Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

CARI KETENANGAN HIDUP! Abdul Mu’ti Ajak Umat Menepi dari Dunia Lewat I’tikaf di 10 Malam Terakhir Ramadan

Nurul Hidayati • Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:26 WIB

Puluhan orang I'tikaf di Islamic Center Mataram. (NURUL/LOMBOK POST)
Puluhan orang I'tikaf di Islamic Center Mataram. (NURUL/LOMBOK POST)

LombokPost - Memasuki fase krusial di 10 hari terakhir bulan Ramadan, umat Islam kini tengah bersiap menjemput malam Lailatul Qadar. Salah satu ibadah utama yang menjadi sorotan adalah i’tikaf.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, mengingatkan bahwa esensi i’tikaf bukan sekadar berdiam diri di masjid, melainkan sebuah upaya untuk "menepi" sejenak dari hiruk-pikuk dunia.

Ibadah yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW ini dinilai menjadi kunci untuk meraih ketenangan batin dan kejernihan berpikir di tengah kesibukan hidup yang kian kompleks.

Uzlah: Menjauh dari Kesibukan Duniawi

Merujuk pada firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 187, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa i’tikaf mengandung makna uzlah atau menghindarkan diri dari berbagai kesibukan duniawi.

“Kondisi uzlah ini penting dilakukan agar seseorang dapat menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Dengan begitu, kita akan memperoleh ketenangan batin, kejernihan berpikir, dan fokus dalam beribadah kepada Allah SWT,” jelas Mu’ti dalam siaran virtual, Jumat (13/3).

Selama menjalankan i’tikaf, umat Islam juga dianjurkan untuk menahan diri dari urusan biologis suami-istri demi menjaga kekhusyukan dan kesucian niat selama berada di rumah Allah.

Masjid Sebagai Pusat Ketenangan

Secara fikih, Abdul Mu’ti memaparkan bahwa mayoritas ulama bersepakat i’tikaf dilaksanakan di masjid.

Hal ini sesuai dengan kebiasaan Rasulullah SAW yang selalu menghabiskan 10 hari terakhir Ramadan dengan menetap di masjid untuk memperbanyak zikir dan doa.

“Dengan berzikir, beritikaf, dan melaksanakan ibadah dengan niat semata-mata mengharap rida Allah, maka kita akan memperoleh ketenangan hidup yang sejati,” tambahnya.

Bekal Spiritual untuk Pasca-Ramadan

Lebih jauh, Mu’ti mengajak umat Islam untuk menutup bulan suci ini dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih.

I’tikaf diharapkan menjadi momen "pengisian daya" spiritual yang kuat bagi umat muslim untuk menjalani bulan-bulan berikutnya.

Melalui momen refleksi ini, diharapkan semangat spiritualitas yang terpupuk di masjid dapat terbawa dalam kehidupan sehari-hari, sehingga umat Islam dapat menjadi pribadi yang lebih sabar, tenang, dan bijaksana dalam menghadapi dinamika sosial.

Persiapan I’tikaf di Mataram

Di wilayah Mataram dan sekitarnya, sejumlah masjid besar seperti Masjid Raya Hubbul Wathan (Islamic Center NTB) biasanya mulai dipadati jemaah yang melaksanakan i’tikaf sejak malam ke-21.

Jamaah dihimbau untuk menjaga kesehatan fisik dan kebersihan area masjid selama beribadah agar kekhusyukan tetap terjaga hingga akhir Ramadan.

Editor : Kimda Farida
#ramadan #masjid #I'tikaf #lailatul qadar #10 malam terakhir