LombokPost - Film animasi Merah Putih: One for All kembali diterpa isu panas jelang tayang di bioskop 14 Agustus.
Seorang animator Pakistan bernama Junaid Miran mengklaim karakter ciptaannya digunakan dalam film tersebut tanpa izin dan tanpa bayaran.
Lewat kolom komentar di kanal YouTube Dibalik Mindplace, Junaid Miran mengaku sebagai pencipta karakter 3D yang menjadi tokoh utama Merah Putih: One for All.
Ia mempertanyakan apakah pihak produksi sudah membayar dan memberi apresiasi atas karyanya.
Komentar Junaid Miran langsung viral di media sosial. Banyak netizen Indonesia terkejut, bahkan mendatangi kanal YouTube pribadinya untuk memberikan dukungan.
Sebagian netizen mempertanyakan status pembayaran aset karakter tersebut, sementara yang lain pesimis tim produksi akan memenuhi hak-hak sang animator Pakistan.
Dalam komentarnya di kanal pribadi, Junaid Miran menegaskan belum ada pihak produksi yang menghubunginya. Ia mengaku enam karakternya dipakai sebagai tokoh utama Merah Putih: One for All.
"Terima kasih atas apresiasinya, kalian dari Indonesia! Untuk menjawab pertanyaan yang paling umum: Tidak, tidak ada seorang pun dari tim produksi yang menghubungi saya atau memberi apresiasi atas penggunaan karakter saya," tulis Junaid Miran.
Sementara itu, sutradara sekaligus produser eksekutif Merah Putih: One for All, Endiarto, membantah tudingan tersebut. Ia menyebut kemiripan aset visual dalam film ini adalah hal wajar di dunia kreatif.
"Sebuah film animasi itu ada kebebasan gaya. Kalau pun mendekati atau mirip, itu sah-sah saja," kata Endiarto.
Menurut data di portal seniman ArtStation, Junaid Miran adalah seorang freelance digital artist asal Lahore, Pakistan.
Ia sudah menekuni 3D modeling hampir satu dekade dan menjual banyak karakter di situs seperti Reallusion. Karakter yang dipersoalkan disebut dijual melalui situs itu.
Film Merah Putih: One for All kini terus menjadi sorotan netizen. Trailer yang dirilis beberapa pekan lalu memicu perdebatan soal kualitas visual, penggambaran latar, hingga sinkronisasi audio. Banyak yang menilai pengerjaan film animasi ini kurang optimal.
Kasus klaim dari Junaid Miran ini pun menambah daftar panjang polemik sebelum film Merah Putih: One for All resmi tayang di layar lebar. (***)
Editor : Alfian Yusni