LombokPost - Seperti sudah diperkirakan, awal Ramadan tahun ini tidak serentak. Muhammadiyah mulai berpuasa hari ini (18/2). Sedangkan pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Kamis (19/2) besok.
Keputusan pemerintah itu diambil dalam sidang isbat yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) di Jakarta tadi malam (17/2).
Menag Nasaruddin Umar memimpin langsung pelaksanaan sidang isbat yang digelar tertutup.
"Dalam sidang ini kami melaksanakan musyawarah. Mengacu hasil hisab rukyah Kemenag dan ormas lain," katanya.
Pembahasan dalam sidang isbat diperkuat dengan tim rukyat yang ada 96 titik. Data posisi hilal berdasarkan hisab ketinggian berkisar -2 derajat. "Belum hilal wujud. Karena di bawah ufuk," katanya.
Jadi di seluruh wilayah Indonesia, bahkan di ASEAN, belum masuk imkanur rukyah. ’’Karena itu, pemerintah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari," katanya.
NTB Juga Belum Melihat Hilal
Pengamatan hilal untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah juga dilakukan di NTB. Tim Rukyat Stasiun Geofisika Mataram bekerja sama dengan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) NTB melakukan pantauan di Pusat Observasi Bulan (POB) Kanwil Kemenag NTB, Desa Teniga, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Selasa (17/2).
Kepala Stasiun Geofisika Mataram Sumawan menjelaskan, hilal belum terlihat karena posisi bulan masih berada di bawah ufuk. “Hasil pengamatan pada Selasa sore menunjukkan posisi bulan masih berada di bawah ufuk," tegasnya.
Adapun ketinggian hilal tercatat sekitar -1,268 derajat dengan elongasi 1,208 derajat, dan posisi bulan yang masih berada di bawah ufuk menyebabkan hilal tidak dapat diamati dari lokasi pengamatan. "Hilal tidak dapat diamati dari lokasi pengamatan,” ujarnya.
Kali ini, pantauan hilal dilaksanakan mulai pukul 16.00 hingga 18.50 WITA. Namun, kondisi cuaca yang berawan di lokasi pengamatan menjadi kendala tambahan.
“Selain posisi hilal yang masih rendah, cuaca berawan dan hujan ringan membuat pengamatan semakin sulit. Kondisi seperti ini memang sering menjadi tantangan dalam rukyatul hilal,” beber Sumawan.
Hampir bersamaan dengan sidang isbat, PBNU menggelar rukyatul hilal di sejumlah lokasi. Pelaksanaannya berada di bawah Lembaga Falakiyah NU. Hasilnya, tidak ada perukyat yang berhasil mengamati atau melihat hilal.
Ketua Falakiyah NU KH Sirril Wafa menyampaikan, tinggi hilal di Indonesia berada pada rentang -3 sampai -1 derajat atau masih di bawah ufuk. Sehingga otomatis tidak ada perukyat yang bisa melihat hilal. Untuk diketahui hilal bisa terlihat jika tingginya di atas 2 derajat.
"Kedudukan hilal di seluruh Indonesia ada di bawah ufuk. Juga berada di bawah kriteria Imkan rukyah NU," katanya. Sehingga bulan syakban digenapkan (istimal) menjadi 30 hari. Dari hasil pengamatan tersebut, PBNU memastikan bahwa 1 Ramadan jatuh pada 19 Februari.
Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) berharap masyarakat menyikapi perbedaan awal puasa itu dengan dewasa. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum MUI M. Cholil Nafis. Dia menekankan, jangan sampai ada gesekan yang dapat merusak ukhuwah Islamiyah (persaudaraan dalam Islam).
Kiai Cholil menegaskan pentingnya ukhuwah Islamiyah menuju kedekatan umat Islam kepada Allah SWT. Menurut dia, perbedaan awal puasa itu adalah masalah khilafiyah fikr atau masalah perbedaan pemikiran. Maka tidak perlu dibawa-bawa pada perpecahan. "Jadikan (sebagai) ikhtilaf ummati rahmat. Menjadi rahmat bagi kita untuk kita belajar lebih banyak," tegasnya.
Muhammadiyah Mulai Salat Tarawih
Sementara itu, warga Muhammadiyah tadi malam sudah melaksanakan salat tarawih. Sejumlah masjid di berbagai kota tampak penuh.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir meminta umat Islam menyikapi perbedaan itu dengan cerdas dan tasamuh. “Di situlah ruang ijtihad, tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” ujarnya Selasa (17/2).
Menurut dia, perbedaan harus disikapi dengan arif bijaksana. Terlebih, puasa itu tujuan utamanya adalah meningkatkan takwa, baik pribadi maupun kolektif. "Jadi fokuskan pada hal substantif bagaimana puasa bagi setiap muslim benar-benar menggapai ketakwaan dalam wujud menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta menghadirkan kebaikan hidup serba utama," paparnya. (wan/idr/oni/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post