LombokPost - PERANG Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia yang pada akhirnya dapat berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Sebab, konflik tersebut dapat mengganggu pasokan minyak global.
"Kalau Iran terlibat konflik, yang pasti terganggu adalah pasokan minyak. Apalagi jalur distribusi seperti Selat Hormuz juga bisa terdampak, bahkan kawasan Laut Merah," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta Senin (2/3).
Menurut Airlangga, gangguan pasokan minyak berpotensi mendorong harga minyak dunia yang saat ini sudah menyentuh kisaran USD 82 per barel. Kondisi tersebut berpotensi menekan harga BBM di dalam negeri.
“Otomatis harga bisa naik, seperti saat perang Rusia dan Ukraina yang lalu. Tapi, sekarang juga ada tambahan pasokan dari Amerika dan peningkatan kapasitas dari OPEC," jelasnya.
Untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah diversifikasi sumber impor minyak.
Salah satunya melalui kerja sama yang dijalin oleh Pertamina dengan sejumlah perusahaan energi global.
Airlangga menyebut, Pertamina telah menandatangani nota kesepahaman dengan beberapa perusahaan energi asal AS, termasuk Chevron dan ExxonMobil untuk memastikan ketersediaan pasokan minyak dari luar kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengingatkan, gangguan paling cepat akan terasa pada jalur perdagangan internasional, terutama yang mengarah ke kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.
Shinta menjelaskan, penutupan Selat Hormuz serta larangan bagi kapal-kapal komersial untuk mendekat ke kawasan tersebut berisiko menghambat kelancaran arus barang.
“Dampak eskalasi konflik AS-Israel-Iran yang akan terasa paling langsung dan immediate untuk Indonesia adalah gangguan pada rute perdagangan, khususnya yang mengarah ke Timur Tengah dan sekitarnya karena saat ini Selat Hormuz ditutup dan kapal-kapal komersial dilarang mendekat,” ujar Shinta.
Perlindungan WNI
Sementara itu, Duta Besar RI di Iran Rolliansyah Soemirat mengungkapkan, pihaknya mengambil langkah taktis dengan menyediakan perlindungan serta akomodasi sementara yang lebih aman bagi enam warga negara Indonesia (WNI). Tiga di antaranya merupakan mahasiswa yang terimbas kebijakan otoritas kampus untuk mengosongkan asrama mahasiswa. Sedangkan tiga lainnya merupakan WNI yang memang mencari perlindungan ke kantor KBRI Teheran.
Diakuinya, hingga Senin (2/3), aksi saling serang antara Iran dan AS-Israel masih berlanjut. Namun, hampir seluruh serangan memiliki target yang spesifik. Sehingga ketika WNI menjauhi tempat-tempat strategis seperti kantor pemerintahan, markas Garda Revolusi, dan lain-lain diyakini akan relatif aman.
“Kami menginstruksikan dengan tegas kepada seluruh WNI untuk meningkatkan kewaspadaan, tetap berada di dalam kediaman masing-masing (stay indoors), dan menjauhi titik-titik kerumunan massa maupun lokasi yang bernilai strategis,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos Senin (2/3).
Berdasarkan pantauan intensif dan verifikasi lapangan, KBRI Teheran mengonfirmasi bahwa saat ini jumlah WNI di Iran mencapai 329 jiwa. Mayoritas merupakan mahasiswa. KBRI memastikan saat ini mereka berada dalam kondisi aman dan sehat. (agf/mia/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida