Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Awal Mula Perkenalan Kompol Yogi dan Misri Hingga Mau Dibooking Rp 10 Juta Semalam Liburan di Gili Trawangan

M Islamuddin • Kamis, 10 Juli 2025 | 08:58 WIB
Misri Puspita Sari ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kematian Brigadir Nurhadi. (Treads Misripuspita11_)
Misri Puspita Sari ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kematian Brigadir Nurhadi. (Treads Misripuspita11_)

LombokPost - Liburan singkat yang dijanjikan Kompol I Made Yogi Purusa Utama kepada Misri Puspita Sari alias M dengan bayaran Rp10 juta berakhir dengan kematian Brigadir Muhammad Nurhadi di dasar kolam Villa Tekek di The Beach House Resort, Rabu (16/4).

Begini awal mula semuanya. Perkenalan mereka hanya sepintas, tapi berujung maut. Kompol Yogi dan Misri awalnya tidak saling kenal dekat.

Hubungan mereka bermula dari media sosial Instagram, sekadar saling sapa. Namun dari ruang digital itulah, kisah kelam di Gili Trawangan bermula.

Kesaksian Misri yang terekam dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) mengungkap kronologi awal pertemuan hingga tragedi kematian Brigadir Nurhadi yang masih diselimuti misteri.

Undangan Liburan Senilai Rp 10 Juta

Menurut pengakuan Misri, wanita asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini kepada penyidik, dia dan Kompol Yogi pertama kali bertemu secara singkat di Jakarta tahun 2024. 

Saat itu, mereka diperkenalkan oleh teman dekat Kompol Yogi yang juga mengenal Misri. Setelah itu, komunikasi berlanjut hanya lewat Instagram, tidak intens, hanya saling mengenal.

Namun pada April 2025, Kompol YG tiba-tiba menghubungi Misri melalui DM Instagram. Dia mengundang Misri untuk menemaninya liburan ke Lombok, dengan bayaran Rp 10 juta. Misri yang saat itu berada di Bali akhirnya menerima tawaran tersebut.

“Awalnya hanya diajak liburan sebentar, katanya cuma satu malam. Berangkat Rabu, balik Kamis,” ungkap Penasihat Hukum Misri, Yan Mangandar Putra, Kamis (10/7).

Kolase Kompol I Made Yogi Purusa Utama dan Misri Puspita Sari. (Istimewa)
Kolase Kompol I Made Yogi Purusa Utama dan Misri Puspita Sari. (Istimewa)

Liburan Berubah jadi Pesta Narkoba

Rabu, 16 April 2025 siang, Misri menyeberang dari Bali ke Senggigi menggunakan speed boat yang telah dipesankan oleh Kompol Yogi. 

Dia dijemput oleh Brigadir MN di parkiran pelabuhan, lalu bertemu dengan Kompol YG dan IPDA HC. Mereka sempat berbelanja di swalayan sebelum melanjutkan perjalanan ke Gili Trawangan.

Dalam perjalanan itu, Misri menyebut dia dan saksi P menelan beberapa butir Riklona. Pesta narkoba dan alkohol pun dimulai sejak mereka tiba di Villa Tekek, The Beach House Resort.

Narkoba yang digunakan jenis Riklona (obat penenang untuk menghilangkan kecemasan)

yang dibeli Kompol Yogi di Bali melalui Misri. Kompol Yogi mentransfer uang sebesar Rp 2 juta melalui rekening temannya si Misri tanggal 15 April 2025. 

Sedangkan narkotika jenis Ekstasi (Inex) diperoleh dari Kompol Yogi yang dikonsumsi seluruhnya berlima. Sedangkan minuman alkohol jenis Tequila hanya dikonsumsi Ipda Haris Chandra dan Brigadir Nurhadi.

Di sana, Kompol Yogi, Ipda Haris Chandra, Brigadir Nurhadi, saksi P, dan Misri berendam di kolam sambil mengonsumsi Riklona, ekstasi, dan tequila. 

Dalam kondisi mabuk, Misri mengaku sempat menegur Brigadir Nurhadi karena bersikap tidak pantas pada saksi P. Dia mendekati dan sempat mencium saksi P, teman wanita Ipda Haris Chandra. “Jangan begitu, itu cewek abangmu,” ungkap Yan mengutip pernyataan Misri dalam BAP.

