LombokPost - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis parameter terbaru terkait gempa bumi yang mengguncang Pacitan, Jawa Timur, pada Jumat dini hari (6/2).
Hasil analisis mutakhir menunjukkan kekuatan gempa dikoreksi menjadi Magnitudo 6,2 dari informasi awal M 6,4.
Meski tidak memicu tsunami, karakteristik gempa ini memberikan sinyal waspada bagi penduduk sepanjang pesisir selatan Jawa.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, S.Si., M.Si melalui rilis resminya, menjelaskan bahwa pusat gempa (episenter) berada di laut, 89 km arah Tenggara Pacitan pada kedalaman 58 km.
Jika melihat kedalaman dan lokasinya, gempa ini merupakan jenis gempa bumi dangkal.
Kuncian Lempeng yang Lepas ”Gempabumi yang terjadi merupakan akibat dari aktivitas subduksi lempeng. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault,” jelas pihak Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG.
Mekanisme thrust fault (patahan naik) ini identik dengan karakteristik gempa di zona Megathrust. Guncangannya dirasakan sangat nyata. Di Bantul, Sleman, dan Pacitan, intensitas mencapai IV MMI, di mana warga yang tertidur lelap langsung terbangun karena guncangan dirasakan oleh orang banyak dalam rumah.
Getaran bahkan menjangkau wilayah luas hingga Malang, Cirebon, Banjarnegara, hingga Jepara.
Memori Kelam Tsunami Historis Senada dengan temuan teknis BMKG, pakar kegempaan Daryono memberikan analisis mendalam mengenai "kerentanan" wilayah Pacitan. Menurutnya, meski gempa dini hari tadi tidak memicu gelombang pasang, sejarah mencatat Pacitan pernah luluh lantak oleh tsunami pada tahun 1840 dan 1859.
Ada tiga alasan mengapa Pacitan harus tetap waspada tinggi:
Posisi Depan Megathrust: Berhadapan langsung dengan zona kuncian lempeng raksasa.
Topografi Teluk: Banyaknya pantai sempit dan teluk justru memperkuat (amplifikasi) energi gelombang jika terjadi tsunami.
Segmen Slab Landai: Diduga berada di atas segmen lempeng yang landai, membuat kuncian antar-lempeng menjadi sangat kuat dan berisiko memicu tsunami besar saat terlepas.
Status: Nihil Gempa Susulan Hingga pukul 01.35 WIB, monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan (aftershock). Namun, warga diimbau tidak lengah.
Kerusakan materiil yang mulai dilaporkan di Bantul dan Pacitan menjadi bukti bahwa konstruksi rumah di selatan Jawa harus mulai beradaptasi dengan standar tahan gempa.
BMKG juga meminta masyarakat hanya mempercayai informasi dari kanal resmi.
"Hindari bangunan yang retak dan pastikan jalur evakuasi di sekitar tempat tinggal tidak terhambat," tegas BMKG.
Editor : Kimda Farida