Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mimpi Prada Lucky Menjadi Prajurit TNI Berujung Maut

Rosmayanthi • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 18:14 WIB

Menjadi Anggota Tentara Negara Indonesia (TNI) menjadi idaman banyak anak muda. Tak tercuali bagi Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), anggota TNI yang tewas ditangan para seniornya.
Menjadi Anggota Tentara Negara Indonesia (TNI) menjadi idaman banyak anak muda. Tak tercuali bagi Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), anggota TNI yang tewas ditangan para seniornya.
LombokPost - Menjadi Anggota Tentara Negara Indonesia (TNI) menjadi idaman banyak anak muda. Tak tercuali bagi Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), anggota TNI yang tewas ditangan para seniornya.

Dalam benaknya, sosok TNI adalah pahlawan bangsa yang siap mati demi negara. Begitu gagah dan terhormat, persis seperti yang dirinya lihat pada sosok sang ayah, Sersan Mayor (Serma) Christian Namo, yang merupakan seorang TNI.

Sejak lahir, dia sudah melihat sosok tangguh TNI dalam jiwa ayahnya. Yang rela meninggalkan keluarga hanya demi menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia (RI).

Begitu terhanyutnya Prada Lucky akan sosok TNI sehingga dia pun memutuskan mengikuti jejak sang ayah menjadi TNI.

Namun niat tersebut sempat ditentang ayahnya, karena tidak ingin Prada Lucky mengalami pendidikan militer yang keras, yang mungkin tak mampu dia tahan.

Selain itu, menjadi TNI bukan perkara mudah bagi anggota, karena sumpah pengabdian bagi negara, membuat TNI harus siap ditugaskan dimana saja dan kapan saja, termasuk di daerah perbatasan dan rawan konflik, yang membuat anggota harus bertarung nyawa.

Tapi Prada Lucky tetap ngotot, dan terus meyakinkan ayahnya bahwa dia sanggup menjalani semua itu. Akhirnya ayahnya pun mengizinkan Prada Lucky mendaftar dan lulus TNI.

Dari sini petaka itu pun dimulai, ketika mulai berdinas, Prada Lucky yang ditempatkan bertugas di Batalyon Teritorial Pembangunan 834 Waka Nga Mere, Nagekeo, NTT, mengalami penyiksaan sadis oleh para seniornya.

Berkedok "pembinaan" para seniornya ini menyiksa Prada Lucky tanpa henti. Dan pada Rabu, 6 Agustus 2025, pukul 11.23 WITA, Prada Lucky pun tak mampu bertahan lagi dan menghembuskan nafas terakhirnya di ruang ICU RSUD Aeramo, Nagekeo, NTT. 

Saat itu pula lah, tak hanya denyut nadi Prada Lucky yang terhenti, tapi seluruh dunia terasa runtuh bagi sang ibu, Sepriana Paulina Mirpey. Seluruh harapannya pun ikut sirna bersama kepergian putranya, Prada Lucky, yang baru dua bulan mengenakan seragam TNI.

Kembali terbayang jelas dalam benaknya, ketika tiba pertama kali di RSUD Aeramo. Dia melihat jelas bagaimana kondisi Prada Lucky yang lemah, dengan tubuh penuh luka.

Punggungnya lebam membiru, lengannya penuh sayatan, kakinya bertabur lingkaran hitam gosong bekas sundutan rokok. 

Kulitnya bak peta kekejaman, setiap goresan bercerita tentang rasa sakit yang diderita Prada Lucky. 

Terlebih lagi Sepriana mendengar penjelasan dokter jika ginjal Prada Lucky hancur dan paru-parunya bocor. Bisa dia bayangkan bagaimana derita putranya sebelum merenggang nyawa.

"Jika anak saya tewas di medan perang saya bisa terima, tapi ini meninggal sia-sia karena dianiaya rame-rame sesama prajurit, hancur hati saya," ucap Sepriana saat dimintai keterangan wartawan prihal kematian putranya, Prada Lucky.

Diungkapkan Sepriana, empat hari sebelumnya, Sabtu, 2 Agustus 2025, Prada Lucky tiba di rumah sakit dengan tubuh nyaris tak mampu berdiri. 

Matanya cekung, napasnya terputus-putus. Prada Lucky sempat berbisik pada dokter di ruang radiologi, suaranya lirih saat berkata, “Saya dipukul… oleh senior di barak…”.

Rupanya, kata-kata itu menjadi wasiat terakhir Prada Lucky kepada dunia. Karena setelah itu, kondisinya kian melemah bahkan sampai tak bisa berkata-kata lagi karena koma

Laporan internal TNI mencatat, pemukulan dilakukan dengan tangan kosong dan selang karet. Awalnya, jumlah diduga mencapai dua puluh orang. Namun hasil investigasi TNI menyatakan tak semuanya ikut memukul, bahkan ada yang berusaha menghentikan aksi kejam tersebut.

Wallahualam, yang pasti nisa dibayangkan, bagaimana ngerinya kondisi Prada Lucky saati itu. Puluhan orang melawan satu tubuh yang bahkan belum genap hafal semua prosedur militer. 

Bak drama sinetron, para netizen pun mulai membayangkan penyiksaan yang dialami Prada Lucky. Bisa jadi saat itu pukulan demi pukulan jatuh seperti hujan batu ditubuhnya. Selang melayang, mendarat di punggung Prada Lucky hingga mengiris kulit. Tangan menghantam perut, sepatu menghajar tulang rusuk.

Setelah dua bulan, Prada Lucky pun tak sanggup bertahan. Dia pernah mencoba lari, bersembunyi di rumah ibu angkatnya, Ibu Iren.

Dia berharap malam itu aman. Ia sempat melakukan video call dengan ibunya, Seprina. 

Saat itulah Seprina melihat wajah anaknya di layar, bibir pecah, mata berkaca-kaca, suaranya bergetar saat berbicara.

Ibu kandung Prada Lucky, Sepriana menuntut keadilan atas kematian putranya.
Ibu kandung Prada Lucky, Sepriana menuntut keadilan atas kematian putranya.

“Mama… dada sakit… aku dicambuk Dansi…," ucap lirih Prada Lucky pada Sepriana.

Saat itu firasat Sepriana sudah tidak baik. Namun Anggota TNI yang menjemput Prada Lucky di rumah ibu angkat, menyakinkan Seprina melalui video call, bahwa apa yang dialami anak Prada Lucky hanya bagian dari pembinaan.

Dengan berat hati Sepriana percaya dan berusaha meyakinkan dirinya jika apa yang dialami Prada Lucky memang menjadi resiko yang harus diterima setiap prajurit TNI.

Namun sejak saat itu, Sepriana malah terus bermimpi didatangi putranya Prada Lucky. Bak firasat buruk, Sepriana pun memutuskan berangkat ke tempat Prada Lucky bekerja untuk melihat kondisi putranya secara langsung.

Tapi apa yang terjadi, begitu tiba, Sepriana mendapati Prada Lucky sudah berada di ruang ICU RSUD Aeramo dalam keadaan koma, tidak bisa berkomunikasi. 

Dokter yang merawat Prada Lucky mengatakan perut putranya sudah penuh cairan, karena ginjalnya bocor dan paru-parunya rusak. Kondisi ini yang membuat Prada Lucky tak mampu bertahan dan menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu, 6 Agustus 2025, pukul 11.23 WITA.

Kini, di ruang duka, Sepriana, tak berhenti memandangi wajah anaknya dalam peti. Bibirnya bergetar, suaranya pecah, air matanya mengalir membasahi kain putih yang menutupi tubuh putranya.

“Nak… Mama cuma mau kau pulang bawa cerita… bukan bawa tubuhmu di peti,” ucap Sepriana meratapi nasib putranya Prada Lucky.

Sepriana pun memeluk peti jenazah Prada Lucky lebih erat. Dunia boleh berjalan, tapi bagi seorang ibu, waktu berhenti di detik kematian anaknya.

Kini disetiap malam Sepriana akan kembali pada kenangan apa yang telah dialami Prada Lucky selama dua bulan menjadi prajurit TNI. Ratusan pukulan, tendangan, selang, cambuk, tawa para senior, jeritan putranya, sehingga rasa sesak pasti akan dialami Sepriana seumur hidupnya.

Di samping Sepriana ada juga sang ayah, Serma Christian Namo, seorang prajurit TNI AD, yang berdiri kaku. Dada seorang tentara biasanya terbuat dari baja, tapi hari itu, baja itu telah berkarat. 

Christian Namo berang karena putranya Prada Lucky tewas karena dianiaya para seniornya.
Christian Namo berang karena putranya Prada Lucky tewas karena dianiaya para seniornya.

