"Seperti merek Sania atau lainnya. Tapi tidak kami jual dulu," kata Solihin saat dihubungi pada Jumat (8/8).
Menurut Solihin, penyebabnya adalah kasus beras oplosan yang tengah marak. Pihak kepolisian sempat memeriksa sejumlah petugas toko ritel yang menjual beras premium yang diduga tidak sesuai standar. Padahal, ritel hanya bertindak sebagai penjual, bukan produsen.
"Padahal kami tidak tahu apa-apa. Bukan kapasitas kami memeriksa berasnya benar premium atau bukan. Ada yang diminta jadi saksi atau diperiksa," jelas Solihin.
Daripada mengambil risiko berurusan dengan hukum, para peritel memutuskan untuk menyimpan stok beras premium di gudang.
Situasi ini berubah setelah Aprindo mengirimkan surat kepada produsen beras untuk meminta harga beras premium diturunkan agar setara dengan harga beras medium.
"Akhirnya disepakati harganya turun Rp 1.500 per kemasan 5 kg," kata Solihin.
Dengan adanya penurunan harga ini, ritel akan kembali menjual beras premium kemasan 5 kg. Meski demikian, Solihin menyebut butuh waktu hingga stok beras kembali tersedia di rak-rak toko.
Kelangkaan beras premium ini berkaitan erat dengan kasus beras oplosan yang sedang diselidiki Satgas Pangan Mabes Polri. Beras premium seharusnya memiliki campuran beras patah maksimal 15 persen. Namun, beberapa produk yang beredar diduga memiliki kandungan beras patah yang jauh lebih tinggi.
Polisi telah menetapkan enam tersangka dalam dua kasus terpisah. Tiga tersangka pertama adalah Karyawan Gunarso (KG), Direktur Utama Food Station Tjipinang Jaya; Ronny Lisapaly (RL), Direktur Operasional; dan IRP, Kepala Seksi Quality Control.
Tiga tersangka lainnya berasal dari PT Padi Indonesia Maju (PIM), anak perusahaan Wilmar Group, yang produk berasnya beredar luas di pasaran. Mereka adalah S, Presiden Direktur; AI, kepala pabrik; dan DO, kepala quality control.
Editor : Redaksi Lombok Post