LombokPost - Angin segar berembus bagi pencari kerja di Sumbawa Barat.
Pemerintah secara resmi memindahkan operasional BLK dari Kecamatan Poto Tano ke Kecamatan Taliwang.
Langkah ini diambil untuk memangkas kendala jarak dan biaya transportasi yang selama ini dikeluhkan masyarakat.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli meresmikan revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) Sumbawa Barat yang kini berlokasi di pusat kabupaten, Kecamatan Taliwang.
Relokasi ini bertujuan mendekatkan akses pelatihan vokasi, memperkuat kompetensi SDM lokal untuk industri digital, hingga menyiapkan tenaga kerja migran yang kompeten.
Menaker Yassierli menegaskan bahwa BLK Sumbawa Barat kini diproyeksikan menjadi role model transformasi BLK di Indonesia Timur dengan beberapa poin penguatan.
Pusat SDM Global: Pelatihan tidak hanya untuk pasar domestik, tetapi juga dirancang khusus untuk menyiapkan tenaga kerja migran agar siap bersaing di luar negeri.
Kurikulum Masa Depan: Materi pelatihan kini merambah sektor teknologi terkini seperti Digital Marketing, Teknologi Informasi, hingga Artificial Intelligence (AI).
Kolaborasi Industri: Tata kelola BLK diarahkan lebih profesional dan menjalin kerja sama erat dengan perusahaan agar lulusan langsung terserap kerja.
“Saya ingin BLK Sumbawa Barat menjadi contoh bagi BLK lain. Ini sangat mungkin dicapai dengan komitmen dan kolaborasi kuat antara pemerintah dan industri,” tegas Yassierli.
Inklusivitas: Peluang Setara untuk Semua
Menaker menekankan bahwa revitalisasi ini mengusung prinsip inklusivitas. Pelatihan vokasi di BLK Taliwang kini membuka kesempatan setara bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, untuk mendapatkan keterampilan yang layak.
Pembekalan ASN: Bangun Ekosistem Inklusif
Selain meresmikan gedung, Menaker juga memberikan kuliah umum kepada ASN Sumbawa Barat.
Ia mengingatkan pentingnya perubahan pola pikir (mindset) aparatur dalam melayani masyarakat di era otomatisasi dan digitalisasi.
Pemerintah daerah diharapkan mampu membangun ekosistem ketenagakerjaan yang berkelanjutan guna menjawab tantangan kesenjangan kompetensi.
Editor : Kimda Farida