Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Wacana Utang Kereta Cepat Whoosh: Menko Airlangga Sebut Pembayaran Via APBN Masih Dibahas

Redaksi Lombok Post • Minggu, 9 November 2025 | 22:00 WIB

Kereta cepat Whoosh. (FOTO: JAWAPOS)
Kereta cepat Whoosh. (FOTO: JAWAPOS)
LombokPost -- Wacana penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk membayar utang Kereta Cepat Jakarta Bandung atau Whoosh kembali menjadi sorotan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, angkat bicara tak lama setelah Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesediaannya untuk bertanggung jawab penuh atas persoalan utang Whoosh.

Airlangga memastikan bahwa rencana pembayaran utang Whoosh menggunakan APBN saat ini masih dalam tahap pembahasan intensif di tingkat pemerintahan. "Masih dalam pembahasan," kata Airlangga singkat kepada wartawan, dikutip Minggu (9/11).

Meskipun demikian, Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini tidak merinci sejauh mana progres pembahasan APBN untuk Whoosh tersebut.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meminta semua pihak untuk tidak mencemaskan persoalan utang Kereta Cepat Jakarta Bandung yang menjadi perbincangan hangat.

Ia secara tegas menyatakan dirinyalah yang akan mengambil tanggung jawab penuh terkait masalah tersebut. Pernyataan tersebut disampaikan Presiden saat acara Peresmian Stasiun Tanah Abang Baru di Jakarta, Selasa (4/11).

Prabowo menyebut bahwa ia telah mempelajari seluruh persoalan Whoosh dan menilai tidak ada masalah signifikan di dalamnya. Ia bahkan meminta PT Kereta Api Indonesia (KAI) agar tidak perlu khawatir.

"Kemudian, tidak usah khawatir apa itu ribut-ribut Whoosh. Saya sudah pelajari masalahnya, tidak ada masalah, saya tanggung jawab nanti, Whoosh itu semuanya," kata Prabowo.

Lebih lanjut, Presiden Prabowo menekankan bahwa seluruh transportasi massal yang ditujukan bagi masyarakat, termasuk Kereta Cepat Whoosh, tidak seharusnya dihitung hanya berdasarkan aspek untung dan rugi semata. Menurutnya, metrik utama yang harus dipertimbangkan adalah seberapa besar manfaat transportasi tersebut bagi masyarakat luas. Prinsip ini sejalan dengan konsep Public Service Obligation (PSO).

"Indonesia bukan negara sembarangan, kita hitung, tidak ada masalah itu. PT KAI tidak usah khawatir, semuanya tidak usah khawatir. Rakyat kita layani, kita berjuang untuk rakyat kita. Teknologi, semua sarana, itu tanggung jawab bersama. Dan itu di ujungnya, tanggung jawab Presiden Republik Indonesia. Jadi saya sekarang tanggung jawab Whoosh," tambahnya.

Prabowo mengakhiri pernyataannya dengan menegaskan filosofi di balik proyek-proyek transportasi publik global.

"Whoosh itu, semua public transport di seluruh dunia. Itu jangan dihitung untung-untung, rugi-rugi, enggak. Hitung manfaat nggak untuk rakyat. Di seluruh dunia begitu. Ini namanya Public Service Obligation," ujar Prabowo.

Pernyataan ini memberikan sinyal kuat bahwa pemerintah memandang proyek Whoosh lebih sebagai investasi jangka panjang untuk mobilitas dan manfaat sosial-ekonomi, terlepas dari perhitungan untung-rugi langsung. Fokus ini diharapkan dapat meredam kekhawatiran publik tentang pembiayaan Whoosh dan utang proyek yang sedang dibahas.

Editor : Redaksi Lombok Post
#WHOOSH #kereta cepat #KCIC #Airlangga Hartarto