Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Inovasi Mahasiswa IPB University dalam Membantu Petani Racik Ramuan dari Akar Bambu untuk Mencegah Gagal Panen, Manfaatkan Potensi Alam Lokal

Lombok Post Online • Rabu, 6 Agustus 2025 | 17:10 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

LombokPost - Maraknya persoalan gagal panen mendorong mahasiswa IPB untuk membantu para petani di Desa Sadengkolot, Leuwisadeng.

Berbekal ilmu yang sudah dipelajari di sekolah Muhammad Nafis dan rekan-rekannya meracik sebuah ramuan dari akar bambu yang bisa mencegah gagal panen. 

Kendala dan keresahan petani akan produktivitas hasil kebun yang menurun akibat gagal panen menggerakan Nafis dan rekan-rekannya yang tengah KKN di Sadengkolot untuk berinovasi.

Mereka mencari solusi untuk menangani serangan hama penyakit serta perubahan cuaca yang ekstrem yang jadi biang kerok gagal panen.

Nafis dan rekan-rekannya melihat ada potensi besar yang belum dimanfaatkan secara maksimal di desa itu. Potensi tersebut ialah pohon bambu yang tumbuh subur di sekitar wilayah desa.

Dari situlah muncul ide inovatif dengan memanfaatkan mikroorganisme yang hidup di sekitar akar bambu untuk mendukung pertumbuhan tanaman pangan lokal.

"Berdasarkan literatur dan praktik pertanian organik, akar bambu hidup diketahui mengandung berbagai jenis bakteri (rhizobacteria) baik yang dapat membantu tanaman dalam menyerap unsur hara, meningkatkan pertumbuhan, serta melindungi tanaman dari serangan patogen," jelas Nafis.

Tim KKN-TI BOGORKAB36 itu kemudian mulai melakukan peracikan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) secara mandiri.

Peracikan menggunakan bahan-bahan lokal yang mudah ditemukan, di antaranya larutan gula sebagai sumber energi, mikroba dedak sebagai media fermentasi, rendaman akar bambu sebagai sumber bakteri alami, terasi sebagai pengaya mikroorganisme, dan air bersih sebagai pelarut.

Semua bahan tersebut dicampur dan disimpan dalam wadah tertutup seperti galon. Setiap hari, tutup galon dibuka sedikit untuk mengurangi tekanan gas hasil fermentasi. Dalam beberapa hari, hasil fermentasi menunjukkan keberhasilan, ditandai dengan aroma khas dan tidak busuk, serta munculnya gelembung fermentasi.

"Setelah racikan PGPR dinyatakan berhasil, pada 23 Juli 2025, kami melaksanakan praktik langsung di lapangan dengan mengaplikasikan PGPR pada tanaman seperti padi, cabai, jagung, ubi jalar, dan singkong," tutur Nafis.

Kegiatan ini juga disertai dengan sosialisasi kepada Gapoktan mengenai manfaat PGPR serta cara membuatnya secara mandiri. Edukasi dilakukan secara interaktif, disertai demonstrasi dan pemberian modul sederhana. Para petani sangat antusias karena bahan-bahannya mudah didapat dan tidak memerlukan biaya besar.

"Mereka mengapresiasi upaya kami dalam memberikan solusi praktis yang langsung dapat diterapkan di lahan pertanian mereka," kata Nafis.

RACIK: Mahasiswa IPB untuk membantu para petani di Desa Sadengkolot, Leuwisadeng meracik sebuah ramuan dari akar bambu yang bisa mencegah gagal panen.
RACIK: Mahasiswa IPB untuk membantu para petani di Desa Sadengkolot, Leuwisadeng meracik sebuah ramuan dari akar bambu yang bisa mencegah gagal panen.

Program inovasi PGPR ini, diharapkan menjadi awal dari penerapan pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan di Desa Sadengkolot. Dengan memanfaatkan potensi alam lokal seperti akar bambu, petani tidak hanya dapat meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga kesehatan tanah secara jangka panjang.

"Kami berharap inovasi ini dapat diteruskan dan dikembangkan oleh masyarakat, serta menjadi contoh nyata bahwa kemandirian pangan dan keberlanjutan pertanian dapat dimulai dari hal sederhana dan lokal," pungkas Nafis. (SEPTI NULAWAM H, Kabupaten Bogor/cok/JPG/r3)

Editor : Pujo Nugroho
#pangan lokal #Mahasiswa #kemandirian #gagal panen #mandiri #Inovasi