LombokPost - Dalam sebuah rapat harian Syuriah yang digelar pada Kamis (20/11/2025) di Hotel Aston City Jakarta, 37 dari 53 pengurus harian Syuriah PBNU memutuskan untuk meminta KH Yahya Cholil Staquf mundur dari jabatan Ketua Umum PBNU.
Keputusan ini, yang juga disetujui oleh Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, mengharuskan Yahya Cholil Staquf mengundurkan diri dalam waktu tiga hari setelah menerima surat keputusan tersebut.
Jika tidak, rapat harian Syuriah PBNU mengancam akan memberhentikan Staquf secara resmi dari jabatannya.
Keputusan ini terkait dengan kontroversi yang muncul akibat kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU), yang mengundang Peter Berkowitz, seorang peneliti yang dikenal memiliki pandangan pro-Israel dan mendukung Zionisme Internasional.
Undangan terhadap Berkowitz dinilai melanggar nilai-nilai ajaran PBNU dan bertentangan dengan Muqaddimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama.
Keputusan ini juga terkait dengan pelanggaran terhadap Peraturan Perkumpulan NU Nomor 13 Tahun 2025, khususnya Pasal 8 huruf a, yang mengatur pemberhentian fungsionaris yang mencemarkan nama baik NU.
Menurut sumber di PBNU, kegiatan AKN NU yang menghadirkan narasumber kontroversial ini dianggap mencemarkan nama baik Nahdlatul Ulama, terlebih di tengah situasi global yang penuh dengan ketegangan terkait isu genosida di Palestina.
Para pengurus menganggap bahwa tindakan ini berisiko mencoreng reputasi PBNU di mata masyarakat.
Kontroversi AKN NU dan Kehadiran Peter Berkowitz
Sebelumnya, pada Agustus 2025, AKN NU mengundang Peter Berkowitz sebagai pembicara.
Berkowitz dikenal dengan bukunya "Israel and the Struggle over the International Laws of War" yang mendukung kebijakan Israel.
Buku ini sempat menimbulkan kontroversi, karena Berkowitz dianggap membela Israel dalam berbagai kritik internasional, termasuk laporan Goldstone dan insiden flotila Gaza.
Meskipun demikian, Gus Yahya Cholil Staquf mengaku tidak mengetahui bahwa Berkowitz sering membela Zionisme dan mendukung Israel dalam konflik Palestina.
"Saya mohon maaf kepada masyarakat bahwa saya membuat keputusan tanpa pertimbangan yang teliti dan lengkap terkait Peter Berkowitz ini," ungkap Gus Yahya beberapa waktu lalu.
Ia menegaskan bahwa kehadiran Berkowitz dalam acara AKN NU semata-mata untuk membahas konsep hak asasi manusia yang menjadi fokus risetnya, tanpa ada niat untuk membahas konflik Israel-Palestina.
PBNU Menunggu Keputusan Resmi Rais Aam
Bendahara PBNU, Sumantri Suwarno, menanggapi keputusan rapat harian Syuriah ini dengan mengatakan bahwa pengurus PBNU belum menerima surat resmi mengenai keputusan tersebut.
Menurutnya, PBNU masih menunggu konfirmasi langsung dari Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, terkait tindak lanjut keputusan tersebut.
Keputusan yang diambil dalam rapat Harian Syuriah ini menjadi sorotan di kalangan pengurus NU dan masyarakat.
Kontroversi ini menunjukkan adanya ketegangan internal di tubuh PBNU yang berkaitan dengan pandangan politik dan hubungan internasional.
PBNU, sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, memegang teguh nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan yang harus dijaga dari segala bentuk pengaruh yang dapat merusak integritas organisasi. (***)
Editor : Alfian Yusni