LombokPost - Pemprov NTB kembali mencatat sejarah penting dalam tata kelola pekerja migran Indonesia.
Desa Migran Emas resmi diluncurkan sebagai inovasi nasional yang menempatkan desa sebagai pusat perlindungan dan pemberdayaan pekerja migran.
Sebuah langkah strategis untuk memastikan migrasi yang aman, prosedural, dan bermartabat, Kamis (11/9).
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin, didampingi Wakil Menteri Christina Aryani secara virtual, serta perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan.
Hadir pula Wakil Gubernur (Wagub) NTB Indah Dhamayanti Putri.
Menteri Mukhtarudin menyampaikan apresiasi kepada pemprov, pemerintah kabupaten/kota, serta seluruh pemangku kepentingan di NTB atas dukungan terhadap terbentuknya Desa Migran Emas.
"NTB dikenal sebagai salah satu daerah pengirim pekerja migran terbesar di Indonesia dengan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional maupun daerah," katanya.
Menteri Mukhtarudin menekankan, di balik besarnya angka penempatan pekerja migran, masih terdapat tantangan serius berupa penempatan non-prosedural yang berpotensi menimbulkan eksploitasi, kekerasan, hingga tindak pidana perdagangan orang.
Karena itu, Desa Migran Emas dirancang untuk memastikan perlindungan sejak awal proses migrasi.
“Desa harus menjadi gerbang pertama informasi, pelatihan, dan keterampilan sehingga pekerja migran dapat berangkat dengan aman dan kembali dengan sejahtera,” tegasnya.
Wagub NTB Indah Dhamayanti Putri menegaskan, persoalan pekerja migran kerap bermula dari data yang tidak akurat sejak awal.
Dia menyampaikan, keberadaan Desa Migran Emas akan membantu memperbaiki sistem dari hulu agar permasalahan serupa tidak lagi terulang.
Berdasarkan data, NTB menempatkan 27.003 PMI pada 2023, 21.252 PMI pada 2024, dan hingga September 2025 sebanyak 14.854 orang.
Dia menegaskan, peluncuran 22 Desa Migran Emas di tujuh kabupaten ini sangat strategis.
Desa akan menjadi pusat layanan informasi migrasi, pendidikan keterampilan, literasi keuangan, serta dukungan sosial bagi keluarga PMI.
"Kita ingin NTB menjadi contoh migrasi yang aman dan bermartabat,” ujarnya.
Plt Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB) Baiq Nelly Yuniarti menegaskan kesiapan jajarannya dalam mengawal implementasi Desa Migran Emas di lapangan.
Menurutnya, kehadiran program ini sejalan dengan arah kebijakan daerah yang menempatkan perlindungan PMI sebagai prioritas.
“Desa Migran Emas bukan hanya simbol, tapi ruang nyata bagi calon pekerja migran dan keluarganya untuk mendapat informasi, pembekalan, serta perlindungan sejak dari kampung halaman. Kami berkomitmen menjadikan NTB sebagai provinsi percontohan migrasi aman,” ucapnya.
Perwakilan Kemenko Polhukam yang hadir juga menegaskan pentingnya sinergi pusat dan daerah dalam program ini.
Desa Migran Emas disebut sebagai paradigma baru, dengan desa ditempatkan sebagai garda terdepan tata kelola migrasi.
Data menunjukkan, pada semester pertama 2025 NTB tercatat sebagai provinsi penyumbang PMI keempat terbesar nasional dengan sekitar 15.300 orang.
Remitansi yang dikirim PMI asal NTB dari Januari hingga Juli 2025 mencapai Rp 76 miliar, angka yang mencerminkan peran penting pekerja migran NTB dalam pembangunan ekonomi.
Sebagai penguatan, Wagub NTB bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, kepala desa, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas se-NTB membacakan Deklarasi Penempatan dan Perlindungan PMI dari Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Deklarasi ini menandai komitmen bersama dalam mencegah perekrutan ilegal, memperkuat pengawasan di desa, serta melindungi warga dari potensi eksploitasi.
Skill Center
Bertepatan dengan peluncuran Desa Migran Emas, Disnakertrans NTB juga meresmikan berdirinya Skill Center sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia.
Kehadiran Skill Center ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas dan daya saing tenaga kerja NTB, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Acara peluncuran ini digelar di Rinjani Ballroom Hotel Lombok Raya.
Plt Kepala Disnakertrans NTB Baiq Nelly Yuniarti mengatakan, Skill Center dibangun sebagai jawaban atas tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif.
“Skill Center ini bukan hanya tempat pelatihan teknis, tetapi juga pusat pengembangan SDM secara menyeluruh. Kami ingin menyiapkan generasi tenaga kerja NTB yang terampil, berkarakter, dan mampu bersaing di era global,” tegasnya.
Skill Center memiliki berbagai fungsi penting. Pertama, menjadi pusat pelatihan dan sertifikasi kompetensi, yang menyelenggarakan pelatihan berbasis kebutuhan industri sekaligus memfasilitasi sertifikasi profesi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) terakreditasi. Bidang pelatihan yang dibuka mencakup sektor teknik, pariwisata, pertanian, perikanan, IT, hingga kewirausahaan.
Kedua, Skill Center juga fokus pada pengembangan soft skills dan karakter kerja.
Peserta tidak hanya dilatih keterampilan teknis, tetapi juga etika, disiplin, komunikasi, dan kemampuan kerja sama tim agar siap memasuki dunia kerja maupun membuka usaha sendiri.
Selain itu, Skill Center akan berperan sebagai pusat informasi pasar kerja, menyediakan data peluang kerja di dalam dan luar negeri, serta menjadi jembatan antara pencari kerja dan perusahaan.
Melalui program ini, Disnakertrans NTB juga berkomitmen mendukung pemberdayaan tenaga kerja lokal agar mampu bersaing dengan tenaga kerja dari luar daerah.
Menurutnya, Skill Center didesain untuk mendukung program transmigrasi produktif dengan memberikan pelatihan keterampilan bagi calon transmigran agar mandiri dan produktif di lokasi tujuan.
Tidak hanya itu, fasilitas ini juga berfungsi sebagai inkubator wirausaha, membimbing alumni pelatihan dalam merintis usaha kecil melalui pendampingan manajemen, akses permodalan, serta dukungan teknis dan pemasaran.
Dengan berbagai peran tersebut, Skill Center Disnakertrans NTB diharapkan mampu menjadi motor penggerak peningkatan kualitas SDM, penurunan angka pengangguran, sekaligus penguatan ekonomi daerah.
“Skill Center ini adalah investasi jangka panjang bagi tenaga kerja NTB. Kami ingin memastikan bahwa setiap anak muda NTB memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, berkompetisi, dan berkontribusi bagi pembangunan,” tutup Baiq Nelly. (jlo/r3)
Editor : Kimda Farida