LombokPost - PAKAR Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Amien Widodo menyebut, fenomena tanah gerak di Semarang dan Tegal merupakan bagian dari proses longsor dengan karakter pergerakan lambat.
Dalam geologi, itu dikenal dengan istilah creeping atau rayapan tanah.
Prosesnya tidak terjadi tiba-tiba, melainkan diawali retakan sebelum berkembang menjadi longsor.
”Itu memang tanah bergerak sebetulnya bagian dari longsor. Jadi, longsor itu ada yang pergerakannya cepat, ada yang lambat,” ujarnya Rabu (11/2).
Faktor penyebab tanah gerak dipengaruhi kombinasi kondisi geologi dan lingkungan.
Jenis tanah, struktur lapisan batuan, serta kemiringan lereng menentukan tingkat kestabilan suatu wilayah.
Curah hujan tinggi menjadi pemicu utama karena membuat tanah jenuh dengan air dan melemahkan daya ikat antarpartikel.
”Yang mempengaruhi macam-macam. Terutama tanahnya, kemudian topografi, geologinya, dan curah hujan,” jelas Amien.
Retakan tanah diperkirakan telah muncul sejak beberapa tahun sebelumnya.
Namun, kondisi itu tidak terdeteksi atau tidak dilaporkan. Ketika diguyur hujan deras yang lama, air meresap melalui celah retakan dan membuat tanah bergerak perlahan.
Menurut Amien, tidak bisa dipastikan kapan retakan menjadi longsor. Dalam sejumlah kasus, retakan dapat berubah menjadi longsor dalam hitungan minggu.
Namun ada pula yang berlangsung bertahun-tahun sebelum akhirnya runtuh.
”Bisa sebulan longsor, bisa juga 2017 retak, 2021 baru longsor. Bahkan ada yang hari itu retak, hari itu juga longsor,” paparnya.
Fenomena creeping, kata dia, hampir terjadi setiap tahun di berbagai daerah.
Polanya relatif sama, yakni diawali retakan sebelum terjadi longsor besar.
Wilayah dengan topografi 600 hingga 800 meter di atas permukaan laut (Mdpl) lebih rentan jika vegetasi telah berkurang akibat alih fungsi lahan.
Beda Karakter
Dari pengamatan Amien, kondisi geologi Tegal dan Semarang punya karakter berbeda.
Di Tegal, fenomena berkaitan dengan batuan gunung api purba yang memengaruhi kestabilan lereng.
Sementara, di Semarang yang tanahnya lempung lunak dan berumur tua, lebih mudah bergerak.
”Kalau di Semarang ini kayaknya berkaitan dengan tanah lunak, tanah lempung yang lunak,” katanya.
Selain hujan, gempa bumi juga berpotensi memicu pergerakan tanah.
Getaran gempa dapat melemahkan struktur tanah dan mempercepat pelepasan daya ikat antarpartikel.
Air hujan menambah beban tanah, sedangkan gempa membuat tanah terguncang, sehingga lebih mudah longsor.
Untuk langkah mitigasi, Amien menekankan pentingnya peta geologi dan peta rawan longsor sebagai sistem peringatan dini.
Daerah yang telah dipetakan rawan, perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan detail, termasuk identifikasi retakan awal.
Masyarakat diimbau segera melaporkan tanda-tanda tersebut agar dapat dilakukan rekayasa teknis sebelum kerusakan meluas. (dho/aph/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida