LombokPost - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Badan Gizi Nasional (BGN) masih menemui banyak tantangan di lapangan.
Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di NTT baru mencapai 9 persen dari target.
Hal ini diungkapkan oleh Staf Khusus BGN, Redy Hendra Gunawan, dalam weekly update daring yang disiarkan langsung dari Kupang, Selasa (5/8).
Menurut Redy, Program Makan Bergizi Gratis masih butuh banyak masukan dari masyarakat.
Ia mengakui pelaksanaan MBG belum sempurna dan BGN sangat terbuka terhadap kritik demi perbaikan ke depan.
“Program Makan Bergizi Gratis ini masih baru, tentu belum sempurna. Kami butuh masukan dari orang tua, guru, siswa, semua pihak. Kami tidak anti kritik,” ujar Redy.
Hingga saat ini, Program Makan Bergizi Gratis di NTT baru menjangkau 50 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari total target 585 titik layanan.
Artinya, realisasi MBG baru menyentuh sekitar 143 ribu penerima manfaat, atau hanya 9 persen dari target provinsi.
Respons Kasus Kupang dan Perketat SOP
Redy menyebut salah satu tantangan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis adalah kasus dugaan keracunan di Kupang.
BGN langsung melakukan evaluasi dan menindak tegas pihak yang lalai.
“Kejadian di Kupang kami jadikan pelajaran. Sudah ada evaluasi, teguran, dan pengetatan SOP. Kami serius menjaga kualitas Program MBG,” tegas Redy.
Program Makan Bergizi Gratis menurutnya adalah program strategis yang menyasar siswa sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Karena itu, pelaksanaan harus dijaga dengan standar tinggi.
Capaian Nasional Lebih Baik
Berbeda dengan kondisi di NTT, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis secara nasional tercatat lebih luas.
Saat ini, terdapat sekitar 2.900 SPPG yang telah melayani sekitar 8 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Program Makan Bergizi Gratis menjadi andalan pemerintahan dalam meningkatkan status gizi anak dan kelompok rentan.
Namun Redy menekankan, kolaborasi daerah sangat dibutuhkan agar distribusi MBG berjalan lancar.
“Kita tidak bisa kerja sendiri. Pemerintah daerah, sekolah, kader posyandu semua harus ikut gotong royong menyukseskan Program MBG,” katanya.
Evaluasi dan Harapan
Sejumlah pemerhati gizi nasional menilai pendekatan Program Makan Bergizi Gratis perlu disesuaikan dengan kondisi lokal.
Selain fokus pada jumlah penerima, kualitas makanan dan dampak terhadap gizi anak harus jadi indikator utama.
Program Makan Bergizi Gratis diharapkan mampu menekan angka stunting, kekurangan energi kronis, hingga gizi buruk jika dijalankan dengan benar dan tepat sasaran. (***)
Editor : Alfian Yusni