejalan dengan prospek ekspor yang stabil, surplus transaksi modal dan finansial, serta persepsi positif investor terhadap ekonomi Indonesia.

Namun, Bank Indonesia tetap waspada terhadap risiko global, khususnya ketidakpastian kebijakan tarif dari Presiden AS Donald Trump, yang dinilai bisa menghambat arus masuk modal asing ke pasar emerging market termasuk Indonesia.

Tekanan Eksternal Masih Ada

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa cadangan devisa Indonesia masih solid di tengah ketidakpastian global. Meski perang dagang sedikit mereda, pendekatan proteksionis AS masih menjadi tantangan serius.

“Kebijakan tarif Presiden Trump bisa menambah tekanan inflasi di AS dan memicu dilema kebijakan bagi The Fed. Ini bisa berdampak pada minat investor terhadap aset berisiko seperti di emerging market,” jelas Josua.

Kondisi tersebut diperparah dengan ekonomi Tiongkok yang stagnan, mendorong investor global untuk lebih memilih aset safe haven dibanding pasar negara berkembang.

devisaBaca Juga: Omzet Miliaran Rupiah, LSF 2025 Sukses Dongkrak Perekonomian Kota Mataram

Meski demikian, langkah pemerintah Indonesia melalui kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) dinilai mampu menahan dampak negatif dari melambatnya arus modal.

Josua memperkirakan cadangan devisa Indonesia bisa naik ke kisaran USD 153–157 miliar hingga akhir 2025, dengan kurs rupiah diperkirakan berada di level Rp16.100–Rp16.400 per dolar AS.

“Dengan pengelolaan yang hati-hati dan dukungan kebijakan yang tepat, posisi cadangan devisa Indonesia masih cukup kokoh di tengah tekanan global,” pungkas Josua.

Editor : Rury Anjas Andita
#Bank Indonesia #cadangan #devisa #Gejolak Global