LombokPost - Selama bertahun-tahun, industri keuangan syariah di Indonesia kerap dihadapkan pada kritik klasik: persepsi biaya pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan bank konvensional.
Menanggapi hal ini, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menyatakan tengah melakukan pembenahan besar-besaran dari sisi infrastruktur dan model bisnis.
Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS, Sutan Emir Hidayat, menjelaskan bahwa saat ini industri sedang fokus pada tiga pilar utama: efisiensi, digitalisasi, dan inovasi produk.
“Persepsi bank syariah lebih mahal sedang terus dibenahi. Dengan skala yang makin besar dan model bisnis yang makin matang, pricing ke depan akan makin bersaing,” tegas Emir.
Mengapa Selisih Harga Sangat Krusial?
Bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), selisih margin yang tipis antara pembiayaan syariah dan bunga konvensional bukan sekadar angka. Hal ini berdampak langsung pada arus kas (cash flow) operasional mereka.
KNEKS mengakui bahwa struktur industri syariah yang belum sebesar perbankan konvensional menjadi faktor utama tingginya biaya dana (cost of fund).
Skala industri yang terbatas membuat ruang untuk melakukan efisiensi menjadi belum optimal.
Oleh karena itu, agenda pembesaran aset dan pendalaman pasar menjadi prioritas nasional.
Dukungan Kebijakan dan Implementasi Daerah
Dukungan pemerintah terhadap sektor ini sebenarnya sudah sangat konkret. Ekonomi syariah telah masuk ke dalam berbagai dokumen strategis negara, mulai dari:
RPJPN & RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang/Menengah Nasional).
Asta Cita dan Masterplan Ekonomi dan Keuangan Syariah (MEKSI) 2025–2029.
Pembentukan 31 Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) di tingkat provinsi.
Namun, Emir mengingatkan bahwa keberhasilan tidak boleh hanya berhenti di atas kertas atau dokumen perencanaan. Tantangan terbesarnya saat ini adalah percepatan implementasi.
Indikator Keberhasilan Nyata
Menurut KNEKS, progres transformasi ini harus bisa diukur melalui data lapangan yang nyata, bukan sekadar seremonial. Beberapa indikator kunci yang dipantau meliputi:
Peningkatan pangsa pasar (market share) keuangan syariah.
Pertumbuhan pembiayaan ke sektor riil.
Dampak ekonomi yang dirasakan langsung oleh UMKM dan industri halal.
Dengan integrasi teknologi digital, diharapkan biaya operasional perbankan syariah dapat ditekan serendah mungkin, sehingga margin yang ditawarkan kepada nasabah bisa jauh lebih kompetitif di masa depan.
Editor : Kimda Farida