Namun bagi relawan Abdul Haris Agam atau akrab disapa Agam Rinjani yang ikut dalam tim penyelamat masih merasakan penyesalan yang mendalam karena tidak bisa menyelamatkan Juliana Marins dalam keadaan hidup.
Pasalnya, saat jatuh pertama, Juliana Marins terlihat dalam camera drone masih dalam keadaan hidup.
Namun sayangnya saat tragedi Juliana Marins jatuh dari Gunung Rinjani, Sabtu (21/6/2025), Agam tengah berada di Jakarta.
Penyesalan itu diungkapkan Agam dalam kanal YouTube Curhat Bang Denny Sumargo yang diunggah, Senin (1/7/2025).
"Sedihku, kenapa saya ke Jakarta, padahal harusnya saya ada di sana. Menyesal saya ada di Jakarta waktu itu," kata Adam Rinjani.
Jika Adam ada diseputaran Gunung Rinjani saat itu, maka dia tak butuh waktu lama untuk mengevakuasi Juliana Marins.
"Seandainya saya ada disana, dia (Juliana Marins) pasti masih hidup," ucap lirih Adam Rinjani.
Kepada Denny Sumargo, Agam Rinjani menceritakan jika sebenarnya dia sudah memiliki firasat ingin segera pulang ke Lombok.
Tapi saat itu Agam Rinjani masih harus bertemu dengan teman-temannya yang berada di Jakarta dan Bogor, Jawa Barat.
"Sudah ada memang kayak tanda-tanda, harus pulang, tapi masih main saya di Jakarta ketemu teman-teman," aku Agam Rinjani.
Kendati demikian, Agam Rinjani terus memantau perkembangan evakuasi Juliana Marins melalui teman-temannya yang turun di Rinjani.
"Pantau terus, belum juga ketemu, hari kedua," ungkap Agam Rinjani.
Kemudian di hari ketiga jatuhnya Juliana Marins, Agam memutuskan untuk pulang ke Lombok dan membantu proses evakuasi.
Harapannya, ia bisa membawa pulang Juliana Marins dalam keadaan hidup.
Namun, takdir berkata lain, Juliana Marins ditemukan dalam kondisi sudah tak bernyawa di kedalaman 590 meter.
"Berusaha saya bantu evakuasi supaya bisa hidup, harapanku. ternyata meninggal," tambah Agam Rinjani.
Itu sebanya melalui video call saat evakuasi, Agam Rinjani menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga Juliana Marins di Brasil.
"Mau minta maaf, gak bisa bawa pulang hidup-hidup, tapi Alhamdulillah bisa bawa pulang dia minimal bisa dikubur dengan layak," ucap Agam Rinjani.
Kronologis Kejadian Menurut Pengakuan Guide Pemandu Juliana Marins
Publik masih dibuat penasaran dengan kronologis yang sebenarnya bagaimana pendaki wanita asal Brasil, Juliana De Souza Pereira Marins (27) bisa jatuh terperosok ke jurang saat mendaki Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Sabtu (21/6).
Banyak spekulasi muncul di dunia maya karena terpublikasi sepihak tentang kronologis jatuhnya Juliana Marins karena ditinggal guide pemandunya karena kelelahan.
Dari cerita yang beredar di dunia maya, konon Juliana Marins melakukan pendakian ke Gunung Rinjani bersama enam orang rekannya dan seorang guide pemandu lokal.
Mereka memilih jalur Sembalun dan pada Sabtu (21/6/2025) dini hari. Juliana melanjutkan perjalanan menuju puncak bersama lima pendaki lain dan pemandu.
Saat tiba di titik Cemara Nunggal, Juliana dilaporkan merasa kelelahan dan diminta oleh pemandu untuk beristirahat.
Pemandu kemudian melanjutkan perjalanan ke puncak bersama kelima pendaki lainnya, meninggalkan Juliana sendirian di titik istirahat.
Saat Juliana tidak kunjung menyusul rombongan, pemandu memutuskan kembali ke lokasi tempat Juliana terakhir beristirahat.
Namun, Juliana tidak ditemukan di sana. Dari titik tersebut, pemandu melihat cahaya senter di bawah jurang yang mengarah ke Danau Segara Anak.
Pemandu menduga cahaya itu berasal dari Juliana yang terjatuh dan segera menghubungi otoritas untuk meminta bantuan.
Netizen pun mulai menyalahkan sikap guide pemandu yang tega meninggalkan Juliana Marins seorang diri saat kelelahan menanjak Rinjani.
Sang guide oleh netizen dituduh tega meninggalkan Juliana seorang diri sehingga membuatnya terjatuh dan tewas.
Tak ingin terus disalahkan, guide pendamping Juliana, Ali Musthofa akhirnya memberikan pengakuan kepada media Brasil, Oglobo.globo pada Jumat (27/6/2025).
Ali membantah meninggalkan Juliana saat beristirahat.
Ali mengungkapkan, saat Juliana beristirahat, dia bersama rombongan 5 orang lainnya melanjutkan perjalanan.
"Saya menunggu 3 menit lebih dulu, saya tidak meninggalkannya," kata Ali.
Kemudian dia merasa ada kejanggalan ketika Juliana yang ditunggu tidak juga menyusul.
Dia lalu memutuskan untuk kembali ke lokasi Juliana beristirahat 30 menit kemudian.
"Setelah sekitar 15 atau 30 menit, Juliana tidak muncul. Saya mencarinya di tempat peristirahatan terakhir, tetapi saya tidak menemukannya," kata dia.
"Saya bilang saya akan menunggunya lebih dulu, saya menyuruhnya untuk beristirahat," beber Ali melajutkan.
Keberadaan Juliana baru diketahui ketika ada cahaya senter.
"Saya sadar ketika saya melihat cahaya senter di jurang sedalam sekitar 150 meter dan mendengar suara Juliana meminta pertolongan. Saya bilang saya akan menolongnya," imbuh Ali.
Ali pun langsung menghubungi tempatnya bekerja untuk diteruskan ke Tim SAR. Ali mengaku tidak berdaya untuk melakukan penyelamatan sehingga pilihannya adalah menunggu Tim SAR.
Ali memandu Juliana untuk perjalanan pendakian Gunung Rinjani dengan bayaran sebesar Rp 2,5 juta.
Editor : Siti Aeny Maryam