LombokPost - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai memberikan ancang-ancang jadwal pelaksanaan Muktamar NU.
Agenda tersebut direncanakan berlangsung antara Juli-Agustus.
Persiapan pun mulai berjalan, meski dinamika menjelang hajatan akbar itu masih terus berkembang.
Baca Juga: PWNU NTB Siap Jadi Tuan Rumah Muktamar NU ke-35
Selain kepastian susunan kepanitiaan, PBNU juga belum menetapkan lokasi pelaksanaan Muktamar ke-35 tersebut.
Terkait kepanitiaan, sempat beredar dokumen susunan panitia muktamar yang menyebut Saifullah Yusuf sebagai ketua pelaksana.
Namun, hingga kini susunan tersebut dipastikan belum final.
Baca Juga: Islah di Lirboyo! Konflik PBNU Berakhir, Rais Aam dan Ketua Umum Sepakat Gelar Muktamar Bersama
Ketua PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa keputusan mengenai kepanitiaan dan hal lainnya harus melalui Musyawarah Nasional (Munas) terlebih dahulu, yang rencananya digelar bulan ini.
”Jadi belum ada SK. Tapi prosesnya (untuk muktamar) jalan terus,” ujarnya saat diwawancarai di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (10/4).
Hal yang sama juga berlaku untuk penentuan lokasi muktamar. Hingga kini belum ada keputusan resmi, meski sejumlah usulan sudah mengemuka.
Baca Juga: Konflik PBNU Mereda: Gus Yahya Siap Islah dengan Rais Aam, Muktamar Dipersiapkan Ulang
”Misalnya, saat kami sowan kepada KH Nurul Huda Djazuli (pengasuh Ponpes Ploso Kediri) yang mengusulkan tempatnya di sana,” ungkapnya.
Selain itu, saat berkunjung ke Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, pengasuh KH M Anwar Mansyur juga mengusulkan agar muktamar digelar di Kediri.
”Lalu ada usul lain (digelar) di Surabaya, di Jakarta. Semua itu baru usulan,” ucap pria berusia 60 tahun tersebut.
Terkait kemungkinan dirinya kembali mencalonkan diri, Gus Yahya belum memberikan kepastian. Namun, dari berbagai kabar yang beredar, dia disebut-sebut bakal kembali maju.
Sebelumnya, Gus Yahya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2021-2026 dalam Muktamar ke-34 di Lampung.
Di tengah masa kepengurusannya, dinamika internal PBNU sempat memanas pada November-Desember 2025.
Situasi tersebut dipicu keputusan jajaran syuriah yang memberhentikan Gus Yahya dari jabatannya. Dinamika kemudian melebar hingga sempat memunculkan dualisme, sebelum akhirnya terjadi islah di antara seluruh pihak. (raf/ris/jpg/r1)
Editor : Redaksi