Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

3 Jalur Maut Menuju Puncak Rinjani, Juliana Marins Tumbang di Salah Satunya

Lalu Mohammad Zaenudin • Rabu, 9 Juli 2025 | 05:20 WIB
Sambil Menangis Ibu Juliana Marins mengungkap fakta mengejutkan soal kronologis kejadian, menurut pihak keluarga Juliana tewas bukan karena kecelakaan biasa.
Sambil Menangis Ibu Juliana Marins mengungkap fakta mengejutkan soal kronologis kejadian, menurut pihak keluarga Juliana tewas bukan karena kecelakaan biasa.

LombokPost - Jalur menuju puncak Gunung Rinjani bukan hanya menguji kekuatan fisik, tapi juga mental dan strategi. Bagi Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang meninggal dunia saat pendakian, tantangan datang dari berbagai arah: stamina tubuh, ketepatan waktu, dan medan yang berat.

Sang pemandu, Ali Mustafa, mengungkapkan detail pendakian yang ia pimpin, termasuk keputusan-keputusan krusial yang ia ambil sepanjang perjalanan.

Menurut Ali, summit attack - pendakian ke puncak Rinjani - selalu dimulai dini hari, biasanya sekitar pukul 03.00 dini hari. Waktu ini dipilih agar pendaki bisa menyaksikan matahari terbit dari puncak dan kembali turun sebelum suhu menjadi terlalu panas.

"Jam 3 pagi. Itu biasanya jam-jam kita summit attack," katanya, dikutip dari podcast Curhat Bang Denny Sumargo, Rabu (9/7). 

Tujuan utamanya adalah mengejar pemandangan matahari terbit dan mengoptimalkan waktu untuk turun dengan aman, terutama bagi rombongan yang mengejar target perjalanan pulang atau yang disebut Ali sebagai return hit.

“Supaya bisa dapet banyak return hit,” jelasnya singkat.

Jalur menuju puncak Rinjani terbagi dalam tiga bagian utama yang masing-masing memiliki karakteristik dan tingkat kesulitan berbeda.

Track pertama adalah bagian paling berat: jalur pasir curam yang menanjak dan menguras tenaga. Biasanya, bagian ini ditempuh dalam waktu sekitar satu jam, tergantung kecepatan pendaki.

"Track pertama itu pasir dan curam. Normalnya satu jam, tapi tergantung speed juga," ujar Ali.

Setelah itu, track kedua relatif lebih bersahabat. Jalurnya landai dan lebih lebar, meski diapit oleh jurang di kiri dan kanan.

“Agak landai, satu atau dua meter lebarnya, tapi kiri-kanan jurang,” tambahnya.

Track terakhir adalah jalur yang disebut "Letter E", jalur yang lebih aman dan tidak terlalu menanjak, cocok untuk pendaki dengan kecepatan lambat atau kondisi fisik terbatas.

“Liter E lebih safe,” ucap Ali singkat, menegaskan keandalan jalur ini bagi pendaki yang mulai kelelahan.

Waktu tempuh dari Pelawangan ke puncak biasanya memakan waktu tiga jam. Namun, dalam kasus ini, Juliana menunjukkan performa yang jauh lebih lambat. Track pertama saja yang seharusnya satu jam, ditempuh dalam satu setengah jam.

“Saya nyampe di punggungan sekitar setengah lima,” tutur Ali, menandai betapa lambatnya ritme pendakian Juliana.

Di antara enam orang peserta, Juliana adalah yang paling lambat dan selalu berada di posisi paling belakang.

“Slow orangnya,” ujarnya.

Ali menyebut dari awal ia sudah bisa membaca bahwa Juliana mengalami kesulitan sejak memasuki jalur berbatu dan berpasir. Fisiknya terlihat sangat lelah setelah melewati bagian pertama yang menanjak.

Melihat kondisi Juliana yang tertinggal, Ali mengambil keputusan taktis. Ia meminta lima tamunya yang lain mengikuti sekelompok pendaki lokal yang mereka temui di jalur pendakian. Tujuannya agar mereka tetap berada di jalur yang aman.

“Saya suruh dia ngikutin orang lokal itu,” jelasnya.

Ali sendiri menemani Juliana, tetap berada di barisan paling belakang. Ia memastikan tidak ada peserta yang tertinggal jauh atau keluar jalur.

“Speed orang beda-beda. Dan lampu penerang di jalur itu banyak kok. Yang penting dia nggak sendirian,” ujarnya lagi.

Ali juga memahami Juliana mengejar sunrise di puncak. Namun dari pengamatannya, ia sadar bahwa target itu kemungkinan besar tidak akan tercapai.

Sebagai guide berpengalaman, Ali mengaku bisa langsung membaca kemampuan fisik peserta setelah melewati beberapa bagian jalur. Dalam kasus Juliana, ia sudah memperkirakan pendakiannya tidak akan sampai ke puncak.

“Saya sudah baca juga, dia pasti nggak bakalan sampai summit,” ungkapnya.

Kini, setelah tragedi itu terjadi, semua pengakuan dan pengamatan Ali menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana jalur Rinjani tak bisa dipandang remeh dan betapa pentingnya strategi pengawasan dalam tiap langkah pendakian.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#pendaki tewas #Gunung Rinjani #rinjani #Ali Mustafa #Juliana Marins