Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Baru Mulai, Kemarau Sudah Picu Kenaikan Karhutla

Redaksi • Rabu, 8 April 2026 | 10:38 WIB
Kepala BMKG Prof. Teuku Faisal Fathani menjelaskan, Indonesia mempunyai 699 zona musim (ZOM). (BMKG)
Kepala BMKG Prof. Teuku Faisal Fathani menjelaskan, Indonesia mempunyai 699 zona musim (ZOM). (BMKG)

 LombokPost - Kemarau tahun ini tidak bersahabat. Durasinya panjang karena hadir lebih awal.

BMKG menyebutnya sebagai kemarau terhebat sepanjang 30 tahun terakhir.

Kepala BMKG Prof. Teuku Faisal Fathani menjelaskan, Indonesia mempunyai 699 zona musim (ZOM).

Baca Juga: Mulai Antisipasi Dampak El Nino, El Nino Ektrem Berpotensi Sebabkan Karhutla

Sebagian besar dari ZOM tersebut di tahun ini mempunyai rata-rata hujan yang lebih rendah dibandingkan tren yang sama sepanjang 30 tahun terakhir.

Data BMKG menyebutkan, ada 451 ZOM atau 64,5 persen yang mempunyai curah hujan di bawah normal.

Indikator lain kuatnya musim kemarau tahun ini adalah, ada 400 ZOM (57,2 persen) yang durasi musim kemaraunya lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Baca Juga: 10 Hektar Lahan Terbakar di Kawasan Rinjani, Tim Gabungan Tanggap Cepat Atasi Karhutla

"Musim kemarau akan dimulai dari Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, kemudian bergerak ke arah barat," katanya, Selasa (7/4).

Faisal menambahkan, musim kemarau dimulai bulan ini sampai Mei depan.

Puncaknya terjadi pada Agustus, lalu berakhir pada September hingga awal Oktober.

Baca Juga: BMKG Imbau Masyarakat Waspadai Karhutla dan Masyarakat Mulai Minta Bantuan Air Bersih, Provinsi NTB Siaga Darurat Kekeringan

Secara garis besar, dia menuturkan, kemarau musim ini datang lebih cepat.

Lemah hingga Moderat

Belum lagi ada pengaruh gelombang El Nino, yang membuat udara kering serta minim pembentukan awan. “El Nino ini juga kita pantau. Saat ini, (El Nino) masih lemah hingga moderat," jelas Faisal.

Terpisah, Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, sepanjang tahun ini, luasan karhutla sudah mencapai sekitar 32.600 hektare. Pada periode yang sama tahun lalu, karhutla dilaporkan hanya terjadi di 1.617 hektare. "Artinya, terjadi peningkatan berlipat-lipat," katanya di Jakarta, Selasa (7/4).

Saat ini, lanjut Hanif, adalah waktu yang tepat untuk menggeber pencegahan karhutla. Sebab, mengejar puncak musim kemarau yang terjadi Agustus sampai September depan.

Sampai dengan 5 April lalu, terpantau sekitar 700 titik panas. Jumlah ini meningkat dari periode yang sama tahun lalu, di angka 260 titik panas. (wan/ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi
#bmkg #kemarahan #lingkungan hidup #karhutla #elaksasi transportasi