Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Suhu di Tanah Suci 36 Derajat Celcius

Redaksi • Selasa, 28 April 2026 | 09:42 WIB
RUKUN ISLAM KELIMA: Para JCH asal NTB sudah tiba di Madinah, untuk melaksanakan ibadah sebelum puncak Haji, belum lama ini. (KEMENHAJ NTB FOR LOMBOK POST)
RUKUN ISLAM KELIMA: Para JCH asal NTB sudah tiba di Madinah, untuk melaksanakan ibadah sebelum puncak Haji, belum lama ini. (KEMENHAJ NTB FOR LOMBOK POST)

LombokPost - Hingga Ahad (26/4) pukul 18.00 WIB, sebanyak 1.945 jamaah calon haji (JCH) NTB telah diberangkatkan ke Tanah Suci. Mereka didampingi 20 petugas sehingga total keseluruhan mencapai 1.965 orang.

“Seluruh kursi penerbangan terisi penuh tanpa adanya open seat,” terang Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) NTB Lalu Muhamad Amin, tadi malam (27/4).

Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas 1 Mataram terus melakukan pemantauan intensif, terhadap kondisi kesehatan JCH asal NTB yang kini berada di Madinah.

Baca Juga: Jamaah Haji Lombok Tak Perlu Khawatir Putus Komunikasi saat di Tanah Suci, XLSMART Siapkan Paket Haji Mulai Rp355 Ribu dengan Kuota Besar

Memasuki fase awal ibadah, faktor kelelahan dan adaptasi lingkungan menjadi tantangan utama bagi para jamaah, khususnya lansia.

Ketua Tim Kerja 4 BKK Kelas 1 Mataram dr Ferry Wardhana mengungkapkan saat ini risiko kesehatan yang paling banyak ditemui pada lima kloter awal adalah kelelahan fisik.

Hal ini diperparah oleh keinginan jamaah untuk mengejar ibadah Arbain, tanpa mengukur kemampuan tubuh. “Risiko kesehatan banyak muncul saat tiba karena kelelahan, ditambah keinginan mengejar Arbain,” jelasnya.

Baca Juga: 70 Persen Jamaah Haji Mataram Masuk Kategori Risti, Dikes Perketat Pengawalan Medis dan Obat-obatan

Selain itu, banyak jamaah yang merasa kurang sehat karena tidak terbiasa dengan makanan yang disajikan, mengingat perbedaan menu antara di Lombok dan di Madinah.

Ferry juga menyoroti fenomena jamaah lansia yang mulai mengalami kebingungan. Perubahan lingkungan yang drastis serta kerumunan massa yang besar membuat banyak jamaah lansia kehilangan arah hingga tersesat. 

Menurutnya, kondisi tersebut bukan murni demensia, melainkan penurunan kognitif yang dipicu oleh faktor usia, kelelahan, dan penyakit penyerta (komorbid). 

Baca Juga: Ratusan Jamaah Calon Haji KLU Berangkat Mei Mendatang

Penurunan kognitif ini sering diperburuk oleh penyakit komorbid seperti hipertensi atau diabetes. Bahkan, dr Ferry mencatat adanya insiden jamaah yang terjebak di dalam lift karena belum terbiasa menggunakan fasilitas teknologi tersebut di hotel tempat mereka menginap.

Tantangan lain yang harus dihadapi jamaah adalah suhu udara di Arab Saudi yang kini menyentuh angka 35 hingga 36 derajat Celsius.

Ferry menganalogikan cuaca tersebut serupa dengan kondisi panas di wilayah Sape dan Bima pada saat cuaca terik. 

“Kami melalui tim kesehatan terus berkeliling mengingatkan jamaah, kalau kondisi kurang bagus dan lelah, tidak usah mengejar Arbain. Minum obat juga jangan sampai telat," tegasnya.

Terkait terbatasnya personel medis yang hanya didampingi oleh satu dokter dan satu perawat, dr. Ferry mengakui hal tersebut sebagai tantangan besar.

Mengingat profil jamaah haji tidak berubah, yakni didominasi kategori risiko tinggi (risti) dan penderita penyakit komorbid, strategi promosi kesehatan menjadi kunci. 

Dengan pengurangan tenaga kesehatan, tantangannya adalah petugas harus lebih gencar melakukan promosi kesehatan. “Kalau mengandalkan pengobatan saja hampir tidak mungkin," katanya. 

Sebagai solusi, pihak BKK Kelas 1 Mataram mendorong petugas kesehatan kloter untuk memberdayakan jamaah haji lain yang memiliki latar belakang profesi medis, seperti dokter atau bidan untuk saling membantu.

“Kami di Mataram akan terus memantau dan melakukan follow-up setiap hari untuk memastikan kondisi jamaah tetap terpantau,” tandasnya.

Ibadah Arbain

Hal senada disampaikan Petugas Bimbingan Ibadah (Bimbad) Daerah Kerja (Daker) Bandara Anis Diyah Puspita. Dia mengimbau JCH tidak memaksakan diri menjalani ibadah Arbain, khususnya yang sudah lansia atau memiliki risiko tinggi (risti) secara kesehatan.

Anis menegaskan bahwa Arbain itu bukan rukun haji. "Nanti rukun haji sepenuhnya ada di Kota Makkah, khususnya saat pelaksanaan wukuf di Arafah," katanya dalam keterangan tertulis Senin (27/4).

Anis mengatakan, jamaah, khususnya yang lansia dan berisiko tinggi secara kesehatan, diharapkan tidak memaksakan diri menjalankan Arbain. Meskipun secara jarak hotelnya sangat dekat, kondisi di Masjid Nabawi tetap cukup padat, apalagi saat jam salat rawatib.

"Salat Arbain bukan sesuatu yang harus dituntut kepada jemaah. Yang terpenting adalah menjaga kondisi agar tetap prima untuk puncak haji," ujar Anis.

Menurutnya, jangan sampai keinginan menuntaskan 40 waktu salat di Masjid Nabawi justru membuat jemaah kelelahan dan sakit ketika menghadapi wukuf di Arafah. Padahal, wukuf merupakan rukun haji yang tidak dapat ditinggalkan.

Sampai dengan 27 April, lebih dari 30 ribu jamaah Indonesia tiba di Madinah. Setelah delapan atau sembilan hari, mereka akan diberangkatkan ke Makkah.

Sedangkan untuk jamaah haji gelombang kedua, mereka mengambil rute dari tanah air langsung ke Jeddah, kemudian naik bus ke Makkah. Jemaah gelombang kedua diterbangkan mulai 7 Mei. (yun/wan/ttg/JPG/r3) 

Editor : Redaksi
#Tenaga Kesehatan #Jamaah Haji #NTB #tantangan #medis