Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dikira Ditinggal Buat Ngerokok, Ternyata Ini Kronologi Detik-Detik Juliana Terjun ke Jurang Gunung Rinjani!

Lalu Mohammad Zaenudin • Rabu, 9 Juli 2025 | 05:55 WIB
Sosok pria yang pertama kali ingin selamatkan Juliana Marins bukan Agam Rinjani, melainkan Ali Musthofa
Sosok pria yang pertama kali ingin selamatkan Juliana Marins bukan Agam Rinjani, melainkan Ali Musthofa

 

 

LombokPost - Langkah Juliana Marins mulai goyah sejak memasuki track kedua menuju puncak Rinjani. Napasnya terlihat berat, gerak tubuhnya melambat. Pemandu pendakian, Ali Mustafa, menyadari hal itu sejak awal.


“Dia udah bener-bener capek sih di sana,” lanjutnya. "Ngos-ngosan juga, tapi nggak terlalu,"

Melihat kondisi itu, Ali sempat menyarankan Juliana berhenti atau kembali. Ia bahkan menyampaikannya sambil bercanda agar tidak membuat suasana tegang.

“Gimana nih Juliana, apakah kamu mau diem di sini atau balik?”

Namun, Juliana tetap ingin melanjutkan. Ia bersikeras mendaki, mengejar puncak, mengejar sunrise.


Baca Juga: 3 Jalur Maut Menuju Puncak Rinjani, Juliana Marins Tumbang di Salah Satunya

 

Sementara itu, Ketua Asosiasi TO Aweng menjelaskan bahwa dalam sistem paket sharing, para peserta biasanya datang dari negara dan latar belakang berbeda, tanpa saling mengenal. Fisik mereka pun tak bisa disamaratakan. Karena itu, saat briefing, peserta selalu diberi pemahaman.

“Tidak selamanya kamu itu memiliki tenaga yang sama. Nggak ada yang namanya race. Ketika kamu cepat, tunggu teman yang lambat," katanya. 

Ali kemudian menegaskan pemeriksaan kesehatan dilakukan sebelum pendakian. Semua peserta, termasuk Juliana, menjalani proses administrasi dan medical check-up di Resort Sembalun.

"Kita melakukan medical check-up dulu. Tertera di sana. Nggak ada medical check-up, nggak bisa naik.”

 Baca Juga: Ali Mustafa Akhirnya Bicara: Sosok Guide Juliana Marins di Rinjani Ternyata Pendaki Muda Berpengalaman

Saat berada di jalur kedua, Juliana yang kelelahan meminta izin untuk duduk dan istirahat. Ali menyetujuinya, dan memilihkan tempat yang menurutnya aman.

"Posisinya jurang, tapi untuk istirahat itu aman," ucapnya. 

 Ali pun memutuskan melangkah ke depan. Tujuannya memeriksa lima peserta lain yang sudah berada sekitar 200 meter di depan dan membagikan logistik seperti biskuit dan air.

“You can wait here, I just wanna catch them. I’m gonna wait you there.” kata Ali mengulangi ucapannya pada Juliana saat itu. 

Ia berharap, Juliana akan segera menyusul.

Ali berhenti di jalur depan. Ia duduk, menunggu. Matanya terus menoleh ke arah belakang. Tapi hingga 30 menit berlalu, Juliana tak kunjung datang.

Ali merasa gelisah. Ia memutuskan kembali ke titik terakhir tempat Juliana duduk. Namun saat sampai di sana, Juliana tak terlihat. Yang ada hanya trekking pole tergeletak dan cahaya kecil dari bawah jurang.

"Saya melihat (cahaya) senter... ketingian 150 meter ke bawah," ucapnya. 

Pagi itu belum berkabut. Masih cukup terang. Tapi dari posisi berdiri di jalur, tubuh Juliana tak terlihat.

"Saya cuma liat cahaya senter aja," ucapnya. 

Senter itu adalah headlamp milik Juliana. Trekking pole-nya pun terlihat. Satu masih berada di tepi jalur, satu lagi sudah terguling turun.

"Yang satu itu cuma berjarak 3 meter lah dari atas. Yang satunya udah di bawah banget," tuturnya. 

Ali langsung panik. Ia sadar bahwa kemungkinan terburuk sedang terjadi. "Saya bener-bener panik sih.”

Ali segera kembali ke titik lebih aman untuk mengambil ponsel dan mencari sinyal. Ia mencoba menghubungi perusahaan tempat ia bekerja yang menjadi operator tur resmi pendakian.

“Saya ambil HP, cari-cari jaringan buat ngabarin perusahaan," ucapnya.  

Ali juga menegaskan, ia tidak meninggalkan Juliana untuk merokok seperti kabar yang sempat muncul. Ia mengaku memang merokok saat menunggu Juliana, tapi tidak pernah menjadikan itu sebagai alasan untuk meninggalkan peserta.

> “Saya merokok di sana, sambil nunggu Juliana (tapi) merokok itu bukan alasan saya ninggalin," tegasnya. 

 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Gunung Rinjani #tragedi rinjani 2025 #merokok #Ali Mustafa #jurang #Juliana Marins