Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Momen-Momen Menyentuh di Bawah Reruntuhan dan Tempat Identifikasi Jenazah, Proses Identifikasi Jenazah 24 Jam Nonstop di Ponpes Al-Khoziny

Lombok Post Online • Senin, 6 Oktober 2025 | 11:24 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Di lokasi reruntuhan musala Ponpes Al-Khoziny, dokter Larona Hydravianto harus mengamputasi lengan kiri Nur Ahmad di ruang sempit.

Dengan oksigen terbatas demi menyelamatkan nyawanya.

Di tempat identifikasi, dokter M. Khusnan Marzuki trenyuh mendapati semua jenazah masih mengenakan sarung dan baju koko.

Di dalam ruang sempit di bawah puing, di tengah oksigen yang terbatas, dan di hadapan pasien yang kesakitan karena lengan kiri terhimpit beton, Larona Hydravianto harus mengambil keputusan cepat.

Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi RSUD RT Notopuro Sidoarjo itu akhirnya memutuskan untuk melakukan amputasi terhadap Nur Ahmad.

Santri 16 tahun itu merupakan salah satu korban ambruknya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur. Ia tertimbun reruntuhan setelah musala ambruk ketika ratusan santri tengah salat Asar pada Senin (29/9) pekan lalu.

“Keputusan amputasi kami buat karena korban kesakitan sekali, kondisi beton sama sekali tidak bisa diangkat. Kalau semakin lama, kondisinya bakal makin memburuk," tuturnya tentang kejadian pada Senin (29/9) tengah malam setelah ambruknya musala kepada Jawa Pos yang menghubunginya Minggu (5/10).

Pegangan dokter yang juga subspesialis spine itu: menyelamatkan nyawa adalah prioritas. Larona kemudian melaporkan hal tersebut ke RSUD RT Notopuro dan meminta agar dikirim peralatan serta dokter anestesi ke lokasi.

Selain dokter anestesi Farouq Abdurrahman, ada juga tenaga PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) ortopedi dr Aaron Franklyn yang dikirim ke lokasi.

"Kami kerjakan bersama-sama, dokter Farouq memberikan anestesi terlebih dulu dan membantu kondisi pasien, baru dokter Aaron masuk untuk melakukan tindakan," jelasnya.

Butuh waktu sekitar 20 menit lebih sampai akhirnya berhasil mengamputasi tangan kiri Nur Ahmad. "Setelah itu, dievakuasi keluar oleh tim Basarnas, dan kami bawa ke ambulans untuk distabilkan, membersihkan jaringan mati, dan merapikan jahitan," katanya.

Proses tersebut memakan waktu sekitar satu setengah jam sebelum Nur Ahmad dibawa ke RSUD RT Notopuro. "Di rumah sakit juga distabilkan, dibersihkan, sebelum akhirnya dibawa ke ruang rawat inap," paparnya.

Kecamuk Perasaan

Di tempat identifikasi di RS Bhayangkara Surabaya, kenangan Kabiddokkes Polda Jatim Kombespol M. Khusnan Marzuki melayang ke beberapa tahun sebelumnya, tatkala sang buah hati masih duduk di bangku pendidikan pondok pesantren.

"Anak-anak saya juga ada yang lulusan pondok pesantren. Jadi, saya merasakan betul karena anak saya pernah di pondok," ungkap dokter Khusnan kepada Jawa Pos di halaman Kompartemen Dokpol RS Bhayangkara Surabaya kemarin.

Bapak lima anak tersebut merasa terenyuh begitu mendapati jenazah yang akan diidentifikasi masih mengenakan busana muslim, lengkap dengan setelan baju koko dan sarung. Terlebih, rentang usia para korban yang masih belasan tahun berada dalam rentang umur yang sama dengan anak bungsunya, yang kini masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Secara pribadi, saya punya anak. Dan, katakanlah mereka seumuran dengan anak-anak saya," imbuhnya.

Proses identifikasi jenazah di kamar mayat berlangsung selama 24 jam nonstop. Jari-jari terampil para petugas forensik beranjak dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain, dengan penuh ketelitian mengoleksi dan mengkurasi data-data primer serta sekunder selama proses post mortem, untuk dicocokkan dengan data yang diperoleh selama ante mortem.

Ratusan petugas silih berganti untuk menjaga ritme identifikasi agar tidak terjeda satu detik pun. “Kalau lelah, diganti. Tidak berpatokan pada jam agar proses identifikasi tetap cermat dan akurat," paparnya.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Celah Setengah Meter

Larona sebenarnya sudah berencana pulang setelah menyelesaikan tugas memeriksa para korban luka ringan tragedi Ponpes Al-Khoziny yang dibawa ke RSUD RT Notopuro. Namun, Direktur RSUD RT Notopuro Atok Irawan menelepon.

"Pak direktur mengatakan ada korban yang perlu diamputasi," katanya.

Sesampai di lokasi, Larona ditemani sejumlah perawat rescue RSUD RT Notopuro dan tim Basarnas mengecek langsung kondisi lengan Nur Ahmad. Itu pengalaman yang mendebarkan karena dia harus masuk lewat celah sekitar setengah meter, bahkan beberapa kali harus merangkak.

Untuk sampai ke titik lokasi Nur Ahmad, Larona butuh waktu sekitar 15 menit. Di titik tersebut ada dua korban. Yang satu Nur Ahmad yang masih hidup, satunya lagi sudah meninggal.

Ini pengalaman yang sangat berharga bagi Larona. Semua keputusan harus diambil secara tepat dan akurat untuk menyelamatkan nyawa seseorang.

"Bagaimanapun, kondisi keselamatan nyawa lebih penting. Saat ini, kondisi korban sudah membaik dan berangsur pulih," ungkapnya.

Kabiddokkes Polda Jatim Kombespol M. Khusnan Marzuki
Kabiddokkes Polda Jatim Kombespol M. Khusnan Marzuki

Khusnan juga bersyukur karena dia dan tim telah melakukan tugas semaksimal mungkin. "Tapi, saya juga turut menyampaikan duka yang mendalam dan belasungkawa terhadap korban dan keluarga korban atas insiden tersebut," katanya. (AHMAD BEZATRIYA, Sidoarjo – SHOLEH HILMI, Surabaya/ttg/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#Ponpes #musala #Sidoarjo #Dokter #ambruk