LombokPost - Sepanjang 24 jam sehari selama 17 hari, Tim DVI Polda Jatim harus terus menganalisis data identitas para santri korban ambruknya musala Ponpes Al-Khoziny.
Masih merinding mengingat ucapan terima kasih dan panjatan doa dari pihak pondok karena identifikasi semua jenazah selesai. Proses identifikasi harus presisi.
MASIH basah dalam ingatan Kombespol dr. Bayu Dharma hari-hari nan berat itu.
Selama sekitar 17 hari, dia dan para kolega di Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim hanya tidur sekitar 2–3 jam saja karena harus menyelesaikan identifikasi puluhan jenazah santri korban ambruknya musala Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo.
“Pulang jam 2 dini hari, jam 5 pagi sudah berangkat lagi,” tutur Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya itu kepada Jawa Pos.
Pada Rabu (15/10) pukul 18.00, Tim DVI Polda Jatim akhirnya berhasil merampungkan identifikasi 63 jenazah santri Ponpes Al-Khoziny.
Bayu beserta ratusan anggota Tim DVI Polda Jatim lain telah melakukan identifikasi selama 17 hari nonstop terhadap 67 kantong jenazah sejak insiden ambruknya musala pada 29 September.
Selama proses berlangsung, sebagai karumkit, Bayu harus memastikan seluruh sarana prasarana dan proses identifikasi berjalan lancar.
Selain itu, setiap sore dia juga kudu menggelar rapat rekonsiliasi untuk memastikan identitas jenazah.
Pria kelahiran Poso, Sulawesi Tengah, pada 1975 tersebut menuturkan, setiap hari paling tidak harus ada kandidat jenazah untuk dimajukan dalam rapat rekonsiliasi. Rapat tersebut melibatkan pakar dari berbagai bidang.
Mulai dari dokter forensik, dokter gigi, petugas forensik kepolisian, hingga dosen antropologi.
Seluruh pakar harus sepakat dan satu suara untuk menentukan identitas dari kandidat jenazah.
Wajib Presisi
Kepresisian dalam proses identifikasi tak bisa ditawar. Menurut Bayu, tak jarang pihaknya harus membongkar kembali tumpukan jenazah di dalam kontainer freezer untuk memastikan ulang data ante mortem dengan data post mortem.
Langkah pemeriksaan ulang ditempuh setelah pihaknya mendapatkan tambahan data ante mortem dari pihak keluarga.
Pengumpulan data, pencocokan, hingga adu argumentasi selama sidang rekonsiliasi kerap harus ditempuh demi identifikasi yang presisi.
Namun, jerih payah tim langsung meluruh begitu seluruh jenazah berhasil dikembalikan ke pihak keluarga.
“Saya sampai sekarang masih merinding waktu ingat kemarin (Rabu, 15/10) kami dapat ucapan terima kasih dan doa dari pihak pondok karena merampungkan identifikasi,” terang eks Karumkit Bhayangkara Bojonegoro tersebut sehari setelah identifikasi semua jenazah rampung.
Kasubid Dokpol Polda Jatim AKBP dr. Adam Bimantoro menyebut kalau tugas tim forensik serupa dengan Detektif Conan, karakter dalam seri manga detektif Jepang.
Menyelidiki bukti-bukti bukan dari tindak pidana, melainkan dari data-data ante mortem dan post mortem.
Untuk selanjutnya ditelisik guna menguak siapa gerangan sosok di balik jenazah yang tengah mereka analisis tersebut.
“Kami cocokkan datanya satu per satu untuk diambil kesimpulan. Karena itu, saya menyebutnya tugas kami seperti Detektif Conan,” ucap alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya, tersebut.
Tak Serta Merta Cocok
Data yang melekat pada post mortem tidak serta merta cocok dengan data ante mortem. Adam mengaku, sempat mendapati pakaian atas nama santri yang tidak tercantum dalam data manifestasi laporan kehilangan.
“Bajunya ini ada namanya. Tapi, pas kami cek, nama tersebut tidak ada di manifes kehilangan. Justru anaknya ini masih hidup,” sambung pria kelahiran Ngawi, Jawa Timur tersebut.
Merasa janggal, Adam lantas menghubungi sosok santri yang namanya melekat pada pakaian yang dikenakan oleh jenazah tersebut.
Baru diketahui bahwa baju santri tersebut dipinjam temannya yang menjadi korban keruntuhan.
Satu per satu data harus dicocokkan sembari menunggu hasil tes DNA keluar selama 24 jam dalam sehari.
Karena itu, Adam mengaku bahwa dalam 17 hari terakhir dia kerap tidak pulang ke rumah dan memilih menginap di RS.
Dengan waktu istirahat untuk tidur nyaris hanya satu sampai dua jam per hari. “Saya harus memberikan pengertian ke anak saya karena sering merajuk kalau ayahnya jarang di rumah. Jadi, kadang pulang sebentar terus balik ke rumah sakit,” kata bapak satu anak itu. (Sholeh Hilmi Qosim – Surabaya/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida