LombokPost - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) kembali mengevakuasi sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dari Iran.
Evakuasi gelombang kedua dilakukan sama seperti gelombang pertama, yakni diterbangkan dalam dua tahap ke Tanah Air.
Plt Direktur Perlindungan WNI Kemenlu Heni Hamidah menyebut, evakuasi gelombang kedua diikuti 34 WNI.
Tahap pertama sebanyak 20 orang telah tiba Jumat (13/1) petang melalui Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.
“Besok (hari ini) 14 orang akan tiba di Jakarta dengan jadwal yang sama,” ujarnya dalam press briefing Kemenlu di Kantor Kemenlu, Pejambon, Jakarta, Jumat (13/3).
Kemenlu masih membuka opsi evakuasi tahap berikutnya.
Namun, proses akan disesuaikan dengan asesmen keamanan di Iran dan situasi WNI di sana, mengingat evakuasi juga perlu memperhatikan kesiapan serta kesediaan WNI.
Heni juga menyampaikan, perkembangan terkait WNI tertahan di Timur Tengah akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Jumlahnya diperkirakan ada enam ribu lebih.
Namun, sebagian dari mereka telah berhasil dipulangkan ke Tanah Air secara bertahap sesuai dengan kondisi jalur penerbangan maupun ruang udara yang terbuka.
“Memang yang paling banyak ini yang stranded di Jeddah untuk jamaah umrah, dan ini pun secara bertahap kita difasilitasi untuk pemulangan,” paparnya.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah, Indonesia Harus Prioritaskan Keselamatan WNI
Pendekatan Diplomatik
Sementara itu, mengenai dua kapal Pertamina yang masih terjebak di Selat Hormuz, Juru Bicara I Kemenlu Yvonne Mewengkang menekankan bahwa pemerintah melalui KBRI Teheran terus melakukan komunikasi dengan otoritas Iran.
Pendekatan diplomatik dilakukan secara intensif untuk memastikan kedua kapal Indonesia dapat melewati Selat Hormuz dengan aman.
“Kita akan terus push pendekatan diplomatik yang intensif terkait isu spesifik ini,” ujarnya.
Pemerintah Iran telah membuka peluang dibukanya Selat Hormuz bagi kapal-kapal dari negara yang mengusir dubes-dubes negara yang menyerang Iran.
Ditanya soal kemungkinan Indonesia menempuh jalur tersebut, Juru Bicara II Kemenlu Vahd Nabyl Achmad Mulachela tak memberikan jawaban tegas.
“Artinya, kita di sini berusaha untuk balance dan mengupayakan agar apapun yang dihasilkan itu tujuannya untuk deeskalasi, mengurangi konflik, dan kembali ke jalur diplomasi,” katanya. (mia/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida