LombokPost - Upaya pemadaman sumur minyak yang terbakar di Desa Gandu, Kabupaten Blora, belum membuahkan hasil. Hingga Selasa (19/8), api masih terus berkobar.
Pantauan Radar Bojonegoro Grup Jawa Pos, Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Blora hanya mampu melokalisir api agar tidak merembet ke lingkungan sekitar. Pemkab akhirnya meminta bantuan Pertamina EP Cepu.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora Mulyowati menyampaikan, api yang keluar dari sumur minyak masih cukup besar. Karena itu, perlu penanganan ekstra.
''Meskipun kejadian ini bukan pada sumur milik Pertamina EP Cepu Field, tetapi karena blow out api cukup besar dengan gas yang cukup tinggi, kami berkoordinasi dengan Pertamina dan meminta bantuan unit pemadam beserta tim-nya untuk melakukan penanganan bersama pemkab,” jelas Mulyowati.
Manager Communication Relations & CID Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina Rahmat Drajat mengatakan, pihaknya telah mengirimkan bantuan kendaraan dan personel untuk membantu memadamkan api.
“Hal ini sejalan dengan prioritas Pertamina untuk mengutamakan keamanan dan keselamatan, serta atas dasar kemanusiaan,'' katanya.
Ia juga menyampaikan, eksplorasi sumur minyak seharusnya dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip keselamatan serta tetap patuh terhadap peraturan perundang-undangan. “Hal ini guna terciptanya keselamatan, keamanan, dan kenyamanan, baik di lingkungan Perusahaan maupun masyarakat sekitar,” jelasnya.
Sebagaimana diberitakan, kebakaran sumur minyak itu terjadi pada Minggu (17/8). Api sempat memicu ledakan dan menjilat rumah warga yang ada di sekitar sumur. Tiga orang meninggal dunia dan belasan warga mengalami luka bakar.
Musibah itu juga membuat puluhan warga mengungsi. Mereka khawatir api merembet hingga ke rumah-rumah warga. Hingga kemarin, belum jelas penyebab kebakaran tersebut. Yang pasti, sumur minyak itu dikelola warga tanpa izin resmi.
Polisi Masih Selidiki Penyebab Kebakaran
Polres Blora segera menertibkan aktivitas pertambangan minyak ilegal. Kapolres Blora AKBP Wawan Andi Susanto sudah berkoordinasi dengan Bupati Blora dan Polda Jawa Tengah untuk memperketat pengawasan terhadap sumur-sumur minyak ilegal yang masih beroperasi.
“Penertiban sumur-sumur masyarakat akan ditingkatkan kembali,” ujar AKBP Wawan di lokasi kejadian, Senin (18/8).
Hingga kemarin Polres Blora masih menyelidiki penyebab kebakaran sumur minyak di Dukuh Gendono. Empat orang saksi telah dimintai keterangan. Mereka adalah warga yang rumahnya berdekatan dengan lokasi sumur minyak. “Untuk pemilik sumur, sementara ini belum dimintai keterangan,” jelasnya.
Polres Blora juga telah berkoordinasi dengan tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Tengah untuk penyelidikan lebih lanjut. Namun, kehadiran tim masih menunggu api benar-benar padam. “Kalau api sudah padam, insya Allah tim Labfor akan datang ke lokasi,” tambahnya.
Kerahkan Empat Eskavator
Pantauan Radar Kudus Grup Jawa Pos, empat eskavator kemarin diterjunkan untuk membantu pemadaman sumur minyak di Dukuh Gendono, Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo. Eskavator itu mengeruk tanah dan disusun mengelilingi area kebakaran.
Hal itu sebagai alternatif proses pemadaman api. Pasalnya, dua hari dilakukan penyemprotan dengan air dan busa, api tetap tidak padam. Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora Agung Tri menjelaskan, empat eskavator itu akan membangun tanggul di sekitar lokasi sumur. Tujuannya untuk menahan panas ke area permukiman.
"Kemudian, fungsi kedua adalah mempersempit semburan. Jadi nanti setelah dipersempit dengan tanggul, akan dipasang seng, kemudian kita laksanakan pemadaman," jelasnya.
Agung belum bisa memastikan kapan proses pemadaman api selesai. “Karena terkendala mata bor yang masih di dalam dan bor atas belum kelihatan," jelasnya.
Sementara itu, jumlah pengungsi hingga kemarin terdata sebanyak 750 orang. Mereka tinggal di tenda-tenda di balai desa dan lapangan voli. Ada juga warga yang mengungsi ke rumah kerabatnya. (ari/hul/oni/JPG/r3)