LombokPost - Sejarah memang punya cara berputar. Hari ini, Rabu (17/9/2025), Presiden Prabowo Subianto melantik Letjen TNI (Purn) Djamari Chaniago sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam).
Djamari dilantik dalam reshuffle jilid ketiga Kabinet Merah Putih. Ia menggantikan posisi yang sempat kosong setelah Budi Gunawan dicopot, lalu diisi sementara oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
Keputusan ini dituangkan dalam Keppres Nomor 96P Tahun 2025 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Menteri dan Wakil Menteri Negara.
Baca Juga: Ahmad Dofiri Tiba di Istana, Reshuffle Kabinet Prabowo Kian Dekat?
Jenderal Senior, Seniornya Prabowo
Djamari Chaniago bukan nama baru di dunia militer. Lulusan Akabri 1971 ini adalah senior langsung Prabowo, yang merupakan Akabri 1974.
Karier militernya cemerlang: Pangdam III/Siliwangi (1997–1998), Pangkostrad (1998–1999), Wakil KSAD (1999–2000), hingga Kasum TNI (2000–2004).
Ia dikenal sebagai jenderal lapangan, tempaan Kostrad, dengan reputasi keras dan disiplin.
Baca Juga: Eksekusi Publik Makin Brutal, Korea Utara Tembak Mati Warga Gara-Gara Film Asing
Usai purna tugas, ia pernah menjadi Komisaris Utama PT Semen Padang dan aktif di Dewan Gelar, Tanda Jasa, serta Tanda Kehormatan periode 2025–2030.
Ironi Sejarah: Pernah Pecat Prabowo
Ada catatan menarik. Tahun 1998, Djamari adalah salah satu anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang mengadili kasus dugaan penculikan aktivis. DKP saat itu merekomendasikan pencopotan Prabowo dari dinas militer.
Kini, hampir tiga dekade berselang, sejarah berbalik. Prabowo, yang dulu dipecat, justru memilih Djamari sebagai Menko Polkam. Sebuah ironi sejarah yang jarang terjadi di republik ini.
Reshuffle dan Pesan Politik
Pelantikan Djamari tak berdiri sendiri. Bersama dia, Prabowo juga melantik Erick Thohir sebagai Menpora, Afriansyah Noor sebagai Wamenaker, Rohmat Marzuki sebagai Wamen Kehutanan, Farida Farichah sebagai Wamen Koperasi, dan Angga Raka Prabowo sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI.
Reshuffle ketiga ini dianggap sebagai konsolidasi politik. Prabowo ingin memastikan kementerian strategis, terutama bidang politik dan keamanan, dikendalikan figur yang loyal, senior, dan berpengalaman.
Reaksi dan Tugas Berat
Djamari langsung bergerak cepat. Sesaat setelah pelantikan, ia mendatangi kantor Kemenko Polkam untuk menerima arahan.
Baca Juga: Ferrari 365 GT4 BB, Mobil Langka dan Satu-Satunya di Singapura yang Jadi Incaran Kolektor Dunia
Publik pun menaruh harapan, terutama terkait stabilitas politik dalam negeri, keamanan di Papua, dan dinamika geopolitik di Laut Cina Selatan.
Tugasnya jelas tak ringan. Dengan usia 76 tahun, ia harus memimpin koordinasi lintas kementerian dan lembaga di bidang politik, hukum, dan keamanan.
Namun, justru di situlah menariknya. Jenderal tua yang dulu pernah menjadi bagian dari sejarah kelam 1998, kini kembali hadir di panggung politik nasional.
Kali ini bukan sebagai hakim militer, melainkan sebagai komandan sipil di bidang politik dan keamanan.
Djamari Chaniago, Menko Polkam baru pilihan Prabowo, kini resmi menjabat. Sejarah berputar: jenderal yang dulu memutuskan nasib Prabowo, kini dipercaya olehnya.
Ironi, atau justru bukti bahwa politik Indonesia memang penuh kejutan? Satu hal yang pasti, rakyat menanti gebrakan Djamari di posisinya yang baru. (***)
Editor : Alfian Yusni