LombokPost - Sapi Gama kini resmi menjadi primadona baru di dunia peternakan Indonesia.
Pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertanian RI No 840/Kpts/HK.150/M/09/2025 menetapkannya sebagai rumpun sapi pedaging baru Indonesia.
Sapi hasil riset 13 tahun ini digadang-gadang menjadi masa depan daging sapi premium Indonesia.
Yang menarik, Sapi Gama bukan sapi biasa. Ia adalah hasil kawin silang Belgian Blue, sapi berotot ganda yang terkenal di Eropa, dengan Brahman Cross, sapi yang sudah terbukti tahan panas dan cocok untuk iklim tropis Indonesia.
Hasilnya: sapi pedaging baru dengan otot ganda, tahan iklim tropis, pertumbuhan cepat, karkas lebih dari 65 persen, dan ini yang jadi terobosan besar, minim kendala persalinan.
Keputusan penting ini diumumkan saat Puncak Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-189 di Stadion Pakansari, Bogor (21/9).
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menyerahkan langsung SK pelepasan galur Sapi Gama kepada Prof. Budi Guntoro, Dekan Fakultas Peternakan UGM, dan pihak PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) yang menjadi mitra utama dalam riset ini.
“Ini bukan akhir. Ini awal dari fase produksi besar-besaran yang akan mendukung kemandirian pangan nasional,” kata Prof. Budi Guntoro.
Daging Premium, Tumbuh Cepat
Sejak lahir, performa Sapi Gama memang mencengangkan. Bobot lahirnya rata-rata 36 kilogram, relatif aman bagi induk betina saat proses persalinan.
Namun dalam usia 30 bulan saja, bobotnya bisa mencapai 700–800 kilogram. Tingkat karkasnya di atas 65 persen, bahkan dalam uji lapangan bisa menyentuh 68 persen.
Bagi pecinta daging sapi premium Indonesia, angka karkas ini penting. Artinya, lebih banyak daging yang bisa dihasilkan dari tiap ekor sapi.
Dengan otot gandanya, daging Sapi Gama berpotensi masuk pasar daging premium dan industri kuliner skala besar.
Kolaborasi Panjang 13 Tahun
Riset ini dimulai sejak 2013 oleh Fakultas Peternakan UGM bersama tim riset internasional.
Lalu, PT Widodo Makmur Perkasa masuk mendukung penuh pada 2015, menyediakan investasi, kandang penggemukan, dan sistem reproduksi.
Dukungan pemerintah juga krusial. Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang dilibatkan untuk memastikan pengujian genetik akhir sebelum sapi ini dilepas sebagai rumpun baru.
“Sinergi akademisi, pemerintah, dan swasta ini menjadi model baru dalam melahirkan inovasi peternakan Indonesia,” kata Agung Suganda, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan.
Populasi Sapi Gama Terus Bertambah
Saat ini, menurut WMPP, populasi Sapi Gama di berbagai fasilitas penggemukan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta sudah mencapai 167 ekor. Sejak awal program, total kelahiran Sapi Gama telah melewati angka 500 ekor.
Pemerintah berharap dengan perluasan populasi, Sapi Gama bisa menjadi tulang punggung kemandirian pangan nasional dan mengurangi ketergantungan impor daging sapi.
Pelepasan resmi Sapi Gama menjadi momen penting bagi Indonesia yang selama ini masih mengandalkan impor daging.
Jika produksi populasi terus meningkat, harga daging bisa lebih stabil dan pasokan daging sapi premium Indonesia semakin terjamin.
“Ini sejarah baru. Sapi Gama bukan hanya sapi pedaging baru Indonesia, tapi juga simbol inovasi peternakan nasional,” ujar Sudaryono. (***)
Editor : Alfian Yusni