Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

20 SPPG Raih Penghargaan 'Inspiradaya 2025', Menko PM Cak Imin: Jadikan Dapur SPPG Penggerak Ekonomi Lokal, Stop Bahan Impor!

Nurul Hidayati • Selasa, 9 Desember 2025 | 19:07 WIB
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar/(Dimas Choirul/Jawapos.com)
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar/(Dimas Choirul/Jawapos.com)

LombokPost — Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) memberikan apresiasi tinggi kepada 20 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari berbagai daerah di Indonesia melalui ajang "SPPG Inspiradaya (Inspirasi dan Berdaya) 2025".

Penghargaan ini diberikan kepada dapur-dapur SPPG yang dinilai berhasil menggerakkan dan menciptakan ekosistem ekonomi serta produktivitas masyarakat di sekitarnya.

Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar yang akrab disapa Cak Imin dalam sambutannya di TMII, Selasa (9/12/2025), menegaskan kembali peran penting dapur-dapur SPPG.

Ia menekankan bahwa SPPG harus menjadi pusat pemberdayaan yang melibatkan petani, UMKM, dan komunitas lokal.

Namun ini bukan sekadar tempat penyedia makanan.

"SPPG yang benar-benar memberikan dan menciptakan ekosistem ekonomi baru. Sehingga masyarakat sekitarnya menjadi produktif, menjadikan rantai pasok kebutuhannya melibatkan masyarakat sekitar, komunitas sekitar," ujar Cak Imin.

Larangan Bahan Impor dalam MBG

Secara tegas, Cak Imin mengeluarkan larangan keras terkait penggunaan bahan impor dalam pelaksanaan produksi Makanan Bergizi Gratis (MBG). Ia meminta seluruh pengelola SPPG untuk mengoptimalkan potensi pangan lokal.

"Jangan sekali-kali menggunakan produksi MBG menggunakan bahan impor. Karbohidrat bisa diciptakan dari produktivitas lokal masing-masing," tegasnya.

Ia mencontohkan inovasi dari berbagai daerah, seperti Papua yang menggunakan sagu dan Maluku yang menggunakan singkong sebagai alternatif pengganti tepung impor.

Inilah yang diharapkan sehingga SPPG itu berkah bagi orang di sekitarnya.

"SPPG itu atau makan bergizi gratis itu bukan sekadar memberikan gizi kepada anak-anak dan siswa kita, tapi lebih dari itu, menggerakkan ekonomi masyarakat setempat yang paling penting," pungkasnya.

Cak Imin memastikan bahwa bagi 20 SPPG penerima penghargaan, Kemenko PM akan memberikan tindak lanjut berupa pembinaan berkelanjutan, pendampingan, dan penciptaan ekosistem yang lebih besar ke depannya.

Adapun 20 SPPG yang menerima penghargaan "SPPG Inspiradaya 2025" ini tersebar luas, antara lain dari Jayapura (Papua), Kota Ambon (Maluku), Kota Palu (Sulawesi Tengah), Lombok Timur (NTB), hingga Kabupaten Bekasi dan Sleman (Jawa).

Editor : Pujo Nugroho
#SPPG #dapur #Makan Bergizi Gratis #Mbg #penghargaan