Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

RUPIAH DEKATI RP 17.000! Ekonom Sebut Terjadi "Overshoot" Akibat Gejolak Global, Masyarakat Diminta Tak Panik

Nurul Hidayati • Kamis, 12 Maret 2026 | 17:01 WIB

Pegawai menunjukan mata uang Dolar Amerika dan Rupiah di salah satu kantor cabang Bank Mandiri di Jakarta, Selasa (22/7/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Pegawai menunjukan mata uang Dolar Amerika dan Rupiah di salah satu kantor cabang Bank Mandiri di Jakarta, Selasa (22/7/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

LombokPost - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini berada di level psikologis yang cukup mengkhawatirkan, yakni mendekati angka Rp17.000.

Meski demikian, para ahli menilai pelemahan tajam ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi kesehatan ekonomi Indonesia yang sebenarnya.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyebut fenomena ini sebagai overshooting sebuah kondisi di mana pasar bereaksi berlebihan terhadap guncangan global sebelum nantinya kembali ke titik keseimbangan.

Reaksi Pasar Melampaui Fundamental

Menurut Fakhrul, ketegangan geopolitik yang melibatkan kekuatan besar dunia, kenaikan harga energi, serta penguatan dolar AS secara global telah menciptakan efek kejut. Dalam situasi ini, pasar keuangan cenderung bergerak jauh lebih cepat daripada data fundamental ekonomi.

“Rupiah sering terlihat melemah lebih dulu karena pasar bereaksi terhadap shock global. Namun, indikator dasar kita seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi yang terkendali, dan stabilitas sektor keuangan menunjukkan bahwa fondasi Indonesia masih cukup kuat,” ujar Fakhrul dalam keterangannya, Selasa (10/3).

Peluang di Tengah Tekanan

Menariknya, Fakhrul menilai bahwa posisi rupiah yang mendekati Rp17.000 secara historis sudah tergolong sangat rendah. Hal ini justru membuka peluang bagi para investor untuk melakukan aksi sebaliknya.

“Dalam kondisi seperti itu, sebagian investor justru bisa mempertimbangkan untuk menjual dolar karena penguatan rupiah bisa terjadi cukup cepat ketika sentimen global mulai stabil,” tambahnya.

DHE dan Cadangan Valas Jadi Benteng

Pemerintah saat ini terus memperkuat pasokan valuta asing melalui kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Langkah ini dinilai strategis untuk memperdalam pasar valas domestik sehingga Indonesia tidak lagi terlalu bergantung pada aliran modal jangka pendek yang mudah "lari" saat terjadi krisis.

Kredibilitas kebijakan ekonomi, termasuk disiplin fiskal dan pengendalian inflasi, menjadi kunci utama untuk menjaga kepercayaan pasar agar tidak terjadi kepanikan masal yang dapat merugikan nilai tukar lebih jauh.

Pesan untuk Pelaku Usaha

Pelemahan rupiah tentu menjadi perhatian serius bagi pelaku usaha, terutama yang bergerak di sektor impor atau pariwisata yang sangat sensitif terhadap kurs. Meski demikian, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa rupiah memiliki daya lentur yang baik. Begitu tekanan eksternal dari Timur Tengah dan kebijakan moneter AS mereda, mata uang Garuda biasanya mampu pulih lebih cepat dari perkiraan.

Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus memperkuat koordinasi untuk memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga, sehingga tidak mengganggu ekspektasi inflasi di tingkat konsumen.

Editor : Pujo Nugroho
#krisis global #Indonesia #geopolitik #Ekonomi #rupiah