Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Usai Swasembada Beras, Mentan Amran Bidik 3 Komoditas Ini: Dunia Bisa Berubah

Marthadi • Senin, 12 Januari 2026 | 11:14 WIB

Mentan Andi Amran Sulaiman memaparkan dampak strategis keberhasilan swasembada beras serta rencana hilirisasi tiga komoditas pertanian utama di Jakarta, Minggu (11/1). (Dery Ridwansah/JPC)
Mentan Andi Amran Sulaiman memaparkan dampak strategis keberhasilan swasembada beras serta rencana hilirisasi tiga komoditas pertanian utama di Jakarta, Minggu (11/1). (Dery Ridwansah/JPC)
LombokPost – Keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras bukan sekadar capaian nasional. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, langkah tersebut menjadi titik balik bagi Indonesia untuk naik kelas sebagai kekuatan global, sekaligus mengubah peta perdagangan pangan dunia.

Mentan Amran mengungkapkan, percepatan swasembada pangan terjadi setelah Presiden Prabowo Subianto menilai langsung lonjakan kinerja sektor pertanian. Target yang semula dipatok empat tahun terus dipangkas secara drastis.

“Target awal empat tahun, dua minggu kemudian jadi tiga tahun. Dalam 45 hari pemerintahan, Presiden menaikkan target menjadi satu tahun,” kata Amran dalam diskusi bersama pimpinan Jawa Pos Group di Jakarta, Minggu (11/1).

Hasilnya, Indonesia berhasil mewujudkan swasembada beras hanya dalam waktu satu tahun. Amran menyebut pencapaian tersebut lahir dari reformasi total di tubuh Kementerian Pertanian, mulai dari tata kelola hingga budaya kerja.

“Kerjanya tidak ada hari libur. Semua harus berubah. Tidak boleh ada korupsi, tidak boleh ada mafia pangan. Target jelas, tidak tercapai, mundur,” tegasnya.

Salah satu langkah krusial adalah transformasi pertanian dari sistem tradisional ke modern, disertai efisiensi anggaran besar-besaran. Kementan memangkas belanja perjalanan dinas, seminar, dan pos lain hingga Rp 1,7 triliun.

Efisiensi tersebut berdampak langsung pada produksi. Sepanjang 2025, produksi beras nasional melonjak 4,09 juta ton, sekaligus menghentikan impor beras yang sebelumnya menguras devisa hingga Rp 100 triliun.

Menurut Amran, penghentian impor beras Indonesia turut mengguncang pasar global. Negara-negara eksportir utama seperti Thailand, Vietnam, Pakistan, dan India terdampak langsung oleh perubahan kebijakan Indonesia.

Namun, ia menegaskan swasembada hanyalah gerbang awal. Kekuatan sesungguhnya, kata Amran, terletak pada strategi hilirisasi pertanian.

Ia menyoroti tiga komoditas utama yang dinilai mampu mengubah konfigurasi perdagangan dunia jika diolah di dalam negeri.

Pertama, beras, yang kini tak lagi diimpor Indonesia dan memengaruhi keseimbangan pasar internasional.

Kedua, kelapa. Harga kelapa mentah di tingkat petani hanya sekitar Rp 1.350 per kilogram, namun setelah diolah nilainya bisa melonjak hingga Rp 18.000 per kilogram.

Baca Juga: Proyek 'Raksasa' 1.000 Titik! Presiden Prabowo Geber Kampung Nelayan, 17 Ribu Pekerja Sudah Terserap, Ini Target Berikutnya!

Ketiga, gambir. Indonesia menguasai sekitar 80 persen pasar ekspor gambir dunia, tetapi selama ini sebagian besar diekspor mentah ke India untuk diolah kembali.

“Kalau hilirisasi kita lakukan di dalam negeri, nilai tambahnya luar biasa. Inilah kunci agar Indonesia benar-benar menjadi pemain global,” pungkas Amran.

Editor : Marthadi
#perdagangan pangan dunia #mentan andi amran sulaiman #swasembada beras Indonesia #komoditas unggulan indonesia #hilirisasi pertanian