“Anak ganteng, Lucky. Bapa salah, bapa salah kasih lu (kamu) kerja Lucky. Bapa sudah bilang, kenapa lu mau jadi tentara. Bapa minta maaf," ucap lirih Christian sambil menangis. Dia benar-benar menyesal mengizinkan putranya masuk ke dunia yang justru merengut nyawa Prada Lucky.

Di langit malam Nagekeo, bintang-bintang terasa lebih jauh, seolah ikut malu menyaksikan manusia yang tega membunuh sesamanya, lalu menyebutnya sebagai “pembinaan”.

Empat anggota TNI kini ditahan Subdenpom Ende, tapi peran mereka masih diselidiki. Hal ini sesuai penjelasan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana.

"Saat ini dari sejumlah personel yang diperiksa baik terduga pelaku maupun saksi-saksi, sementara oleh penyidik Pomdam IX/Udayana sudah ditetapkan 4 orang tersangka dan dilaksanakan penahanan di Subdenpom IX/1-1 di Ende," kata Wahyu Yudhayana Minggu (10/8/2025).

Keempat tersangka tersebut adalah Pratu AA, Pratu EDA, Pratu PNBS dan Pratu ARR. 

"Dan pemeriksaan kepada yang bersangkutan akan dilanjutkan sebagai tersangka untuk diketahui peran masing-masing sehingga nantinya dapat ditentukan pasal yang akan dikenakan termasuk tahapan-tahapan lanjutannya," tambah Wahyu Yudhayana.

Selain itu, sebanyak 16 prajurit lainnya masih diperiksa. Wahyu Yudhayana mengatakan tidak menutup kemungkinan akan ada penambahan tersangka.

"Selanjutnya untuk 16 orang lainnya saat ini masih terus dilakukan pemeriksaan lanjutan dan tidak menutup kemungkinan ada tersangka baru dari hasil pemeriksaan tersebut, perkembangannya nanti kita lihat dan akan disampaikan lebih lanjut hasil pemeriksaannya," tuturnya.

Sayangnya, pihak keluarga Prada Lucky tak puas dengan penetapan tersangka yang hanya empat orang ini. Terutama ibu Prada Lucky, Epi Seprina yang ikut menjadi bersaksi jika 20 orang prajurit TNI itu ikut terlibat melakukan penganiaya terhadap putranya, sesuai pengakuannPrada Lucky melalui video call saat melarikan diri.

"20 orang itu semua ikut pukul anak saya, saya dengar sendiri dari pengakuan Lucky, saya minta mereka semua diproses, termasuk pimpinannya, saya dengar langsung dari anak saya mereka ikut pukul pakai selang," ucap Epi Sepriana dikutip dari YouTube Kupang Pos.

Bagi Sepriana perbuatan 20 prajurit ini benar-benar biadap dan tidak berperikemanusiaan. Masih jelas teringat dibenaknya bagaimana kondisi Prada Lucky saat dirinya dirinya tiba di RS.

"Saya tiba Lucky sudah berada diruang ICU, koma, kata dokter ginjalnya sudah bocor dan paru-parunya rusak akibat hantaman, bahkan bekas memar diri sekitar perut masih kelihatan, biadap," ucap Sepriana penuh emosi.

Nama TNI kini tengah dipertaruhkan, karena apa yang menimpa Prada Lucky bukanlah kasus pertama.

Contoh saja Tahun 2023, Prada MZR juga tewas karena penganiayaan. Jika dalam kasus Prada Lucky ini kembali mengambang di udara, maka kepercayaan publik akan ikut sirna.

Selain itu, berapa banyak lagi prajurit muda yang harus mati sia-sia karena tradisi kekerasan berkedok "pembinaan" yang masih dilakukan oleh sekelompok oknum prajurit yang ingin merusak citra TNI.

Ibu kandung Prada Lucky, Sepriana menuntut keadilan atas kematian putranya.
Ibu kandung Prada Lucky, Sepriana menuntut keadilan atas kematian putranya.
Christian Namo berang karena putranya Prada Lucky tewas karena dianiaya para seniornya.
Christian Namo berang karena putranya Prada Lucky tewas karena dianiaya para seniornya.
Editor : Siti Aeny Maryam
#Prada Lucky #prajurit #tewas #tubuh #Seniornya #TNI