Selepas itu, sekitar pukul 16.50 Wita, Kompol Yogi dan Ipda Haris Chandra menyuruh Brigadir Nurhadi mencarikan minuman keras. Akrhinya Ipda Haris Chandra dan Brigadir Nurhadi minum Tequila. 

Sekitar 30 menit kemudian, Brigadir Nurhadi meminta tambah inex kepada Kompol Yogi. "Sekitar pukul 18.20 Wita bubar dengan IPDA HC dan saksi P ke Natya Hotel, sedangkan yang lain tetap di villa tekek dengan Kompol Yogi ke tempat tidur, Brigadir Nurhadi tetap dalam kolam dan M ada di sekitaran kolam sambil main HP," beber Yan.

Antara waktu pukul 18.20 – 19.55 Wita, Misri sempat melihat Ipda Haris Chandra dua kali masuk ke villa tekek. Pertama, datang sampai masuk ke kolam sambil main HP dan telpon

video call dan Kompol Yogi masih di tempat tidur. "Yang kedua, datang lagi tetapi hanya sampai emperan dengan gestur celingak-celinguk dan Kompol Yogi masih di tempat tidur," jelasnya.

Kematian yang Direkam tanpa Disadari

Sekitar pukul 19.55 Wita, Misri merekam video Brigadir Nurhadi yang saat itu masih tampak santai sendiri di dalam kolam. Dia mengaku hanya iseng karena Brigadir Nurhadi terlihat lucu. Setelah itu, dia masuk kamar mandi.

Namun saat keluar dari kamar mandi pukul 20.40 Wita, segalanya berubah. Misri mendekati kolam dan terkejut melihat tubuh Brigadir Nurhadi sudah di dasar air. 

Dia berteriak memanggil Kompol Yogi yang langsung menyelam dan mengangkat tubuh Nurhadi. Napas buatan dan pijat jantung dilakukan, namun sia-sia.

Ipda Haris Chandra datang beberapa menit kemudian, tapi justru sibuk menelpon. Tak lama, datang dokter dari Warna Medika yang berupaya menyelamatkan Nurhadi.

Mendadak Disuruh Pergi, Barang-Barang Sudah Dikemas

Hal aneh terjadi sesaat kemudian. Ipda Haris Chandra meminta Misri masuk ke kamar. Di sana, Misri menemukan koper dan semua barang pribadinya sudah rapi dikemas. 

Dia kemudian diantar ke Natya Hotel, sementara Kompol Yogi dan Ipda Haris Chandra mengantar MN yang kritis ke klinik.

Dua hari setelah kejadian, Misri menerima transfer Rp10 juta dari Kompol YG. “Itu sesuai janji awal untuk menemani liburan,” ungkap Yan.

Pemicunya Diduga Korban Rayu Wanita Atasannya

Sebelumnya, Dirreskrimum polda NTB Kombes Syarif Hidayat mengungkapkan pembunuhan Brigadir Nurhadi ini dipicu korban merayu teman wanita salah satu tersangka.

"Ada peristiwa korban mencoba merayu dan mendekati rekan wanita salah satu tersangka. Itu ceritanya dan itu dibenarkan oleh saksi yang ada di lokasi kejadian," kata Syarif, Senin (7/7).

Brigadir Nurhadi terlibat keributan dengan atasannya. Sehingga, dia diduga dianiaya. Hal ini diperkuat hasil autopsi yang menyebut ada luka di kepala, punggung, dan kaki. Bahkan ada luka memar, dan luka robek.

"Korban diketahui masih hidup usai dianiaya di dalam kolam. Karena kondisinya tak mampu bergerak dan sadar dari pingsan, korban akhirnya tenggelam," sebut Syarif.

Menurut Syarif, ada kekerasan pencekikan yang utama, sehingga korban menjadi tidak sadar atau pingsan sehingga berada dalam air. "Kami menemukan ada rangka ganggang yang identik dengan di air kolam yang kami temukan pada sumsum tulang, pada otak, paru dan pada ginjal," tandasnya. (r5)

Editor : Jelo Sangaji
#kompol yogi #I Made Yogi Purusa Utama #polda ntb #Brigadir Nurhadi #Brigadir Muhammad Nurhadi #Misri Puspita Sari