Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

OJK Proyeksikan Pertumbuhan Kredit Perbankan 2026 Lebih Kuat, Soroti Ruang Penurunan Suku Bunga

Redaksi Lombok Post • Senin, 22 Desember 2025 | 00:46 WIB

OJK: Perbankan Tetap Gacor Akhir Tahun! Survei SBPO Tunjukkan Optimisme, Didukung Window Dressing Natal-Tahun Baru
OJK: Perbankan Tetap Gacor Akhir Tahun! Survei SBPO Tunjukkan Optimisme, Didukung Window Dressing Natal-Tahun Baru

LombokPost--Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan optimismenya terhadap prospek pertumbuhan kredit perbankan pada tahun 2026. Meski dinamika ekonomi global masih diliputi ketidakpastian, sinyal penguatan tersebut telah tercermin dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) yang disampaikan pihak perbankan kepada OJK pada akhir November 2025.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan bahwa secara agregat, RBB menunjukkan arah pertumbuhan kredit yang lebih meningkat untuk tahun mendatang.

“Pertumbuhan kredit pada tahun depan diproyeksikan akan sedikit meningkat dibandingkan tahun 2025,” ujar Dian di Jakarta, Jumat (19/12/2025).

Sebagai informasi, OJK menetapkan target pertumbuhan kredit pada rentang 9–11 persen untuk tahun 2025. Namun, hingga periode Oktober 2025, realisasi pertumbuhan kredit tercatat sebesar 7,36 persen secara tahunan (year-on-year) dengan nilai total mencapai Rp 8.220,2 triliun.

Baca Juga: BPR di NTB Wajib Merger! Kebijakan Baru OJK Ubah Peta Perbankan Daerah

Dampak Penurunan Suku Bunga dan Likuiditas

Dian menjelaskan terdapat sejumlah faktor fundamental yang diyakini akan mendorong kinerja kredit lebih cerah pada 2026. Salah satu faktor utama adalah tersedianya ruang penurunan suku bunga, baik di tingkat global maupun domestik. Kondisi ini diharapkan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) serta menekan biaya dana (cost of fund).

“Penurunan suku bunga global juga diharapkan mendorong meningkatnya permintaan kredit, sehingga pertumbuhan kredit tetap kuat,” jelas Dian.

Selain faktor suku bunga, ketahanan perbankan nasional dinilai masih sangat solid. Tingkat permodalan yang tinggi saat ini menjadi bantalan (buffer) penting bagi industri perbankan untuk meredam risiko ketidakpastian ekonomi global sekaligus menopang ekspansi penyaluran kredit ke berbagai sektor.

Tantangan dan Faktor Penentu Pertumbuhan

Kendati proyeksi menunjukkan tren positif, Dian mengingatkan bahwa laju pertumbuhan kredit tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter. Terdapat variabel lain yang menjadi penentu utama, seperti tingkat permintaan dari dunia usaha, prospek ekonomi nasional, stabilitas keamanan dan politik, hingga kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Penguatan di seluruh aspek tersebut menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran kredit yang berkelanjutan,” pungkasnya.

Editor : Redaksi Lombok Post
#jawa pos #OJK