LombokPost - Pemerintah belum berencana mengevakuasi WNI yang berada di Iran dan Israel.
Upaya transfer baru berjalan bila konflik dua negara tersebut masuk status siaga satu.
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menyebut, ada 580 WNI di dua negara itu. Perinciannya, 386 WNI di wilayah Iran.
Baca Juga: Kim Jong Un Ngamuk! Korea Utara Ancam Serang Israel, Siap Bantu Iran Hadapi AS
Mereka berada di Kota Qom sebagai pelajar dan pelajar. Selebihnya, 194 WNI di Israel. Sebagian besar adalah peserta magang pendidikan di Kota Arafat, Israel bagian selatan.
Direktur Perlindungan WNI Kemenlu Judha Nugraha memastikan, tidak ada WNI yang menjadi korban dalam konflik tersebut.
Meski sebelumnya, ada beberapa WNI yang tengah melakukan perjalanan singkat ke beberapa negara itu sempat terdampar atau terdampar karena wilayah udaranya ditutup.
Baca Juga: Ronaldo Kirim Jersey Perdamaian ke Donald Trump di Tengah Konflik Israel-Iran
Contohnya, 42 peziarah WNI yang berada di Yerusalem. Awalnya, mereka harus keluar Israel melalui bandara Ben Gurion, Israel.
”Karena ruang udaranya ditutup, KBRI Amman membantu bergerak melalui jalur darat menuju ke Yordania hingga akhirnya kembali ke Indonesia pada Selasa (17/6),” ucapnya Rabu (18/6).
Ada pula delapan jamaah haji WNI yang berasal dari Inggris, yang juga terdampar di Amman. Mereka telah dibantu untuk kembali ke Inggris.
Lalu, dua peziarah WNI di Kota Qom, Iran. Semula, keduanya dijadwalkan kembali pulang melalui Bandara Internasional Teheran. Namun karena tertutup, maka KBRI Teheran membantu mereka keluar melalui jalan darat menuju Pakistan.
Menurut Judha, meski belum ada upaya penyelamatan, Kemenlu dan KBRI Teheran sudah menyusun rencana kontingensi.
Rencana itu sudah disusun sejak tahun lalu untuk mengantisipasi naiknya eskalasi konflik dua negara itu menjadi siaga dua.
”Kami terus memantau dari dekat kemungkinan terjadinya eskalasi lebih lanjut,” ujarnya.
Baca Juga: Rumah Sakit Diserang, Iran Tuding Israel Melakukan Kejahatan Perang
Pada Selasa malam, kata Judha, Kemenlu bersama KBRI Teheran juga telah menggelar town hall meeting atau pertemuan dengan para WNI di Iran.
Dalam pertemuan secara virtual itu, pemerintah menyampaikan langkah-langkah kontingensi yang telah disiapkan oleh KBRI Teheran dan pemerintah pusat.
Selain itu, pemerintah kembali mengingatkan agar WNI selalu waspada dan menghindari keluar rumah untuk keperluan yang tidak penting.
Mereka diimbau segera menghubungi hotline dari KBRI Amman maupun KBRI Teheran jika berada dalam kondisi darurat. Judha meminta, agar WNI terus memantau perkembangan situasi.
”Karena jika terjadi eskalasi, kami akan menaikkan statusnya menjadi siaga satu dan kemudian akan melakukan proses evakuasi,” jelasnya.
Bagi WNI yang memiliki rencana perjalanan ke Iran, Israel, Suriah, Lebanon, dan Yaman, disarankan untuk menunda perjalanannya.
Baca Juga: Ayatollah Khamenei, Imam Perlawanan: Ulama Tua Iran yang Tak Pernah Mundur dari Israel
”Karena di negara-negara tersebut, perwakilan RI telah menetapkan status siaga,” paparnya.
Kemudian, bagi WNI yang memiliki rencana penerbangan melewati wilayah Timur Tengah, diharapkan selalu memeriksa jadwal keberangkatan terakhir ke maskapai masing-masing.
Itu guna mengantisipasi buka tutup wilayah udara yang dapat mengganggu jadwal penerbangan.
Duta Besar RI untuk Iran Rolliansyah Soemirat mengungkapkan, saat ini para staf KBRI Teheran terus melakukan berbagai upaya untuk menyatukan situasi para WNI yang tersebar di berbagai kota di Iran.
Dia mengakui, belum banyak informasi yang dapat disampaikan karena kondisi di sana memang kurang kondusif.
Namun, dia memastikan, KBRI Teheran akan terus berkoordinasi dengan Kemenlu untuk menyampaikan berbagai macam perkembangan, baik itu mengenai situasi konflik di lapangan, kondisi WNI di Iran, ataupun isu-isu lainnya.
Baca Juga: Apa itu Unit 8200 Israel? Unit Intelijen Rahasia Zionis yang Markasnya Dihancurkan Iran
Ultimatum Iran
Iran gerah melihat Amerika Serikat (AS) ikut campur dalam konflik dengan Israel.
Menurut Iran, bila ada intervensi dari AS, maka konflik akan terus berlanjut.
Dilaporkan dari Al Jazeera Rabu (18/6) waktu setempat, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengultimatum agar AS tidak ikut dalam konflik yang sudah berlangsung enam hari itu.
”Setiap intervensi AS akan menjadi alasan untuk perang habis-habisan di wilayah tersebut,” katanya.
Dia menambahkan, negara Arab juga menyadari bahwa Israel berusaha menarik negara lain dalam perang tersebut.
”Kami yakin negara-negara Arab kami yang menjadi tuan rumah pangkalan AS tidak akan mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk melawan tetangga Muslim mereka,” imbuhnya.
Amerika diketahui telah mengirimkan lebih banyak pesawat tempur ke wilayah konflik.
Selain itu, Kapal Induk USS Nimitz juga diluncurkan.
Padahal sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menginginkan sesuatu yang lebih besar dari gencatan senjata.
Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamanei juga diperingatkan AS untuk tidak terlibat dalam peperangan itu.
”Iran tidak pernah menyerah dan AS akan mengalami kerusakan yang tidak dapat diperbaiki jika campur tangan,” ucapnya.
Namun, pada Selasa (17/8) lalu, Trump menuntut Israel untuk menyerah tanpa syarat. Dia juga menyatakan bahwa negaranya dapat dengan mudah membunuh Ali Khamenei.
"Kami tahu bertahan di mana apa yang disebut pemimpin tertinggi persembunyian. Dia adalah target yang mudah, tetapi aman di sana. Kami tidak akan membawanya keluar (membunuh!), setidaknya tidak untuk saat ini," tulis Trump di platform Truth Socialnya.
Rabu, Iran kembali mengancam Tel Aviv. Mereka meminta warga Tel Aviv untuk bersiap menerima serangan. Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) mengklaim rudal hipersonik Fattah-1 telah mengguncang pusat perlindungan Israel pada Selasa malam.
Pada hari yang sama, militer Israel mengklaim telah menyerang lokasi pembuatan senjata di Teheran. Pernyataan itu diposting melalui Telegram.
Mereka menyatakan serangan itu merupakan bagian dari upaya ekstensif untuk merusak program pengembangan senjata nuklir Iran. (mia/lyn/aph/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida