LombokPost – Kisah penanganan darurat pasca ambruknya musala empat lantai Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Sidoarjo yang terjadi pada Senin (29/9) sore telah ditutup.
Selama sembilan hari (9x24 jam), tim gabungan dari BNPB, Basarnas, dan aparat bekerja di bawah tekanan, berpacu melawan waktu untuk mencari korban di antara tumpukan puing yang disebut dengan istilah Pancake Collapse.
Operasi dramatis ini berhasil menyelamatkan lima santri hidup-hidup, namun sayangnya mengonfirmasi duka mendalam dengan ditemukannya 61 jenazah dan tujuh potongan tubuh lainnya.
Di balik heroiknya upaya penyelamatan, tragedi ini menyisakan pelajaran paling penting: kesiapsiagaan seharusnya dimulai jauh sebelum bencana terjadi.
Kepanikan seketika melanda ketika gedung itu runtuh saat ratusan santri sedang salat Ashar. Atas perintah Presiden Prabowo Subianto, tim SAR segera tiba.
Hari-hari awal penuh ketegangan, di mana tim harus menggali jalur sempit seperti gorong-gorong karena adanya deteksi tanda-tanda kehidupan.
Momen keajaiban sempat terjadi pada Rabu (1/10) sore ketika beberapa santri berhasil diselamatkan.
Namun, harapan itu memudar cepat. Operasi segera berubah fokus, dari penyelamatan menjadi pencarian dan penghormatan.
Di saat yang sama, BNPB bergerak cepat mendirikan tenda-tenda di halaman RS Bhayangkara, menjadi pusat dukungan psikologis dan informasi bagi keluarga korban yang menunggu dalam tangisan dan doa.
Setelah puing-puing dibersihkan di hari kesembilan, menyisakan tanah lapang dan kenangan pilu, kini sorotan diarahkan pada faktor penyebab: kegagalan konstruksi.
Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa kesiapsiagaan bencana tidak hanya sebatas menyediakan tenda atau tim penyelamat yang cekatan.
Audit dan Inspeksi Bangunan: Memastikan semua bangunan, terutama fasilitas publik dan tempat berkumpulnya banyak orang seperti musala dan sekolah, menjalani inspeksi rutin dan ketat sesuai standar keselamatan konstruksi.
Kepatuhan Sipil: Membudayakan kepatuhan terhadap standar keamanan bangunan sebagai bagian dari mitigasi bencana non-alam.
Pelatihan Evakuasi Struktural: Meskipun bencana datang tiba-tiba, edukasi mengenai perlindungan diri saat bangunan runtuh dapat meminimalkan korban.
Dari duka Al Khoziny, jelas bahwa investasi terbesar dalam penanganan bencana adalah investasi di fase pra-bencana.
Kesiapsiagaan sejati harus diukur dari seberapa kokoh dan amannya infrastruktur yang kita miliki, bukan seberapa cepat tim evakuasi merespons setelah kehancuran.
Editor : Siti Aeny Maryam