LombokPost – Komnas Perlindungan Anak (PA) Jawa Timur mendesak audit total terhadap seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di Mojokerto Raya. Desakan itu buntut keracunan massal ratusan anak akibat menu soto ayam Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sekretaris Jenderal Komnas PA Jatim Jaka Prima mengatakan, mayoritas SPPG di Mojokerto Raya tak memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Dari 77 SPPG yang beroperasi di Kabupaten Mojokerto, baru satu yang memiliki SLHS. Sedangkan di wilayah Kota Mojokerto, dari enam SPPG yang beroperasi hingga Desember 2025, juga hanya satu yang mengantongi SLHS.
“Tentu kami mempertanyakan keseriusan dari SPPG dalam melayani anak-anak. Jangan sampai anak-anak dijadikan kelinci percobaan tanpa mempertimbangkan keamanan dan kesehatan makanan yang disajikan,” katanya kepada Radar Mojokerto Grup Jawa Pos kemarin (14/1).
Audit, kata Jaka, penting untuk mengetahui apakah pendirian dapur sudah sesuai ketentuan. Selain itu, asal bahan makanan, penyimpanan, hingga proses distribusi makanan ke penerima juga harus diperiksa apakah sudah dilakukan dengan benar.
Terkait investigasi pemicu keracunan yang tengah berlangsung, Jaka menyatakan, harus ada pertanggungjawaban yang mutlak. Terlebih jika ditemukan unsur tindak pidana yang berakibat ratusan siswa mengalami keracunan. “Apabila ada unsur pidana dan kelalaian, kami meminta pihak-pihak tersebut bertanggung jawab secara hukum,” ucap dia.
Saat menjenguk kondisi korban keracunan massal akibat menu soto MBG di RSUD Prof. dr. Soekandar, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Rabu (14/1), Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai juga menginstruksikan perombakan total terhadap SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03, Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto.
“Akan ada evaluasi terhadap SPPG yang bersangkutan. Insiden 411 anak terdampak sangat serius dan tidak boleh ada satu pun anak yang menjadi korban,” katanya.
Dengan demikian, lanjut Pigai, SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 akan di-blacklist dan tidak diizinkan kembali oleh pemerintah untuk terlibat dalam penyediaan program MBG. “Insiden ini menunjukkan kelalaian dari SPPG yang bersangkutan dalam mengikuti prosedur yang telah ditetapkan,” katanya didampingi Bupati Mojokerto Muhammad Albarra.
Bawa Bekal Sendiri
Seiring mencuatnya kasus keracunan massal, Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto memastikan kondisi pembelajaran di satuan pendidikan terdampak tetap kondusif. Para murid di lembaga yang terdampak untuk sementara waktu diminta membawa bekal dari rumah buntut diberhentikannya operasional SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 di Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo.
Sesuai data Dinas Pendidikan, ada enam lembaga dalam naungannya yang terdampak. Yakni, SMPN 2 Kutorejo, SMP Al Hidayah, SDN Wonodadi 1, SDN Wonodadi 2, serta SDN Singowangi, dan TK Dharma Wanita Wonodadi. Dari semua sekolah terdampak, korban paling banyak di SMPN 2 Kutorejo dengan total 293 anak dari jumlah penerima MBG sebanyak 666 siswa.
Di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, meski lebih dari 400 santri Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Huda Ngroto, Kecamatan Gubug, terdampak dugaan keracunan menu MBG pada Jumat (9/1), pihak pondok belum mengambil sikap penolakan. Ponpes memilih menunggu hasil investigasi tim ahli sebelum kembali menerima penyaluran makanan dari SPPG Kuwaron.
“Tetap menunggu dulu karena apa penyebabnya kita juga harus tahu,” ujar Pengurus Yayasan Ponpes Miftahul Huda Ngroto Fuad Abdillah, sebagaimana dilansir Radar Kudus Grup Jawa Pos.
Pasca kejadian, aktivitas di lingkungan pondok pesantren mulai berangsur normal. Sejak Senin (12/1), kegiatan belajar mengajar kembali berjalan meski masih ada puluhan santri yang dalam kondisi kurang sehat.
“Hari pertama masuk langsung ada gerakan minum kelapa bareng. Anak-anak sudah seperti biasa, tidak trauma. Cuma ke depan lebih hati-hati. Kalau makanan dirasa aneh, ya tidak usah dimakan,” tuturnya.
Sementara itu, operasional SPPG Kedungwuni Timur, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, tetap berjalan meskipun ada kasus dugaan belasan siswa keracunan seusai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (13/1). Kasus tersebut terjadi di SD Negeri 01 Kedungwuni yang lokasinya hanya beberapa langkah dari SPPG Kedungwuni Timur.
Total 15 siswa mengalami mual dan muntah seusai menyantap menu MBG hari itu. Sebagian dilarikan ke puskesmas, sebagian lain ke rumah sakit terdekat. Seluruhnya telah dipulangkan dan tidak ada yang menjalani rawat inap.
Kepala SPPG Kedungwuni Timur Idhar K.R. mengonfirmasi kebenaran kejadian tersebut. Ia menyebut, hari itu menu MBG didistribusikan sekitar pukul 07.00, namun baru dikonsumsi siswa sekitar pukul 09.30.
Menunya bakmi Jawa dengan isian kubis, wortel, serta telur ceplok yang disajikan terpisah. Ada pula anggur dan mentimun sebagai lalapan. Disinyalir, mi yang disajikan telah basi. Namun, Idhar menyebut, semua telah melalui pemeriksaan sesuai prosedur.
“Pas ada laporan, saya langsung ke sekolah. Saya cicipi bakminya. Teksturnya masih baik, tidak berlendir, tapi memang rasanya agak asam,” ungkapnya.
Pelaksana Tugas Kepala Sekolah SD Negeri 01 Kedungwuni Deddy Ardiansyah mengatakan, pihaknya tak bisa berspekulasi soal penyebab kejadian. Pasalnya, kata dia, di sekolah lain tak ada kejadian serupa, padahal menu yang disajikan sama dan berasal dari dapur yang sama. (oce/adi/ris/fen/int/wan/nra/ttg/JPG/r3)
Editor : Prihadi Zoldic