LombokPost - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI, Yassierli, mengeluarkan pernyataan menukik terkait nasib para pekerja di tanah air.
Ia menegaskan bahwa tugas perusahaan tidak boleh berhenti hanya pada memberikan pekerjaan dan upah, melainkan wajib menjadi wadah bagi karyawan untuk mengembangkan potensi dan keterampilannya.
Yassierli mengaku prihatin melihat fenomena pekerja yang telah mengabdi belasan hingga puluhan tahun namun posisi dan kemampuannya tetap di titik yang sama. Menurutnya, hal ini tidak boleh dianggap sebagai kewajaran dalam dunia kerja modern.
Baca Juga: Kemnaker Minta Daerah Siapkan Pos Pengaduan, Pencairan THR Paling Telat H-7 Lebaran
Strategi Jangka Panjang Perusahaan
Pengembangan pekerja, lanjut Menaker, bukan sekadar bentuk kepedulian sosial atau "kebaikan hati" pemberi kerja, melainkan sebuah strategi bisnis jangka panjang. Pekerja yang diberikan ruang untuk tumbuh akan memiliki keterikatan (engagement) yang jauh lebih kuat terhadap perusahaan.
“Ini harus kita pahami sebagai sebuah strategi. Ketika kita memberdayakan mereka, maka itu akan memberikan long-term effect bagi perusahaan,” ujar Yassierli dalam keterangannya, Selasa (10/3). Dengan pekerja yang berkompeten, perusahaan akan memiliki ketahanan yang lebih baik di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Baca Juga: Awas Terjebak Scam! Kemnaker Tegaskan BSU 2026 Belum Ada, Jangan Klik Tautan Pendaftaran Palsu!
Memanusiakan Pekerja: Belajar Komputer Bukan Hal Tabu
Menaker menekankan pentingnya membuat pekerjaan menjadi lebih bermakna (meaningful). Ia mencontohkan langkah nyata dengan mendorong pekerja di level operasional bawah untuk berani mempelajari hal baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Driver saya dorong untuk belajar komputer. Satpam dan OB juga saya dorong untuk belajar komputer. Karena kita tidak ingin mereka selamanya hanya berada di posisi itu,” tegasnya. Baginya, setiap individu memiliki potensi besar yang seringkali hanya butuh "pintu" untuk dioptimalkan.
Membangkitkan DNA Gotong Royong
Di tengah disrupsi teknologi dan perubahan dunia kerja yang sangat cepat, Yassierli mengajak seluruh pelaku industri untuk membangkitkan kembali nilai-nilai luhur bangsa.
Semangat kekeluargaan, musyawarah, dan gotong royong dianggap sebagai modal sosial yang kuat untuk menjaga keharmonisan hubungan industrial.
“Ada yang hilang dari DNA kita. Kita ini bangsa yang punya semangat gotong royong. DNA ini harus kita bangkitkan kembali,” tuturnya. Ia berharap nilai-nilai ini menjadi jembatan agar tidak ada lagi jarak yang terlalu lebar antara kemajuan perusahaan dan kesejahteraan serta perkembangan karier para pekerjanya.
Jasa Marga Jadi Percontohan
Menaker memberikan harapan khusus kepada PT Jasa Marga agar mampu menjadi pelopor dalam memanusiakan pekerja. Perusahaan besar diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas operasional, tetapi juga sungguh-sungguh menyiapkan pekerjanya menghadapi tantangan masa depan yang penuh ketidakpastian.
“Tantangan ke depan tidak mudah. Agility (kelincahan) menjadi kunci. Saya berharap Jasa Marga bisa menjadi contoh bagaimana perusahaan mempersiapkan pekerja menghadapi tantangan ke depan,” pungkasnya.
Editor : Pujo Nugroho