Yang menarik perhatian publik adalah, hasil investigasi TNI yang ternyata berbeda dengan keterangan pihak keluarga Prada Lucky sebelumnya.
Misalnya soal motif dan kesaksian para pelaku yang menghajar Prada Lucky hanya menggunakan tangan kosong, tanpa alat apapun. Padahal sebelumnya, pihak keluarga menyebutkan berdasarkan keterangan Prada Lucky saat video call dengan ibunya, pemukulan dilakukan dengan tangan kosong dan selang karet (dicambuk).
Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana mengklaim para pelaku mengeroyok Prada Lucky tanpa menggunakan alat.
"Tidak ada alat ya, lebih kepada menggunakan anggota badan tangan ya. Tidak ada (barang bukti), artinya tidak ada penggunaan alat tertentu itu tidak ada," tegas Kadispenad kepada wartawan di Mabes TNI AD, Jakarta, Senin (11/8).
Saat wartawan bertanya apakah kejadian itu terekam CCTV atau tidak, Kadispenad menyebutkan cuma ada sejumlah saksi. Saksi tersebut bahkan membantu pengungkapan kasus tewasnya Prada Lucky.
"Ada saksi. Kan sudah saya bilang tadi, ada juga beberapa personel yang survive. Itu CCTV yang paling mahal," jawab Kadispenad.
Mengenai motif penganiayaan Prada Lucky, Kadispenad menyebut kematian Prada Lucky atas dasar pembinaan prajurit.
"Pertama tadi, motif, saya sudah sampaikan semuanya atas dasar pembinaan. Jadi pada kesempatan ini saya menyampaikan bahwa kegiatan ini terjadi semuanya pada dasarnya pelaksanaan pembinaan kepada prajurit. Cukup saya jelaskan sampai di situ," tegas Kadispenad lagi.
Dan Kadispenad menambahkan, bahwa kegiatan-kegiatan pembinaan prajurit itu yang mendasari suatu hal terjadi pada kasus tewasnya Prada Lucky.
Walau demikian, Kadispenad belum bisa menjelaskan secara rinci terkait kronologi kekerasan yang dialami Prada Lucky selama masa pembinaan.
Itu sebabnya, pasca kejadian tewasnya Prada Lucky ini, Pimpinan TNI telah menyampaikan kepada seluruh jajaran agar kegiatan pembinaan prajurit harus memenuhi kaidah yang mendukung pelaksanaan tugas prajurit itu di lapangan. Dan peristiwa ini akan menjadi bahan evaluasi untuk kebaikan TNI AD kedepannya
"Sehingga kalau ditanya, apa yang menjadi bahan pelajaran bagi TNI Angkatan Darat? Tentu ini menjadi suatu bahan evaluasi yang cukup serius bagi kita," tambah Kadispenad.
Disisi lain penjelasan Kadispenad mengenai motif tewasnya Prada Lucky justru membuat posisi TNI menuai banyak kritikan dari masyarakat.
Faktanya, dengan berkedok "pembinaan", membuat para prajurit senior dengan leluasa menyiksa Prada Lucky tanpa henti, hingga akhirnya Rabu, 6 Agustus 2025, pukul 11.23 WITA, Prada Lucky pun tak mampu bertahan lagi dan menghembuskan nafas terakhirnya di ruang ICU RSUD Aeramo, Nagekeo, NTT.
Itu sebabnya, ibu Prada Lucky, Epi Seprina tak kuasa menahan tangis saat ditemui Pangdam IX/Udayana Mayor Jenderal TNI Piek Budyakto di rumah duka. Ia bersujud meminta keadialan untuk putranya yang tewas dianiaya para senior.
"Tolong perjuangkan anak saya bapak, saya butuh keadilan, saya serahkan anak saya ke NKRTI sebagai seorang tentara, tolong saya mohon bapak, tolong bapak jangan ada fitnah-fitnah lagi bapak tolong anak saya sudah meninggal, anak kebanggan saya, kalau mati di medan perang saya ikhlas tapi ini ditangan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab," kata Epi Seprina sambil menangis dan bersujud seperti dikutip di live facebook Pos Kupang Senin (11/8/2025).
Bagi sang ibu, Epi Seprina, seluruh harapannya kini ikut sirna bersama kepergian putranya, Prada Lucky, yang baru dua bulan mengenakan seragam TNI.
Kembali terbayang jelas dalam benaknya, ketika tiba pertama kali di RSUD Aeramo. Dia melihat jelas bagaimana kondisi Prada Lucky yang lemah, dengan tubuh penuh luka.
Punggungnya lebam membiru, lengannya penuh sayatan, kakinya bertabur lingkaran hitam gosong bekas sundutan rokok.
Kulitnya bak peta kekejaman, setiap goresan bercerita tentang rasa sakit yang diderita Prada Lucky.
Terlebih lagi Epi Seprina mendengar penjelasan dokter jika ginjal Prada Lucky hancur dan paru-parunya bocor. Bisa dia bayangkan bagaimana derita putranya sebelum merenggang nyawa.
"Jika anak saya tewas di medan perang saya bisa terima, tapi ini meninggal sia-sia karena dianiaya rame-rame sesama prajurit, hancur hati saya," ucap Epi Seprina saat dimintai keterangan wartawan prihal kematian putranya, Prada Lucky.
Diungkapkan Epi Seprina, empat hari sebelumnya, Sabtu, 2 Agustus 2025, Prada Lucky tiba di rumah sakit dengan tubuh nyaris tak mampu berdiri.
Matanya cekung, napasnya terputus-putus. Prada Lucky sempat berbisik pada dokter di ruang radiologi, suaranya lirih saat berkata, “Saya dipukul… oleh senior di barak…”.
Rupanya, kata-kata itu menjad wasiat terakhir Prada Lucky kepada dunia. Karena setelah itu, kondisinya kian melemah bahkan sampai tak bisa berkata-kata lagi karena koma.
Editor : Siti Aeny Maryam