LombokPost – Di bawah hiruk pikuk kehidupan modern Jakarta dan kota-kota besar di Pulau Jawa, terbentang sebuah ancaman geologis yang kerap terlupakan: Sesar Baribis.
Sesar aktif terpanjang di Pulau Jawa ini membentang dari timur ke barat, melintasi wilayah selatan Indramayu, sisi barat Subang dan Purwakarta, Karawang, Cibatu (Bekasi), Depok, Jakarta, hingga Tangerang dan Rangkasbitung.
Khusus di Jakarta Selatan, sesar ini membentang sepanjang 25 kilometer, memunculkan dugaan serius sebagai potensi pemicu gempa bumi dahsyat di jantung ibu kota.
Dikutip dari skalaindonesia.org menuliskan sejarah mencatat, Sesar Baribis bertanggung jawab atas dua gempa bumi besar di masa lalu.
Pada tahun 1834, gempa berkekuatan 7.0 Mw melanda Bogor, menyebabkan kehancuran massal di sekitarnya.
Tak berhenti di situ, pada tahun 1862, sesar ini kembali bergeser dan memicu gempa berkekuatan 6.5 Mw di Kabupaten Karawang.
Potensi ancaman ini semakin mengkhawatirkan mengingat pesatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan infrastruktur di wilayah yang dilalui sesar ini.
Sayangnya, mayoritas pembangunan rumah hingga saat ini masih belum memperhatikan aspek ketahanan gempa.
Ini berarti, jika Sesar Baribis kembali bergeser, dampak dan kerugian yang timbul bisa sangat signifikan, jauh melampaui kejadian di masa lalu dengan populasi yang jauh lebih kecil.
Sebagai negara yang terletak di "Ring of Fire" dan sangat rawan bencana gempa bumi, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Para ahli menilai, Indonesia belum memaksimalkan daya ingat kolektif dan pengetahuan lokal sebagai salah satu bentuk mitigasi.
Pengetahuan tak tertulis yang tersimpan dalam kearifan lokal masyarakat, seperti legenda, cerita mulut ke mulut, syair, atau tembang/kidung, masih minim digali dan didokumentasikan.
Padahal, informasi sejarah bencana yang tersembunyi dalam tradisi lisan dan naskah kuno ini bisa menjadi kunci untuk memahami pola dan karakteristik gempa di masa lalu.