Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Seorang Anak Veteran Long March dari Malang ke Bogor Berjalan Kaki Selama 36 Hari, Persembahkan Perjalanan untuk Para Pejuang

Lombok Post Online • Selasa, 5 Agustus 2025 | 13:21 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

LombokPost - Di tengah gegap gempita pembukaan Festival Merah Putih (FMP) 2025 di Kabupaten Bogor, hadir sosok Andika Gatot Setyawan yang mencuri perhatian.

Bukan karena seragamnya, bukan pula karena jabatannya, melainkan karena langkah-langkah kecilnya.

Dapat Hadiah Sepeda dari Wakil Wali Kota Bogor.

Dia telah mengayunkan kaki sejauh ratusan kilometer dari Malang sampai Bogor demi satu hal. Dia ingin memberikan penghormatan kepada sejarah dan para pejuang bangsa.

Namanya Andika Gatot Setyawan, 42 tahun, anggota Pemuda Panca Marga (PPM) dari Kota Malang, Jawa Timur. Selama 36 hari, ia menempuh perjalanan berjalan kaki dari Malang menuju Jakarta. Di tengah perjalanan, ia menyempatkan diri singgah di Kota Bogor untuk turut serta dalam rangkaian FMP 2025, festival kebangsaan yang tahun ini memasuki usia satu dekade.

"Perjalanan ini saya dedikasikan sepenuhnya untuk para veteran, khususnya menyambut Hari Veteran Nasional pada 10 Agustus nanti di Jakarta. Saya ingin mengenang kembali perjuangan leluhur kami, para pejuang yang dulu tak jarang menempuh long march dalam kondisi yang sangat sulit," ujar Andika ditemui Radar Bogor, Kamis (31/7) malam.

Berbeda dengan para pendaki "zaman now" yang menempuh perjalanan demi konten dan popularitas, langkah Andika dilandasi oleh rasa hormat dan cinta pada sejarah. Ia menyebut, berjalan kaki adalah cara terbaik untuk menyatu dengan makna perjuangan.

"Kalau saya naik motor atau mobil, saya nggak akan bisa merasakan perjuangan mereka dulu. Saya ingin merasakan sedikit saja, getirnya jalan panjang yang mereka tempuh untuk memperjuangkan kemerdekaan," katanya.

Dalam perjalanan panjang itu, Andika tak menginap di hotel mewah. Ia tidur di pos Koramil, Kodim, rumah anggota LVRI, atau tempat singgah lainnya yang bersedia membuka pintu. Dukungan pun datang dari banyak pihak, dalam bentuk makanan, minuman, hingga semangat yang diberikan oleh sesama pejuang dan simpatisan yang ia temui.

"Awalnya semua saya siapkan sendiri, modal sendiri. Tapi alhamdulillah di tengah jalan banyak yang bantu, entah logistik atau tempat istirahat. Dukungan itu luar biasa," ucap pria yang sehari-hari bekerja serabutan, mulai dari teknisi IT hingga pekerja bangunan.

Andika bukan sekadar pejalan kaki yang ingin mencetak rekor. Ia juga mewarisi darah pejuang. Ia lahir dari keluarga veteran, begitu pula istrinya. Tak heran, keputusannya menempuh long march mendapat dukungan penuh dari keluarga.

"Istri saya juga keturunan veteran. Kami sama-sama punya semangat untuk meneruskan perjuangan, meskipun bentuknya berbeda dengan dulu. Hari ini kita tidak mengangkat senjata, tapi kita bisa mengangkat nilai," tuturnya.

Salah satu momen mengharukan dalam perjalanannya terjadi saat dirinya disambut di Bogor dan mendapatkan sepeda dari Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin sebagai bentuk apresiasi. Sepeda itu rencananya akan digunakan Andika untuk melanjutkan perjalanan pulangnya, tetap sebagai simbol semangat, tapi kini dengan dua roda.

Selama berada di Bogor, Andika juga terlibat dalam pemugaran Tugu Juang Jonggol, bersama rekan-rekannya dari PPM. Menurutnya, pelestarian simbol-simbol perjuangan adalah bagian dari cara generasi muda menjaga warisan sejarah.

BERBAGI KISAH: Andika Gatot Setyawan, 42 tahun mengikuti opening ceremony FMP 2025 di Bogor, Kamis (31/7). Ia menempuh Malang hingga Jakarta dengan berjalan kaki memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan RI.
BERBAGI KISAH: Andika Gatot Setyawan, 42 tahun mengikuti opening ceremony FMP 2025 di Bogor, Kamis (31/7). Ia menempuh Malang hingga Jakarta dengan berjalan kaki memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan RI.

"Sekarang banyak anak muda yang bahkan tidak tahu siapa pahlawan nasional di daerahnya sendiri. Kita harus ingatkan lagi. Kemerdekaan ini bukan hadiah, ini diperjuangkan dengan darah dan nyawa," tegasnya.

Ia menargetkan akan tiba di Jakarta pada 8 Agustus 2025, sesuai dengan agenda penerimaan peserta long march menjelang Hari Veteran Nasional. Perjalanannya belum berakhir, tetapi semangatnya sudah sampai lebih dulu, menggetarkan banyak hati yang menyaksikan dan mendengar kisahnya.

"Saya cuma ingin membawa pesan: jangan lupakan sejarah. Jangan khianati pengorbanan para pejuang. Kita punya tanggung jawab untuk menjaga dan meneruskan perjuangan itu, sekecil apa pun bentuknya," tutupnya. (FIKRI RAHMAT UTAMA, Kabupaten Bogor/uma/c/JPG/r3)

Editor : Siti Aeny Maryam
#kemerdekaan #sejarah #penghormatan #Kebangsaan #Long march