Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

PG Mojo, “The Last Man Standing” di Tengah Salin Rupa Pabrik Gula, Berdiri Tahun 1883 dengan Modal 350 Ribu Gulden

Lombok Post Online • Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:02 WIB
BERDIRI SEJAK 1883: Suasana di PG Mojo, Sragen (28/3). Pabrik gula ini bisa terus bertahan berkat melimpahnya suplai bahan baku gula.
BERDIRI SEJAK 1883: Suasana di PG Mojo, Sragen (28/3). Pabrik gula ini bisa terus bertahan berkat melimpahnya suplai bahan baku gula.

LombokPost - Kecuali PG Mojo di Sragen, pabrik-pabrik gula di eks Karesidenan Surakarta tak lagi operasional dan banyak yang bersalin rupa menjadi destinasi wisata.

Bagi warga sekitar, PG Mojo tak hanya berkontribusi menyediakan lapangan kerja, tapi juga memberi pengaruh dalam urusan kuliner.

DI kabupaten-kabupaten tetangganya, pabrik gula (PG) telah beralih fungsi. PG Colomadu di Karanganyar misalnya, kini menjadi De Tjolomadoe, sebuah kompleks wisata yang meliputi museum, pusat konvensi, dan area komersial.

Di kabupaten yang sama, PG Tasikmadu juga diplot menjadi kawasan wisata heritage dan pusat perekonomian baru. Begitu pula PG Gembongan di Sukoharjo yang sekarang menjadi tempat wisata dengan koleksi barang-barang antik.

Semua PG di kawasan Solo Raya, Jawa Tengah, telah berhenti beroperasi memproduksi gula. Padahal, dulu eks Karesidenan Surakarta dikenal sebagai salah satu lumbung gula nasional.

The last man standing, alias yang masih bertahan, hanyalah PG Mojo di Sragen. Manajer Pengolahan PG Mojo Sugiyanto mengatakan, keberlanjutan PG Mojo tak lepas dari suplai bahan baku yang melimpah.

Tebu dari wilayah Sragen tak hanya mencukupi kebutuhan lokal, tapi juga bisa dikirim ke pabrik gula di daerah lain.

“Tahun lalu kami menggiling 264.000 ton tebu dan menghasilkan 11.000 ton gula. Tahun ini target giling naik menjadi 277.000 ton,” jelas Sugiyanto kepada Radar Solo Grup Jawa Pos Maret lalu (28/3).

Masih eksisnya pabrik gula di Desa Mojo, Sragen, itu patut digarisbawahi karena fenomena robohnya pabrik-pabrik gula ini tak hanya terjadi di Solo Raya. Di Jogjakarta contohnya, PG Madukismo di Bantul juga menjadi satu-satunya PG yang masih terus menggiling sampai kini.

Padahal, pada masa jayanya, PG tak hanya menjadi pusat perekonomian. Ia juga menjadi semacam sentra tumbuh kembangnya kebudayaan.

Nyai Ontosoroh, tokoh terkenal dalam tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, misalnya, berasal dari latar belakang PG Tulangan di Sidoarjo, Jawa Timur.

Investasi Besar

Sejarawan alumnus Program Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta Mawardi Purbo Sanjoyo menyebutkan, dari berbagai data literasi yang didapatnya, PG Mojo berdiri pada 1883 dengan modal 350.000 gulden. Sebuah nilai investasi yang tergolong fantastis.

Didukung kebijakan tanam paksa komoditas tebu pada saat itu, gula menjadi komoditas ekspor yang berjaya. “Pembangunan PG Mojo sebagai bagian dari strategi kolonial untuk meraup untung dari gula, baik untuk pasar domestik maupun ekspor,” ujarnya, seperti dikutip dari Radar Solo Grup Jawa Pos.

Menurut Sugiyanto, revitalisasi menjadi kunci napas panjang PG Mojo. Setelah sempat mati suri, kini kapasitas giling mencapai 4.000 ton tebu per hari.

Di wilayah Sragen, terdapat sekitar 4.000 hektare lahan tebu yang menjadi sumber bahan baku utama. Dulu persaingan dengan PG lain memang ketat. Tapi, PG Mojo punya keunggulan dari segi efisiensi biaya.

“Ongkos kirim kami jauh lebih murah karena lokasinya dekat dengan lahan tebu. Ini yang membuat kami tetap eksis,” tandasnya.

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

PG Mojo juga memberikan kontribusi besar terhadap tenaga kerja lokal. Saat musim giling, pabrik mempekerjakan sekitar 600 karyawan, sementara di luar musim giling terdapat 250 orang yang tetap bekerja.

Menurut Mawardi, keberadaan PG Mojo punya nilai sejarah tinggi, dari jejak tanam paksa, era kolonial, hingga nasionalisasi.

Maraknya perkebunan tebu dan industri gula pada saat itu juga berdampak pada budaya kuliner masyarakat sekitarnya.

“Sehingga wajar, sampai saat ini karakter kuliner masyarakat Jawa di wilayah yang kaya dengan kebun tebu memiliki karakter rasa manis,” ujarnya. (AHMAD KHAIRUDIN, Sragen/nik/ttg/JPG/r3)

Editor : Jelo Sangaji
#Kompleks #nasional #Kuliner #wisata #lapangan kerja #bahan baku #gula