Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Edukasi Kebencanaan di Sekolah Harus Digalakkan, BRIN Telah Ungkap Jejak Tsunami Raksasa di Selatan Jawa

Nurul Hidayati • Selasa, 12 Agustus 2025 | 17:13 WIB
Ilustrasi Tsunami. BRIN menyoroti bahwa pembangunan infrastruktur di selatan Jawa – seperti bandara, pelabuhan, dan kawasan industri – belum sepenuhnya mengintegrasikan risiko tsunami.
Ilustrasi Tsunami. BRIN menyoroti bahwa pembangunan infrastruktur di selatan Jawa – seperti bandara, pelabuhan, dan kawasan industri – belum sepenuhnya mengintegrasikan risiko tsunami.

LombokPost  – Sebuah fakta mengerikan sekaligus vital diungkap oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Melalui riset paleotsunami, tim peneliti BRIN berhasil menyingkap jejak keberadaan tsunami raksasa yang pernah menghantam pesisir selatan Jawa.

Temuan lapisan sedimen purba berumur sekitar 1.800 tahun di wilayah Lebak, Pangandaran, dan Kulon Progo menjadi bukti nyata bahaya yang perlu diantisipasi secara serius.

Penelitian ini bukan hanya mengungkap sejarah kelam, tetapi juga menunjukkan pola menakutkan: tsunami besar di wilayah selatan Jawa bersifat berulang setiap 600–800 tahun, dan berpotensi dipicu oleh gempa megathrust berkekuatan magnitudo 9,0 atau lebih.

Fakta ini menjadi alarm keras bagi seluruh pihak, terutama mengingat pesatnya pembangunan dan kepadatan penduduk di kawasan tersebut.

Guna memberikan penjelasan fakta terkait jejak tsunami purba ini kepada publik, BRIN menggelar Media Lounge Discussion (MELODI) pada Selasa, 5 Agustus 2025, di Ruang Media Lounge, Gedung B.J. Habibie, Jakarta.

Kegiatan MELODI ini merupakan rangkaian penting dari peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) ke-30, dengan tema "Bangkitkan Riset dan Inovasi untuk Merah Putih".

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, dalam kesempatan berbeda menegaskan pentingnya riset-riset kebencanaan seperti ini untuk memitigasi dan mengurangi risiko dari potensi bencana alam, khususnya yang datang dari laut, seperti tragedi tsunami Aceh 2004.

Riset ini juga menjadi upaya untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) di bidang kelautan, mengingat 60 persen wilayah Indonesia adalah perairan.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN, Purna Sulastya Putra, menjelaskan bahwa paleotsunami adalah kajian ilmiah untuk mengenali kejadian tsunami purba yang tidak tercatat dalam sejarah manusia. "Riset ini sangat penting, karena selatan Jawa terus berkembang dengan pembangunan infrastruktur strategis, sementara ancaman tsunami raksasa yang berulang justru belum sepenuhnya dipahami dan diantisipasi," ujar Purna.

Purna merinci bahwa salah satu temuan krusial BRIN adalah lapisan sedimen tsunami purba berusia sekitar 1.800 tahun yang tersebar luas di berbagai titik di sepanjang selatan Jawa, seperti di Lebak, Pangandaran, dan Kulon Progo. "Dikarenakan penyebarannya yang meluas di banyak lokasi di selatan Jawa, jejak ini diperkirakan merupakan hasil dari tsunami raksasa yang disebabkan gempa megathrust berkekuatan magnitudo 9,0 atau lebih. Ini bukan satu-satunya. Jejak tsunami raksasa lainnya ditemukan berumur sekitar 3.000 tahun lalu, 1.000 tahun lalu, dan 400 tahun lalu," imbuhnya, menegaskan sifat perulangan bencana ini.

Riset paleotsunami, lanjut Purna, dilakukan melalui pengamatan lapangan, salah satunya di lingkungan rawa dan laguna, di mana sedimen laut yang terbawa oleh gelombang tsunami lebih mudah dikenali dan terawetkan. Untuk membuktikan endapan tersebut berasal dari tsunami, dilakukan analisis lanjutan seperti uji mikrofauna, kandungan unsur kimia, hingga pentarikhan umur radiokarbon. "Tantangannya adalah tak semua endapan tsunami purba bisa bertahan utuh dan terawetkan dengan baik, dan membedakan dengan sedimen akibat proses-proses lain seperti banjir atau badai pun memerlukan kehati-hatian," tambahnya.

Dengan jumlah penduduk yang diperkirakan lebih dari 30 juta orang akan terekspos di wilayah pesisir selatan Jawa pada 2030, ancaman ini perlu menjadi perhatian serius. BRIN menyoroti bahwa pembangunan infrastruktur di selatan Jawa – seperti bandara, pelabuhan, dan kawasan industri – belum sepenuhnya mengintegrasikan risiko tsunami. "Jika tidak dirancang dengan mempertimbangkan sejarah bencana, dampaknya akan sangat besar, baik dari sisi korban jiwa maupun kerugian ekonomi," ujar Purna.

Ia juga menambahkan bahwa peningkatan aktivitas di sekitar infrastruktur strategis, seperti munculnya hotel, restoran, dan destinasi wisata baru, secara tidak langsung menambah kerentanan wilayah terhadap potensi tsunami. Data paleotsunami yang dihasilkan BRIN ini diharapkan dapat menjadi fondasi dalam penetapan kebijakan tata ruang dan mitigasi bencana, membantu pemerintah daerah menyusun rencana pembangunan yang berwawasan risiko, serta menentukan lokasi evakuasi dan jalur yang efisien.

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

Yang tak kalah penting, BRIN mendorong agar edukasi kebencanaan berbasis riset ditingkatkan secara masif. Ini harus digalakkan di sekolah-sekolah, media massa, hingga komunitas lokal. Pendidikan sejak dini akan membentuk masyarakat yang lebih sadar risiko dan siap menghadapi bencana.

Sebagai peneliti, Purna mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada dan mengikuti arahan dari pemangku kepentingan di daerah masing-masing. "Kalau terjadi gempa kuat di dekat pantai, jangan tunggu sirine atau pemberitahuan. Segera evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Alam sering memberi sinyal pertama, dan kesiapsiagaan adalah kunci keselamatan," pesannya.

Dengan hasil riset ini, BRIN mengajak semua pihak, baik pemerintah, akademisi, media, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun budaya sadar risiko. "Tsunami mungkin tak bisa dicegah, tapi korban jiwa dan kerugian bisa kita minimalisir dengan pengetahuan dan kesiapan," pungkas Purna. Kesiapan dimulai dari pemahaman, dan pemahaman itu harus dipupuk sejak bangku sekolah.

Editor : Pujo Nugroho
#BRIN #selatan Jawa #ancaman #Tsunami #Bencana