LombokPost – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengambil langkah serius dalam upaya mitigasi bencana gempa bumi.
Melalui Direktorat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu (DST), BMKG kini berfokus pada uji coba dan pengembangan sistem peringatan dini gempa bumi terbarunya, INA-EEWS (Indonesia Earthquake Early Warning System).
Direktur DST, Setyoajie Prayoedhie, mengungkapkan INA-EEWS sedang dalam tahap pengujian intensif dengan target awal di empat wilayah padat penduduk DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Lampung.
Baca Juga: Memahami Risiko Bencana dan Pentingnya Mitigasi Bencana Investasi Jangka Panjang
"Tujuan utama kami adalah memberikan informasi awal kepada masyarakat beberapa detik sebelum guncangan gempa terasa, sehingga mereka memiliki waktu krusial untuk melakukan tindakan penyelamatan," jelas Setyoajie.
Ia menambahkan, meskipun cakupan awal masih terbatas, ini merupakan langkah awal yang sangat penting untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa di masa depan.
Pengembangan INA-EEWS ini bukan tanpa dasar. Tim DST telah berhasil memasang Seismic Borehole di beberapa lokasi strategis seperti Lembang, Pelabuhan Ratu, Kemayoran, dan Pulau Sebesi, yang akan menjadi tulang punggung operasional sistem ini.
Baca Juga: Strategi Mitigasi Bencana Banjir Dengan Kombinasi Upaya Struktural dan Non-Struktural
Selain itu, BMKG juga tengah mengkaji tingkat kerentanan gempa di kota-kota besar dan memperkuat infrastruktur pendukung lainnya.
Peningkatan Kapasitas dan Kolaborasi Lintas Unit Jadi Kunci
Selain fokus pada pengembangan teknologi, BMKG juga sangat memperhatikan aspek sumber daya manusia (SDM) dan manajemen operasional.
Dalam audiensi yang dilakukan di Stasiun Geofisika, DST menekankan pentingnya perencanaan dan pelaksanaan pemeliharaan peralatan yang efisien. Pengadaan suku cadang kini dikoordinasikan antar Unit Pelaksana Teknis (UPT) untuk memastikan ketersediaan dan penggunaan yang optimal.
"Pemeliharaan bukan hanya soal teknis, tetapi juga bagian dari membangun ketangguhan sistem dan sumber daya manusia dalam menghadapi risiko bencana," tegas Setyoajie. BMKG juga memperkuat sistem pelaporan digital melalui aplikasi Simora dan Sesmon, serta aktif meningkatkan kompetensi SDM UPT melalui pelatihan teknis dan kesempatan studi lanjut, termasuk program beasiswa LPDP.
Kualitas data dan keberhasilan sistem peringatan dini sangat bergantung pada kesiapan alat dan kemampuan SDM. Untuk itu, BMKG menegaskan bahwa kolaborasi dan sinergi antarunit menjadi kunci utama agar sistem INA-EEWS dapat berjalan optimal dalam mendukung keselamatan masyarakat.
Melalui upaya komprehensif ini, BMKG menegaskan komitmennya untuk terus mendorong transformasi teknologi kebencanaan dan memperkuat sinergi lintas UPT demi mewujudkan sistem monitoring gempa yang lebih andal dan responsif bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Editor : Pujo Nugroho