LombokPost - Fakta baru kembali muncul dari tragedi pendakian yang menewaskan Juliana Marins, pendaki asal Brasil, di Gunung Rinjani. Pemandu lokal yang mendampinginya, Ali Mustafa, akhirnya mengungkap strategi yang ia ambil selama perjalanan menuju puncak.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah keputusan menempatkan Juliana di posisi belakang, karena kondisi fisiknya yang mulai melemah sejak awal. "Saya suruh Juliana ikut tiga orang (pendaki) lokal yang jalan duluan, biar dia nggak tersesat. Saya sendiri jaga di belakang untuk cover dia (Juliana),” kata Ali dalam wawancara eksklusif Curhat Bang Denny Sumargo, seperti dikutip Rabu (9/7).
Ali menegaskan langkah itu bukan “menitipkan” Juliana ke orang lain, melainkan bagian dari strategi pengawasan kelompok yang umum digunakan dalam pendakian dengan peserta campuran.
Ali mengakui bahwa dari awal pendakian, ia sudah membaca bahwa kondisi fisik Juliana kurang prima. Hal itu ia ketahui setelah melihat performa Juliana saat melintasi tanjakan pertama menuju punggungan.
“Setelah track-an pertama, saya lihat dia sudah benar-benar capek. Dia sempat rebahan, ngos-ngosan juga. Tapi ya nggak terlalu parah. Nafasnya ngos-ngosan biasa,” ungkapnya.
Menurut Ali, sebagai guide berpengalaman, ia terbiasa membaca tanda-tanda kelelahan pendaki, apalagi dalam jalur berat seperti pendakian ke puncak (summit) Rinjani. Karena itulah, ia sempat menyarankan Juliana untuk tidak melanjutkan pendakian.
“Saya sempat bercanda juga sambil nyaranin: Gimana, Juliana, kamu mau diam di sini atau balik? Tapi dia tetap mau lanjut,” kata Ali.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Operator Tour (TO) di Rinjani, Aweng menekankan dalam sistem pendakian paket sharing, TO selalu memberikan briefing agar peserta saling menjaga dan menghormati ritme masing-masing.
"Di paket sharing, kita bilang ke tamu: kamu nggak bisa mengandalkan semua orang punya tenaga yang sama. Nggak ada race ke puncak. Yang cepat harus tunggu yang lambat,” jelasnya.
Ia menambahkan, guide hanya satu untuk satu grup sharing, sehingga koordinasi dan pengawasan harus disiasati dengan strategi di lapangan, seperti membagi posisi pendaki dan memantau terus menerus dari belakang.
Salah satu pertanyaan publik adalah: apakah Juliana dalam kondisi sehat saat memulai pendakian? Aweng menegaskan bahwa setiap pendaki yang ikut tour resmi wajib menjalani prosedur pemeriksaan medis (medical check-up).
"Sebelum check-in di resort, sudah ada medical check-up. Itu syarat wajib sebelum naik,” ungkapnya.
Dokumen administrasi dan hasil pemeriksaan kesehatan ini umumnya diserahkan ke pihak pengelola Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) dan diverifikasi sebelum peserta diperbolehkan melanjutkan perjalanan.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin