Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pulau Dewata Berduka, 11 Warga Meninggal Dampak Cuaca Ekstrem, Sejumlah Warga Masih dalam Pencarian Tim SAR

Lombok Post Online • Kamis, 11 September 2025 | 11:23 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Cuaca ekstrem memicu banjir dan angin kencang di wilayah Denpasar dan Badung sejak Selasa (9/9). Selain itu, bangunan roboh, kendaraan rusak, hingga longsor.

Tak kurang 11 orang ditemukan meninggal dunia.

Dari kawasan Denpasar dan Badung, kurang lebih tujuh orang ditemukan meninggal dunia akibat terbawa arus maupun tertimpa runtuhan bangunan.

Tim gabungan masih melakukan pencarian korban lain yang dilaporkan hilang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, seorang pria tanpa identitas ditemukan meninggal dunia.

Jenazah Mr X ini, ditemukan di penghambat arus air Bendungan Muara Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung, Rabu (10/9), sekitar pukul 09.40 WITA.

Korban diduga hanyut dan tidak mampu menyelamatkan diri. Identitas hingga kini belum diketahui.

Beberapa jam berselang, jasad perempuan tanpa identitas (Mrs X) juga ditemukan di Tukad Klecung, Umalas, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Badung, sekitar pukul 12.00 WITA.

Berdasarkan perkiraan, Mrs. X ini hanyut dari kawasan Kerobokan Tengah dan tersangkut di lokasi tersebut.

Proses evakuasi dilaksanakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Badung.

Selain dua korban akibat hanyut, musibah ini juga menimpa warga di kawasan Kumbasari, Denpasar Barat.

Di mana enam orang jadi korban bangunan toko ambruk dan tiga pedagang diterjang banjir.

’’Dari data diperoleh, terdapat sembilan korban,’’ ujar saksi petugas, Rabu (10/9).

Saat dikonfirmasi terpisah, Kepala Kantor SAR Denpasar I Nyoman Sidakarya menyatakan, peristiwa tragis bangunan toko runtuh dan menimbun sejumlah orang.

Tim SAR Gabungan dari Basarnas Bali, BPBD, TNI, dan Polri segera dikerahkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi.

’’Dikatakan, enam orang tertimpa reruntuhan bangunan, dengan rincian doa selamat dan empat meninggal dunia,’’ cetusnya.

Korban yang selamat adalah Muis bersama anak laki-lakinya, Ousay. Bapak dan anak ini berhasil dikeluarkan dari reruntuhan Toko Kain Centrum dalam kondisi hidup.

’’Namun, istri Muis bernama Nadira dan anak perempuannya, Maimunah, tidak berhasil diselamatkan,” jelas Sidakarya.

Sementara itu, dari Toko Kain Tasnim, dua korban ditemukan meninggal dunia. Yakni, pemilik toko bernama Tasnim dan seorang laki-laki bernama Parwa Husein.

Selain korban dari dalam bangunan, tiga orang pedagang di sekitar lokasi juga menjadi korban. Seorang pedagang, Ni Wayan Lenyot, ditemukan meninggal dunia.

Adapun dua pedagang lainnya, hingga saat ini masih dalam pencarian tim SAR.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Proses evakuasi dilakukan dengan menggunakan alat berat dan didukung penuh oleh relawan.

’’Petugas terus berupaya melakukan pencarian hingga seluruh korban ditemukan,’’ jelasnya.

Hingga berita ini diturunkan, area sekitar lokasi masih dipasangi garis polisi untuk mengantisipasi adanya potensi runtuhan susulan.

Polresta Denpasar belum merespons terkait data-data korban.

Dari Jembrana, seorang warga Desa Pengembangan, Kecamatan Nagara, ditemukan meninggal setelah sempat dilaporkan terseret arus air banjir.

Korbannya, Nita Kumalasari, 23 tahun dibonceng motor suaminya, Bilal Ahmad, 27 tahun, saat dari Dusun Munduk, Rabu pagi (10/9), sekitar pukul 02.30 WITA.

Mereka hendak pulang ke rumahnya di Dusun Kombading.

”Korban dibonceng suaminya dengan sepeda motor, melintasi jalan yang banjir,” kata Perbekel Desa Pengambengan Kamaruzzaman.

Nahas, saat melintas di jalan Dusun Munduk yang terendam banjir dengan arus deras, motor terseret arus hingga terjatuh.

Nita Kumalasari dan suaminya juga terseret arus kuat.

Suaminya ditemukan selamat dan motor ditemukan tidak jauh dari lokasi kejadian.

Sedang Nita ditemukan tidak bernyawa di wilayah Dusun Munduk.

Jenazah dibawa ke Puskesmas Pengambengan.

”Korban tidak ada luka-luka. Ini karena tenggelam. Korban sudah meninggal dunia,” ujar Direktur Rumah Sakit Umum (RSU) Negara dr Ni Putu Eka Indrawati yang melakukan pemeriksaan korban.

Menurut dokter Eka, korban meninggal tengah hamil 2 bulan.

Sementara suami korban masih dirawat intensif di Puskesmas Pengambengan.

Selain korban meninggal terseret arus, seorang warga dilaporkan tewas karena tersengat listrik. Korbannya, I Komang  Oka Sudiastawa,  38 tahun, warga Banjar Sebuah, Desa Dangintukadaya, Jembrana.

Korban meninggal dunia karena tersengat listrik saat terjadi banjir, Rabu dini hari (10/9).

Kepala Pelaksana BPBD Jembrana I Putu Agus Artana Putra mengatakan, korban tersengat aliran listrik saat membuka pagar depan rumah sekitar pukul 03.00 WITA.

”Menurut informasi warga, korban membuka pagar kemudian tiba-tiba terjatuh,” ujarnya.

Korban saat itu hendak keluar dari halamannya rumah karena banjir menggenangi jalan rumah dan Jalan Denpasar-Gilimanuk yang berada di depan rumahnya.

Diduga korban saat menggeser pagar menyentuh kabel hingga putus.

Korban ditemukan mengambang di air depan rumahnya lalu dievakuasi ke rumah sakit.

Jenazah korban masih dititipkan di rumah sakit, karena rumahnya dan permukiman sekitarnya banjir.

”Banjir yang menggenangi permukiman warga hingga Jalan Denpasar-Gilimanuk ini diakibatkan meluapnya air sungai di sisi utara jalan,” ujar Perbekel Dangintukadaya I Gusti Putu Murdi ketika saat dihubungi sedang mengecek kondisi banjir di Sebual.

Kabar duka juga datang dari Gianyar. Hal ini menyusul dua warga Gianyar meninggal dunia setelah tertimpa longsor. Musibah longsor dipicu hujan lebat pada Rabu (10/9).

Kedua yang tak tertolong itu, tertimpa reruntuhan tembok rumah, tidak sempat menyelamatkan diri karena bencana terjadi saat mereka terlelap tidur di malam hari.

Di Desa Lebih, Kecamatan Gianyar, seorang lansia, Ni Made Rupet, 87 tahun, meninggal dunia setelah tembok rumahnya roboh akibat longsor. Kejadian serupa menimpa Ni Made Latip, 75 tahun, di Desa Temesi, yang juga tertimpa tembok.

Selain menelan korban jiwa, longsor juga merusak rumah warga lain.

Di Desa Mas, rumah milik Wayan Budiasa, seorang warga lajang dengan kondisi depresi, ikut terdampak.

Beruntung, ia selamat dari musibah dan telah dievakuasi ke rumah tetangganya.

Bencana ini segera direspons Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Gianyar.

Mereka meninjau lokasi kejadian dan menyerahkan bantuan sembako kepada keluarga korban sebagai bentuk empati.

”Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa warga,” ujar Kapolres Gianyar AKBP Chandra C. Kesuma.

Kehadiran aparat dikatakan bukan hanya untuk melihat langsung kondisi di lapangan, tetapi mengecek penanganan berjalan baik.

”Kami memberikan dukungan moril kepada masyarakat,” terangnya.

Kapolres juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, mengingat curah hujan yang masih tinggi.

Sementara itu, di beberapa lokasi lain di Gianyar, banjir juga menyebabkan sejumlah rumah terendam.

Petugas telah mengevakuasi beberapa warga ke kantor desa untuk mengungsi.

Sekda Gianyar Gusti Bagus Adi Widya Utama alias Gus Bem, menegaskan bahwa penanganan bencana ini melibatkan sinergi antara pemerintah, TNI, dan Polri.

”Ini bentuk sinergi kami. Membantu masyarakat untuk menuntaskan bencana,” jelas Gusti Bem, sapaan akrabnya.

 

Kondisi motor dan mobil warga di Perumahan Calista, Ubung Kaja, Denpasar Utara, usai banjir, Rabu (10/9)
Kondisi motor dan mobil warga di Perumahan Calista, Ubung Kaja, Denpasar Utara, usai banjir, Rabu (10/9)

Disebabkan Gelombang Rossby

Kepala Balai Besar MKG Wilayah III Cahyo Nugroho menjelaskan, dari analisis, dinamika atmosfer menunjukkan kondisi ekstrem ini dipicu oleh aktifnya gelombang Ekuatorial Rossby yang memicu pertumbuhan awan-awan konvektif, ditambah dengan kondisi kelembaban udara dalam katagori lembab hingga lapisan 200 mb (12000 meter).

”Kondisi ini mendukung pembentukan awan konvektif dengan puncak awan yang tinggi sehingga menimbulkan hujan lebat disertai kilat atau petir, ” terangnya.

Dalam tiga hari ke depan, kata dia, Bali berpotensi hujan ringan-sedang.

”Imbauan kepada masyarakat agar memperhatikan informasi cuaca terkini yang dikeluarkan oleh BMKG melalui media sosial resmi,” pungkasnya.

Dana BTT

Gubernur Bali Wayan Koster menggelontorkan Dana Belanja Tidak Terduga (BTT) yang ada dalam APBD Pemprov Bali dan Pemkot Denpasar untuk penanganan bencana.

Koster menerangkan, dari hasil pantauan sementara, banjir bandang yang disebabkan meluapnya Tukad Badung mengakibatkan bagian belakang sejumlah bangunan toko di Jalan Sulawesi amblas.

Selain itu, air juga masuk ke dalam toko yang menyebabkan kerusakan barang dagangan yang didominasi jenis tekstil.

Akibat naiknya volume air Tukad Badung, banjir juga menyapu bagian basement dan pelataran Pasar Kumbasari sehingga menghanyutkan barang-barang para pedagang.

Koster menambahkan, pihaknya telah meminta BPBD bersinergi dengan pihak terkait dan masyarakat untuk mencari korban yang hanyut dibawa arus banjir.

”Bagi yang korban meninggal dunia ada juga kami siapkan santunannya Rp 15 juta,” kata Koster.

Korban Meninggal Dampak Cuaca Ekstrem di Bali

1). Mr X, jenazah ditemukan di penghambat arus air Bendungan Muara Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung, Rabu pagi (10/9).

2). Mrs X, ditemukan di Tukad Klecung, Umalas, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Badung, sekitar pukul 12.00 WITA, Rabu (10/9).

3). Dari reruntuhan Toko Kain Centrum, Denpasar, Nadira dan anak perempuannya, Maimunah, tak berhasil diselamatkan.

4). Dari Toko Kain Tasnim, Denpasar, dua korban ditemukan meninggal dunia; Tasnim dan Parwa Husein. Selain itu, seorang pedagang, Ni Wayan Lenyot, ditemukan meninggal dunia.

6). Dari Jembrana, seorang warga Desa Pengembangan, Kecamatan Negara, Nita Kumalasari, 23, yang hamil 2 bulan, meninggal terseret arus.

7). Masih di Jembrana, I Komang  Oka Sudiastawa,  38, warga Banjar Sebuah, Dangintukadaya, Jembrana, meninggal setelah tersengat listrik di pagar rumahnya.

8). Dari Gianyar, 2 orang juga meninggal dunia. Di Desa Lebih, Ni Made Rupet, 87, tertimpa tembok rumahnya yang roboh akibat longsor. Kejadian serupa menimpa Ni Made Latip, 75, di Desa Temesi.

(dre/feb/bas/dra/djo/aph/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#Bali #angin kencang #bmkg #BPBD #Banjir #badung #Cuaca Ekstrem