Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bukan 2 Derajat Lagi! Kenali Kriteria Baru Hilal MABIMS yang Bikin Penentuan Ramadan dan Lebaran Lebih Akurat

Marthadi • Kamis, 19 Maret 2026 | 18:51 WIB

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag Arsad Hidayat. (mui.or.id)
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag Arsad Hidayat. (mui.or.id)
LombokPost – Masih bingung kenapa tanggal awal puasa atau Lebaran kadang beda-beda? Hentikan perdebatan tak berujung, karena kini ada "pagar" baru yang lebih kokoh dan ilmiah untuk menentukan awal bulan Hijriah di Indonesia!

Penentuan awal bulan kamariah di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kini semakin presisi berkat kesepakatan negara-negara anggota MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Kriteria lama yang selama ini kita kenal telah ditinggalkan karena dianggap sudah tidak lagi realistis dengan perkembangan ilmu astronomi modern.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag Arsad Hidayat mengungkapkan bahwa sejak tahun 1992, MABIMS sebenarnya telah menggunakan parameter 2-3-8.

Namun, data terbaru menunjukkan bahwa pada posisi hilal yang hanya 2 derajat dengan elongasi kecil, sabit bulan sangat tipis dan hampir mustahil diamati karena tertutup cahaya syafak.

"Pada ketinggian sekitar 2 derajat dengan elongasi 3 derajat, hilal masih sangat tipis, sehingga peluang terlihatnya sangat kecil," jelas Arsad sebagaimana dikutip MUI Digital dalam laman resmi mui.or.id, Kamis (19/3/26).

Kriteria Baru yang Lebih "Nendang" Setelah melalui kajian ilmiah panjang yang melibatkan para pakar falak dan astronom, MABIMS akhirnya sepakat menetapkan standar baru yang lebih masuk akal secara astronomis.

Kini, hilal dinyatakan sah jika memenuhi syarat:

- Tinggi hilal minimal 3 derajat.
- Elongasi minimal 6,4 derajat.

Parameter ini diambil berdasarkan kompilasi data rukyat global yang membuktikan bahwa ketebalan sabit bulan dan posisinya dari ufuk adalah faktor kunci hilal bisa terlihat atau tidak.

Sudah Berlaku di Indonesia Jangan salah, kriteria baru ini sebenarnya sudah mulai diterapkan di Indonesia sejak tahun 2022 lalu.

Penggunaan standar yang sama di tingkat regional ini bertujuan agar penetapan awal bulan hijriah di negara-negara tetangga menjadi lebih seragam dan meminimalisir perbedaan yang mencolok.

Meski kriteria hisab (perhitungan) sudah disepakati, Arsad menegaskan bahwa pemerintah tetap akan melakukan verifikasi melalui rukyat (pengamatan) lapangan sebelum diputuskan dalam sidang resmi.

"Langkah ini menjaga keseimbangan antara pendekatan ilmiah dan pertimbangan syar’i," tambahnya.

Dengan kriteria 3-6,4 ini, diharapkan kalender hijriah ke depan menjadi lebih tertib, akurat, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh umat Muslim.

Jadi, mulai sekarang, jangan kaget lagi ya kalau standar hilalnya sudah naik kelas!

Editor : Marthadi
#Kriteria Baru Hilal #Hilal MABIMS #Awal bulan Hijriah #Sidang Isbat #Penentuan Ramadan