Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tragedi Pesawat ATR 42-500 di Maros: Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syaiful Huda Soroti Usia Pesawat 26 Tahun dan Ancaman Siklon Nokaen

Akbar Sirinawa • Minggu, 18 Januari 2026 | 19:05 WIB
Serpihan pesawat ATR 42-500 ditemukan Tim Basarnas Gabungan di lereng puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (Basarnas)
Serpihan pesawat ATR 42-500 ditemukan Tim Basarnas Gabungan di lereng puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (Basarnas)

 

LombokPost-Upaya pencarian terhadap pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan nomor registrasi PK-THT yang hilang kontak di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, terus diintensifkan hingga hari ini, Minggu (18/1).

Memasuki hari kedua sejak dilaporkan hilang pada Sabtu (17/1), keberadaan 11 orang yang berada di dalam pesawat tersebut masih menjadi prioritas utama penyelamatan.

Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden yang terjadi saat pesawat sedang melakukan pendekatan (approach) ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar tersebut.

Ia mendesak adanya koordinasi skala besar untuk segera menemukan titik terang.

“Kami mendesak seluruh pemangku kepentingan melakukan upaya pencarian dan penyelamatan (SAR) secara masif dan terkoordinasi dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada. Fokus utama saat ini adalah keselamatan 11 orang yang berada di dalam pesawat,” kata Syaiful Huda kepada wartawan, seperti dikutip dari JawaPos.com, Minggu (18/1).

Syaiful Huda meminta agar Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), TNI Angkatan Udara, serta tim SAR gabungan mengerahkan kemampuan maksimal di titik koordinat terakhir hilangnya kontak.

Ia menekankan pentingnya sinergi dengan otoritas Bandara Sultan Hasanuddin untuk mempercepat proses pelacakan.

Saat ini, operasi tim gabungan diarahkan untuk menyisir kawasan pegunungan Bantimurung yang menjadi target utama.

Mengingat waktu yang terus berjalan, efektivitas pencarian di lapangan menjadi sangat krusial sebelum kondisi cuaca semakin memburuk.

“Kami berharap tim SAR bisa bergerak cepat untuk memanfaatkan golden time dalam proses pencarian dan penyelamatan korban,” ujarnya.

Huda juga memberikan catatan teknis agar Basarnas segera mengoptimalkan penggunaan teknologi penginderaan jauh.

Tak hanya itu, ia mendorong penggunaan helikopter operasional milik TNI AU untuk menjangkau medan-medan sulit di sekitar Desa Leang-leang, Kabupaten Maros, yang diduga menjadi lokasi jatuhnya kontak.

Kekhawatiran terhadap dinamika cuaca di wilayah pegunungan yang fluktuatif juga menjadi perhatian serius.

Oleh sebab itu, selain pengerahan personel SAR, Huda meminta Kementerian Perhubungan untuk segera menerjunkan tim investigasi awal guna mendampingi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Langkah investigasi ini dinilai sangat penting untuk memeriksa secara menyeluruh aspek pemeliharaan (maintenance) dan kelaikudaraan pesawat ATR 42-500 PK-THT tersebut.

Berdasarkan data yang ada, pesawat tersebut merupakan buatan tahun 2000, yang berarti telah beroperasi selama kurang lebih 26 tahun.

Lebih lanjut, Huda mengingatkan bahwa insiden ini merupakan alarm keras bagi industri penerbangan nasional, terutama di tengah ancaman cuaca ekstrem dan fenomena siklon yang tengah melanda tanah air.

Keberadaan siklon tropis Nokaen di utara Sulawesi Utara saat ini berpotensi besar memicu cuaca buruk di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.

“Insiden ini harus menjadi pengingat keras bagi seluruh penyedia layanan transportasi udara. Di tengah ancaman cuaca ekstrem saat ini, keselamatan penumpang tidak boleh dikompromikan. Tidak boleh ada toleransi terhadap maskapai yang mengabaikan ambang batas cuaca minimum (weather minimal),” pungkasnya. 

Editor : Akbar Sirinawa
#Pesawat ATR 42 500 #maros #basarnas #Pesawat Jatuh #usia pesawat